Kuliner Malam Jumat: Bakso Kaki Lima di Tebet yang Selalu Ramai Pengunjung

Oleh Asnida Riani pada 20 Jun 2019, 21:04 WIB
Diperbarui 20 Jun 2019, 21:04 WIB
Kuliner Jakarta

Liputan6.com, Jakarta - Harum aroma kaldu sapi sejenak 'menenggelamkan' fungsi indra lain, membuat kepala otomatis menoleh ke sumber bau nan menggugah selera. Godaannya berujung pada bayangan akan lezat semangkuk bakso hangat di tengah ramai kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Sudah jadi rahasia umum bahwa wilayah ini adalah satu dari sekian banyak titik 'harta karun' ketika berbicara tentang berburu kuliner di Ibu Kota. Yang masih jadi primadona sampai sekarang adalah Bakso Gondrong.

Kedai bakso kaki lima yang berlokasi dekat Stasiun Tebet ini tak pernah sepi pengunjung. Jika tengah ramai-ramainya, Anda bahkan tak bisa melihat gerobak penjual karena saking dipenuhi orang.

Lezat semangkuk bakso ini membuat tak sedikit orang rela antre berjam-jam. Awalnya cuma warga sekitar Tebet, tapi sekarang pelanggan Bakso Gondrong datang dari tempat-tempat di seantero Jakarta dan sekitarnya.

Menu yang disajikan sederhana, yakni mi kuning keriting, bisa juga ditambah sohun, dilengkapi sawi hijau dan taoge, bakso sapi berukuran kecil, tahu cokelat atau putih, serta bakso besar entah berisi telur maupun urat, yang disiram kuah kaldu.

Gondrong, sang pemilik kedai, mengatakan bahwa pemakaian daging sapi asli dinilai sebagai alasan di balik ramai kedai bakso kaki lima miliknya.

"Setiap hari saya masih ke pasar (pukul) satu pagi, pilih daging sendiri, digiling sampai dibuat bakso," katanya ketika ditemui Liputan6.com di kedai miliknya di Tebet, Jakarta Selatan, Senin, 17 Juni 2019.

Di samping, Gondrong juga sangat cermat memperhatikan takaran bumbu yang menambah sedap bakso bikinannya. Gondrong mengatakan, dalam pembuatan, kebersihan bahan sampai jadi bakso turut jadi perhatian utama.

2 dari 3 halaman

Sudah Jualan Selama 23 Tahun

Kuliner Jakarta
Bakso Gondrong, Tebet, Jakarta Selatan. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Bakso Gondrong nyatanya sudah eksis sejak 23 tahun lalu. Gondrong bercerita, ia sudah berjualan dari tahun 1996. "Tidak lama setelah lulus SMP, saya langsung ke Jakarta. Mengadu nasib, jualan bakso," cerita lelaki asal Karanganyar, Jawa Tengah, tersebut.

"Keluarga, teman saya, semua jualan bakso. Jadi, saat itu yang saya tahu cuma jualan bakso. Resep dasar sudah tahu, tapi saya olah lagi sampai ketemu rasa yang kayak sekarang," paparnya.

Tiga tahun awal, ia menjajakan bakso dengan berkeliling daerah Tebet dari pukul 08.00-20.00 WIB. Gondrong bercerita, dirinya hanya mangkal di beberapa tempat, termasuk lokasi berjualan sekarang.

"Habis itu jalan terus dari pagi sampai malam. Kalau ada yang panggil, baru berhenti," ceritanya. Hal ini terus dilakukan sampai setiap kali berhenti di lokasi berjualan sekarang, baksonya selalu laris. "Akhirnya memutuskan ya sudah diam sini saja," tambahnya.

Tahun-tahun berlalu, pelanggan Bakso Gondrong pun bertambah. Hingga kini telah dibantu enam orang karyawan, kedai bakso pinggir jalan ini setiap harinya bisa menjual ratusan porsi. "Jadi, omzetnya bisa dikalikan sendiri ya," ujarnya.

Buka setiap hari pukul 10.30-21.00 WIB, satu porsi Bakso Gondrong, lengkap dengan bakso pilihan, urat atau telur, dibanderol Rp 19 ribu. "Harga terjangkau tetap saya jaga tanpa mengurangi kualitas bahan yang dipakai," tutup Gondrong.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

Jangan Sembarangan Habiskan, Ini Tips Kelola THR