Resmi Rilis, Angkie Yudistia Beberkan Cara Jadi Sociopreneur di Buku ke-3

Oleh Asnida Riani pada 06 Jul 2019, 16:00 WIB
Diperbarui 06 Jul 2019, 16:16 WIB
Angkie Yudistia

Liputan6.com, Jakarta - 2019 jadi penanda 10 tahun CEO Thisable Enterprise, Angkie Yudistia, bekerja sebagai seorang sociopreneur. Ibu dua anak yang semula tak tahu tengah melakukan pekerjaan tersebut menandai momentum ini dengan merilis buku ke-3 berjudul "Become Rich as a Socio-preneur".

"Rich ini tentu bukan bermaksud cuan (untung) saja. Tapi, lebih ke bagaimana juga kaya secara lahir dan batin karena bekerja sebagai sociopreneur," kata Angkie di acara rilis buku karyanya di Scenic Resto and Lounge di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat, 5 Juli 2019.

Sejak terjun langsung ke dunia komunitas disabilitas pada 2009, Angkie merasa punya banyak teman seperjuangan, walau dengan layar belakang pendidikan berbeda. Ketertarikan mengembangkan isu disablilitas membuat perempuan 32 tahun tersebut terus belajar, bahkan sampai ke luar negeri.

"Aku sempat ikut pertemuan se-Asia Pasifik di Bangkok untuk mempelajari ilmu disabilitas. Lanjut mendatangi undangan Kedutaan Besar Amerika Serikat buat belajar ilmu yang sama dalam skala global," tutur Angkie Yudistia.

Pengalaman demi pengalaman yang diraih selama memperdalam isu disabilitas kemudian Angkie tuangkan dalam buku yang merupakan karya ke-3. Karena berbicara praktik, Angkie mengaku melakukan riset dalam menyusun buku.

"Aku juga flashback pengalaman, browsing, dan berdiskusi. Itu perlu berbulan-bulan lamanya hingga buku ini berhasil diterbitkan," tambah Angkie Yudistia.

2 of 3

Sociopreneur di Mata Angkie Yudistia

Angkie Yudistia
Peluncuran buku ketiga Angkie Yudistia, Become Rich as a Sociopreneur, di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, 5 Juli 2019. (dok. tim Angkie Yudistia)

Terkait sociopreneur, Angkie Yudistia berpendapat perkembangannya di Indonesia akan kian menjanjikan. "Khususnya untuk generasi muda. Karena mereka juga berusaha memecahkan masalah atau ketidakseimbangan yang terjadi di masyarakat," kata Angkie.

Dengan berbisnis untuk kepentingan sosial, seorang sociopreneur Indonesia membutuhkan modal, business plan, dan sistem pemasaran yang jelas dan efektif agar berjalan konsisten sampai bertahun-tahun lamanya.

"Makin ke sini banyak yang berminat jadi sociopreneur. Saat ditanya, jawabannya beragam. Salah satu polling terbanyak adalah ingin melakukan sesuatu yang lebih baik. Bagi mereka, senyum di wajah orang-orang yang mereka bantu merupakan suatu kekayaan yang sangat bernilai," papar Angkie.

Keberhasilan seorang sociopreneur tak semata dipandang dari keuntungan, tapi juga dampak yang dihasilkan dari usaha tersebut. "Tapi, seorang sociopreneur sama seperti entrepreneur lainnya, harus pandai berhitung. Memiliki modal untuk usaha dan harus menghasilkan keuntungan demi mengembangkan usahanya," tambahnya.

Trik-trik tersebut Angkie tuliskan secara detail di buku ketiganya yang sudah bisa didapatkan di seluruh Gramedia di seluruh Indonesia dengan harga Rp75 ribu.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓