Cerita Theti Numan Agau, Perempuan Penjaga Gambut dari Kalteng

Oleh Putu Elmira pada 15 Feb 2019, 22:15 WIB
Diperbarui 17 Feb 2019, 19:13 WIB
Theti Numan Agau

Liputan6.com, Jakarta - Dari sekian banyak, peran serta perempuan di berbagai aspek kehidupan juga hadir dalam usaha melawan perubahan iklim. Satu di antaranya adalah Theti Numan Agau, perempuan Dayak yang tinggal di Desa Mantangi Hilir, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalteng.

Provinsi ini jadi salah satu wilayah yang mengalami bencana kebakaran hutan dan lahan yang parah sejak 2015 lalu. Beragam dampak timbul dari kondisi ini, mulai dari sulit bernapas, hingga terbatasnya gerak aktivitas sehari-hari.

Pembakaran lahan gambut tak jarang dilakukan petani dengan tujuan menyuburkan tanah. Melihat hal tersebut, Badan Restorasi Gambut (BRG) mulai melakukan pendekatan ke beberapa tokoh petani dan beberapa dari mereka mulai sadar akan bahaya dari pembakaran lahan.

Kelompok petani turut dibentuk untuk mewadahi berbagai kegiatan. Edukasi juga dilakukan untuk pertanian yang ramah lingkungan dan Theti adalah salah satu petani yang ada dalam program inisiasi BRG. Sebelum bergabung, ia mengelola lahan kecil tempat menanam padi dengan memanen hingga 30 karung beras. Hasil tersebut diakui hanya cukup untuk makan saja selama setahun.

"BRG membuat Pelatihan Sekolah Lapang selama 10 hari. Di sana kami diajarkan metode pertanian ramah lingkungan untuk menyuburkan lahan. Kami tidak lagi membakar lahan dan diajarkan untuk membuat pupuk alami," ungkap Theti melalui keterangan tertulis yang diterima Liputan6.combaru-baru ini.

Lewat Sekolah Lapang yang dibangun Mini Demplot Pengolahan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) yang dikelola para kader. Mereka membentuk kelompok pengelola demplot.

"Dalam satu kelompok ada 10 petani. Tadinya jumlah ini terbagi rata, yaitu lima pria dan lima perempuan. Namun, usaha ini kurang mendapat sambutan dari petani pria. Saya mengubah komposisi kelompok menjadi 10 perempuan dan semua berjalan dengan lancar," tambahnya.

Theti dan kelompok menanam cabai, tomat, juga kacang panjang di lahan demplot. Ia mengatakan hasil yang diakui mengalami kenaikan.

"Hasilnya bisa dipakai untuk makan dan kelebihannya bisa dipakai untuk menabung. Kalau dulu hanya cukup untuk makan, sekarang kami bisa menjual hasil pertanian. Menjualnya pun tidak susah karena hasil pertanian ini lebih sehat. Kami memakai metode bertani yang ramah lingkungan. Sampai saat ini, kami telah panen sebanyak empat kali," jelas Theti.

Sementara, BRG menyadari pentingnya peran perempuan dalam menjaga gambut. Hingga kini, telah ada 773 anggota kelompok perempuan yang didampingi BRG. Diharapkan, jumlahnya terus bertambah.

Tak hanya bertani, kelompok ini juga dibekali keterampilan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai jual pada produk kerajinan anyaman dari rumput atau tanaman tumbuh di lahan gambut. Mereka telah mampu membuat anyaman menjadi topi, tas, keranjang, dan lainnya.

"BRG menyadari pentingnya peran para perempuan dalam menjaga ekosistem gambut. Kami percaya bahwa jika perempuan diberdayakan, maka akan dapat mendorong perubahan besar dalam sikap dan perilaku melindungi," kata Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG.

"Kita tidak dapat bicara tentang ketahanan pangan, tentang generasi emas jika soal pemenuhan nutrisi di tingkat keluarga diabaikan. Perempuan-perempuan kader sekolah lapang di lahan gambut menunjukkan bagaimana mereka berjuang untuk itu," tambah Myrna.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Live Streaming

Powered by