Mari Rutin Periksa Payudara Sendiri

Oleh Dinny Mutiah pada 01 Agu 2019, 00:04 WIB
Diperbarui 01 Agu 2019, 00:04 WIB
Merawat Payudara
Perbesar
Ilustrasi Foto Merawat Payudara (Istockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Apakah Anda rutin memeriksa kondisi payudara sendiri setiap bulan? Jika tidak, berarti Anda termasuk kebanyakan perempuan di Indonesia. Meski banyak yang mengetahui pentingnya memeriksakan payudara, hal tersebut belum menjadi kebiasaan.

"Mereka sekadar aware, tapi belum dilaksanakan. Seperti Sadari (periksa payudara sendiri), pasti ditunda," ujar Ketua Lovepink, komunitas penyintas kanker payudara, Samantha Barbara, dalam jumpa pers Indonesia Goes Pink di Jakarta, Rabu, 31 Juli 2019.

Menurut dia, keengganan perempuan untuk rutin memeriksa payudara sendiri didominasi ketakutan. Mereka takut menerima kenyataan bila ada yang tak beres dengan kesehatan mereka.

Padahal, pemeriksaan itu bisa mendeteksi kanker sejak dini. Dengan begitu, biaya yang dikeluarkan akan lebih ringan dan harapan hidup lebih panjang.

"Mending keluarkan sekitar Rp1 juta-Rp5 juta setahun daripada investasi Rp1,5 miliar tapi belum tentu cukup untuk ngobatin penyakit," ucapnya.

Sadari, sambung dia, semestinya dilakukan setiap bulan sekali. Waktunya, tujuh hingga 10 hari setelah hari pertama menstruasi. Saat itu, hormon perempuan sudah kembali normal sehingga pengecekan benjolan tak biasa.

"Sejak akil baligh, dapat mens pertama, perempuan semestinya sudah melakukan Sadari. Di luar negeri, anak SMA itu sudah rutin," kata dia.

Sementara yang berbayar adalah melakukan USG dan mamograf setidaknya sekali setahun. Masing-masing memiliki fungsi yang saling melengkapi. USG bisa dilakukan oleh semua usia, sedangkan mamograf direkomendasikan untuk perempuan yang berusia 35 tahun ke atas.

"Kenapa usia 35, karena sebelum usia 35, payudara masih kencang sehingga alatnya hanya bisa melihat putih saja," ujar Barbara.

2 dari 3 halaman

Harus Berolahraga

Mari Rutin Periksa Payudara Sendiri
Perbesar
Jumpa pers Indonesia Goes Pink 2019 untuk mengkampanyekan tentang bahaya kanker payudara. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Di sisi lain, para penyintas kanker payudara tak boleh melewatkan olahraga. Ahli kesehatan masyarakat Universitas Indonesia (UI), Prof. Hasbullah Thabrani menyarankan para penyintas rutin berolahraga seminggu tiga kali.

"Olahraga itu kan untuk menggerakkan seluruh tubuh. Tapi, banyak stigma yang justru melemahkan para penyintas kanker payudara, padahal mereka tak boleh patah semangat," katanya.

Jenis olahraganya disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing individu. Bila memang sudah di atas usia 35 tahun atau obesitas, lari tak disarankan. Sebagai gantinya, Anda bisa berenang atau bersepeda.

"Karena, ketika berlari, bobot kita menekan sendi empat kali lipat. Jadi kalau bobotnya 50 kilogram, sendi itu menahan beban 200 kilogram," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓