Sepatu Sneakers Berbahan Limbah Kopi Pertama di Dunia

Oleh Dinny Mutiah pada 26 Jul 2019, 04:01 WIB
Diperbarui 28 Jul 2019, 01:13 WIB
Biji Kopi

Liputan6.com, Jakarta - Tahukah Anda bila dua miliar cangkir kopi diminum setiap hari di dunia? Terbayangkah berapa banyak limbah yang dihasilkan akibatnya? Pasal, tidak semua kopi ludes dikonsumsi semua orang.

Dilansir laman weforum.org, Kamis, 25 Juli 2019, sekitar sepertiga kopi yang diproduksi akan dibuang percuma. Menyadari masalah itu, dua pengusaha yang berbasis di Helsinki, Finlandia, memanfaatkan limbah kopi untuk dibuat sneakers.

Son Chu dan Jesse Tran mengaku terobsesi pada sneakers. Di sisi lain, mereka punya perhatian lebih terhadap isu lingkungan hidup. Mereka tak bisa menemukan sneakers yang terbuat dari bahan berkelanjutan sekaligus modis dan bisa diperoleh dengan harga terjangkau.

Akhirnya, mereka menciptakan produk impian itu sendiri. Brand sepatu yang dinamai Rens itu terbuat dari limbah biji kopi dan sampah plastik daur ulang.

Sekitar 460gram--300gram dari berat sepasang sepatu terbuat dari kopi. Sepasang sneakers itu juga menggunakan enam plastik botol daur ulang untuk memproduksi per pasangnya. Kombinasi kedua material itu menghasilkan bahan yang ringan sekaligus kuat untuk digunakan sebagai alas kaki.

2 dari 3 halaman

Manfaat Tambahan

Sepatu Sneakers Berbahan Limbah Kopi Pertama di Dunia
Rens, brand sepatu sneakers berbahan limbah kopi. (dok. Instagram @rensoriginal/https://www.instagram.com/p/Bz-8eBKhhR7/Dinny Mutiah)

Tak hanya ringan dan kuat, penggunaan limbah kopi ternyata mendatangkan manfaat lain, yakni membantu mengurangi bau tak sedap pada sepatu. Hal tersebut tentunya banyak dicari para pengguna sneakers.

Dengan bahan alami, Rens menyebut sepatunya sebagai produk vegan. Konsumennya kini tersebar di 57 negara. Namun, ada kegundahan yang dirasakan para pendiri. Hal itu berkaitan dengan sumber limbah kopi dan proses produksi sepatu yang hingga kini masih dikerjakan di Tiongkok.

Mereka berambisi untuk memindahkan pabriknya ke kampung halaman mereka di Vietnam. "Kami hanya ingin membuat sneakers terbaik, sesuatu yang secara teknik terdepan dan berkelanjutan," kata Tran.

Ia menambahkan, "Kami datang ke Finlandia untuk belajar. Tetapi, sangat penting bagi kami bila proses manufaktur itu akhirnya pindah ke negara asal kami - di sana ada pertumbuhan pesat di bidang manufakturing dan investasi dan kami ingin menjadi bagian dari itu.".

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓