Generasi Milenial Menggapai Berbagai Kebutuhan dengan Sistem Digital

Oleh Liputan6.com pada 11 Apr 2019, 22:37 WIB
Diperbarui 14 Apr 2019, 02:36 WIB
Generasi milenial

Liputan6.com, Jakarta - Istilah generasi milenial memang sedang akrab terdengar belakangan ini. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.Para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.

Generasi milenial dirasa memiliki banyak perbedaan signifikan dengan generasi sebelumnya dari segala aspek. Generasi ini dikenal dengan generasi instan karena lebh suka segala sesuatu dengan cepat. Ada beberapa masalah soal keuangan yang sering dialami oleh milenial.

Mulai dari membuat anggaran, hitungan soal berapa banyak yang dihabiskan, berapa banyak yang sebenarnya yang didapatkan tiap bulannya, serta berapa banyak yang akan ditabung. Karena itu, investasi tetap merupakan hal yang sangat penting.

Pilihan investasi untuk membiakkan aset semakin hari kian beragam. Terutama di era digital saat ini, instrument investasi bertambah luas dengan hadirnya cryptocurrency alias mata uang kripto yang hadir dengan beragam titel, di antaranya Bitcoin. Imbal hasil Bitcoin pun mampu mengalahkan berbagai sarana investasi lawas.

Elemen digital yang menjadi bagian tak terpisahkan mata uang kripto memang membuatnya lekas akrab dengan generasi milenial yang akrab dengan dunia maya. Hal tersebut disampaikan oleh Gabriel Rey, Founder dan CEO Triv.co.id platform exchanger mata uang kripto serta TPRO.co.id, platform marketplace mata uang kripto.

"Mata uang kripto adalah salah satu instrument investasi yang melesat. Maka untuk kalangan milenial sangat cocok berinvestasi di mata uang kripto terutama Bitcoin karena pertumbuhan mata uang bitcoin yang bisa mencapai 56,3% per tahun," jelas Gabriel Rey, dalam rilis yang diterima Liputan6.com.

Hal tersebut disampaikan oleh Gabriel Rey, dalam pemaparannya pada “The TrivShow, Roadshow 2019” dengan topik peluang dan tantangan perdagangan aset kripto di Indonesia pada Sabtu, 30 Maret 2019 di Kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Menurut Rey, kalangan milenial cenderung agresif untuk melakukan investasi. Karakter itu dirasakan cocok dengan investasi pada mata uang kripto. Milenial kerap melihat ideologis atau background instrument investasinya terlebih dulu.

2 of 3

Cocok untuk Milenial

The TrivShow, Roadshow 2019
The TrivShow, Roadshow 2019 di Jakarta. foto: istimewa

"Misalnya produk investasinya bagus tetapi mereka tidak suka, maka mereka tidak akan invest. Karena itu Bitcoin ini dinilai cocok untuk milenial karena tidak diatur oleh bank sentral dan aset tidak bisa dibekukan," ungkap Rey yang mendirikan Triv.co.id di tahun 2014 itu.

Rey pun melanjutkan, pihaknya memahami betul kalangan milenial yang menginginkan kemudahan transaksi dalam genggaman. Karena itu pada bulan ini Triv meluncurkan aplikasi ponsel pintar iOS dan Android.

"Aplikasi ini bisa memudahkan nasabah untuk memantau harga Bitcoin pada pasar global dan pasar Triv. “Jadi saat melakukan jual beli Bitcoin real-time 24/7 cukup dari smartphone. Sehingga semakin memudahkan pelanggan Triv.co.id dan Tpro.co.id untuk membeli Bitcoin secara real time 24 jam," tukasnya.

Dr Edi Prio Pambudi Asisten Deputi Moneter Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian dalam kesempatan serupa mengatakan bahwa pemerintah pun telah mengakomodasi mata uang kripto sebagai komoditas.

"Pemerintah mendorong masyarakat untuk berinvestasi digital daripada membeli tanah dikarenakan supply tanah yang terbatas. Juga pemerintah telah melegalkan pembelian kripto sebagai komoditas," tutur Edi.

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by