Banyak yang Menumpang Eksis Lewat Bantuan Korban Bencana

Oleh Komarudin pada 27 Des 2018, 03:00 WIB
Diperbarui 27 Des 2018, 03:00 WIB
Ribuan Pengungsi Tsunami dari Pulau Sebesi Dievakuasi
Perbesar
Petugas menggendong pengungsi usai turun dari kapal ferry di Pelabuhan Bakauheni, Lampung (26/12). Aktivitas gunung berapi anak Krakatau yang mengakibatkan gelombang tsunami 22 Desember lalu memaksa belasan ribu orang mengungsi. (AFP Photo/Mohd Rasfan)

Liputan6.com, Jakarta – Kepala Sub Tanggap Darurat Bencana dan Pemulihan Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat Ridwan Sobri mengapresiasi sikap masyarakat yang memberikan bantuan kepada korban bencana. Bantuan tersebut baik untuk ikut meringankan kesedihan para korban.

"Bantuan itu bagus untuk para korban dan perlu mendapatkan apresiasi. Meskipun bantuan itu maasih dalam perspektif sembako," kata Ridwan saat dihubungi Liputan6.com, Rabu, 26 Desember 2018.

Namun, di luar itu masih banyak orang yang memberikan bantuan untuk tujuan eksistensinya. Mereka kemudian menyalurkan bantuan secara pribadi kepada para korban bencana.

"Tapi pemberian bantuan secara pribadi itu susah untuk mencatatnya. Karena itu, saat ditanya apakah penyaluran bantuan itu sudah merata diterima para korban atau belum, itu sudah dijawab, kecuali orang tersebut memiliki organisasi dan mencatat penyaluran bantuannya," lanjut Ridwan.

Selain demi eksistensi, pemberian bantuan juga dilakukan karena kedekatan kekeluargaan. Dengan begitu, bantuan bisa langsung diterima para korban. Namun, sesaat kemudian muncul wisata bencana.

"Mereka berbondong-bondong mendatangi tempat yang dilanda bencana. Mereka datang dalam masa tanggap darurat," katanya.

Ridwan menilai, sebaiknya mempercayakan penyaluran bantuan kepada organisasi ang memiliki mandat untuk itu. Saat ini, banyak organisasi kemanusiaan yang tepercaya. Hal itu agar memudahkan untuk berkoordinasi untuk mendistribusikan bantuan agar lebih merata.

Saksikan video pilihan di bawah ini: