Menpar Usung Go Digital untuk Menghadapi Digital Tourism 4.0

Oleh Cahyu pada 22 Mar 2019, 14:56 WIB
Diperbarui 22 Mar 2019, 15:17 WIB
Arief Yahya

Liputan6.com, Jakarta Menteri Pariwisata, Arief Yahya, tidak melakukan revolusi besar-besaran terhadap Kementerian Pariwisata (Kemenpar) selama empat tahun menjabat. Menurutnya, setiap perubahan selalu menyisakan pro dan kontra, sehingga jangan ragu akan perubahan.

“Saya memilih evolusi dipercepat dalam bertransformasi menuju Digital Tourism 4.0,” ujar Arief.

Orang nomor satu di Kemenpar itu menyebut proses transformasi birokrasi menuju ke profesional itu mengusung konsep 3B, to build, to borrow, dan to buy. To Build itu membangun dari nol dan mendidik dari yang ada hingga menuju ke professional. Risikonya, membutuhkan waktu panjang dan kesabaran tinggi.

To Buy berarti mengganti semua pejabat dengan orang baru, yang lebih fresh dan akomodatif dengan perubahan. Ini yang disebut revolusi dan akan membawa kontraksi yang besar di pegawai. Sementara itu, To Borrow adalah menggunakan shadow management, meminta tenaga profesional yang ahli di bidangnya dan punya reputasi untuk mendampingi pegawainya dalam bertransformasi.

“Ini cara yang paling smooth, tidak gaduh, tidak menimbulkan kontraksi yang berlebihan, tetap bisa bekerja dengan sentuhan korporasi dan menuju profesional,” ucap Arief.

Apakah perubahan yang dilakukan di lingkungan Kemenpar itu tidak menyisakan “residu”? Tentu ada. Bahkan, dalam menyongsong era digital pun tetap ada 30 persen yang masih menggunakan konsep konvensional. Sementara customers atau travelers sudah 70 persen go digital.

“Jadi memang yang masih ada 30 persen yang konvensional dan lebih nyaman dengan cara orang lama,” kata Arief.

Roadmap menuju Go Digital di Kemenpar sudah diawali sejak 2015, lalu diperkuat di Rakornas Go Digital Be The Best pada September 2016. Presiden Jokowi juga selalu menyampaikan tantangan ke depan. Untuk memenangkan persaingan di level dunia, kecepatan menjadi kunci. Lalu solid dari atas sampai ke bawah dan harus punya tone yang sama.

Konsep tersebut inline dengan corporate culture yang sudah dibangun Arief Yahya di lingkungan Kemenpar, yaitu Solid, Speed, Smart (3S). Budaya kerja itu selanjutnya diimplementasikan oleh Arief dengan istilah WinWay. Bisa diterjemahkan sebagai Wonderful Indonesia Way atau The Way to Win!

“Budaya kerja untuk memenangkan persaingan global. Maka seluruh unsur pariwisata dikelola dengan spirit WinWay,” ujar pria yang lahir di Banyuwangi Jawa Timur tersebut.

Arief juga menciptakan tiga kalimat yang selalu dipopulerkan di setiap momen sejak 2015. The more digital, the more personal. The more digital the more global. The more digital the more professional. Implementasinya di dalam seluruh aktivitas Kemenpar menuju ke Digital Tourism 4.0 yang dijadikan tema besar Rakornas I Tahun 2019.

“Transforming Tourism Human Resources, Winning The Global Competition in 4.0 Era,” ujarnya.

Dalam Catatan #CEOMessage ke-61 yang juga sempat masuk ke daftar trending topic di Twitter, sudah dijelaskan apa itu Tourism 4.0.

“Tourism 4.0 lahir seiring dengan mulai tersedianya big data perilaku travelers yang mampu dikumpulkan via apps dan sensor yang kemudian diolah dan menciptakan seamless dan personalized travelling experience,” ucap Arief.

Seamless dan personalized experience itu, lanjut dia, bisa diwujudkan karena adanya peran teknologi-teknologi Revolusi Industri Keempat (4.0). Teknologi itu antara lain artificial intelligence, Internet of Things (IoT), big data analytics, robotics, augmented reality, cloud computing, dan blockchain.

“Inilah berbagai teknologi yang kini sering disebut sebagai Teknologi 4.0. Kita semua tahu, target besar Presiden Jokowi adalah 20 juta wisman tahun 2019. Itu artinya double dari start awal 9,3 juta pada 2014. Dan untuk mendapatkan hasil yang luar biasa, hanya bisa ditempuh dengan cara yang tidak biasa! Cara yang tidak biasa itu adalah Go Digital,” kata Arief.

Pihaknya pun akan terus menyosialisasikan Go Digital tersebut kepada SDM dan industri pariwisata.

“Ya, harus sabar, terus mendidik, dan menularkan pemahaman kepada SDM kita yang sesuai dengan arah pergerakan customers-nya. Era digital, creative industry atau cultural industry ini berjalan sangat cepat. Kita berpacu melawan kreativitas dan era millennials yang makin cepat,” ujar Arief.

 

 

(*)