Kyai Jolotondo, Penjaga Tradisi Minum Teh Keraton Yogyakarta

Oleh Dinny Mutiah pada 06 Apr 2019, 19:00 WIB
Diperbarui 06 Apr 2019, 19:00 WIB
Kyai Jolotondo, Penjaga Tradisi Minum Teh Keraton Yogyakarta

Liputan6.com, Jakarta - Meski tak seperti tradisi minum teh yang mengakar kuat pada budaya masyarakat Inggris, Indonesia ternyata memiliki tradisi serupa yang lestari di Keraton Yogyakarta. Patehan namanya.

Setiap pukul 6 dan 11 pagi, teh disajikan para abdi dalem perempuan untuk Sri Sultan dan anggota keluarga kerajaan. Sementara, pembuatnya adalah para abdi dalem lelaki.

Santhi Serad menyibak cerita di balik kebiasaan keluarga Keraton Yogyakarta itu melalui bukunya berjudul 'Leaf It to Tea'. Tak sekadar memanaskan air untuk menyeduh teh melati dan menambahkan gula ke dalamnya, tetapi lebih dalam dari itu. Termasuk di dalamnya adalah kisah Kyai Jolotondo dan Nyai Jolotondo.

Dua nama terakhir bukanlah nama orang, melainkan nama sepasang sumur yang dikelilingi tanaman bougenville. Baik Kyai Jolotondo maupun Nyai Jolotondo berada di halaman belakang dekat Gedhong Patehan, dapur khusus untuk menyeduh teh Raja Yogya.

Keduanya awalnya ada untuk saling melengkapi. Bila air dari Kyai Jolotondo berfungsi untuk menyeduh teh yang akan disajikan, air dari Nyai Jolotondo berfungsi untuk membersihkan seluruh peralatan minum teh yang digunakan, mulai dari poci, cangkir, dan sebagainya.

Namun, air dari Nyai Jolotondo kini sudah mengering. Fungsinya kemudian digantikan dengan keran air modern yang dibangun dekat Gedhong Patehan.

2 dari 3 halaman

7 Laci Penyimpanan

Kyai Jolotondo, Penjaga Tradisi Minum Teh Keraton Yogyakarta
Para abdi dalem Patehan yang bertugas menyiapkan air dan teh bagi Sri Sultan Hamengkubuwono. (dok. kratonjogja.id/Dinny Mutiah)

Di dalam Gedhong Patehan terdapat lemari khusus untuk menyimpan stok teh, gula, dan kopi. Laci itu memiliki tujuh laci yang masing-masing ditandai nama-nama hari.

Abdi dalem yang bertugas pada Senin misalnya, akan menggunakan stok teh dan gula dari laci Senin. Begitu pula dengan abdi dalem pada hari lainnya.

Proses pembuatan teh diawali dengan menyiapkan perapian dan menimba air dari Kyai Jolotondo oleh abdi dalem Patehan. Dikutip dari laman kratonjogja.id, air tersebut dimasak dalam ceret khusus yang terbuat dari tembaga.

Bahan tembaga dipilih karena dipercaya bisa menjadi penetral air sekaligus penolak bala. Terdapat dua ceret, yang berukuran besar diperuntukkan bagi abdi dalem, sementara yang berukuran lebih kecil untuk Sri Sultan dan tamu-tamunya.

Setelah matang, air tersebut dipakai sebagai penyeduh teh untuk dibuat dekokan. Dekokan teh adalah seduhan teh sangat kental yang nantinya diencerkan dengan air putih saat dihidangkan.

Dekokan didiamkan selama setengah jam tanpa diaduk. Setelah siap, setengah dari dekokan dipindahkan ke sebuah teko khusus untuk rasa. Sisanya akan diberikan kepada Abdi Dalem Keparak yang bertugas sebagai pencicip.

Jika masih ada tinggal dari Keparak, itu baru akan diminum oleh Abdi Dalem Patehan. Selama proses meracik minuman untuk sultan, abdi dalem yang bertugas harus mengenakan samir -sejenis kalung dari kain.

3 dari 3 halaman

Perubahan Penyajian

Kyai Jolotondo, Penjaga Tradisi Minum Teh Keraton Yogyakarta
Abdi dalem Keparak membawa peralatan dan air teh bagi Sultan Yogyakarta. (dok. kratonjogja.id/Dinny Mutiah)

Tak hanya membuat teh, Abdi Dalem Patehan juga menyiapkan segala perlengkapan dan minuman tambahan untuk dibawa oleh para Abdi Dalem Keparak yang bertugas. Jumlahnya umumnya lima orang, disesuaikan dengan kebutuhan.

Empat orang dari mereka akan membawa perlengkapan yang terdiri dari satu set rampadan (perlengkapan minum) teh, satu set rampadan kopi, sebuah teko untuk air panas, dan sebuah teko khusus berisi air putih yang didiamkan semalaman yang disebut klemuk. Satu orang lainnya membawa payung untuk melindungi klemuk.

Kelengkapan untuk tradisi inilah yang dibawa oleh iring-iringan Abdi Dalem Keparak setiap harinya. Rutinitas yang dilakukan sejak sultan-sultan terdahulu ini mengalami sedikit perubahan pada era Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Pasalnya, selain bertahta sebagai Sultan Yogyakarta, Sultan HB IX juga menjabat sebagai Perdana Menteri. Tugas yang diemban tersebut menyebabkan ia lebih banyak menetap di Jakarta.

Sejak saat itu terjadi pergeseran pada rutinitas minum teh untuk sultan. Penyajiannya tetap dilakukan setiap hari, namun minuman dibawa dan diletakkan di Gedhong Prabayeksa. Minuman didiamkan di sana sampai diambil kembali untuk diganti pada jadwal penyajian minum berikutnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

Melihat Hijaunya Yulin, Kota Hutan di China