Pandangan Orang Tiongkok tentang Stereotipe Negatif Turis Cina

Oleh Asnida Riani pada 25 Des 2018, 19:00 WIB
Ilustrasi

Liputan6.com, Jakarta - Walau tak sepenuhnya valid, stereotipe akan golongan tertentu masih saja bolak-balik jadi topik perbincangan tak sedikit orang. Pembahasannya bisa mencakup banyak bidang, tak terkecuali traveling. Di dunia perjalanan, stereotipe buruk tentang turis asal Cina mungkin jadi salah satu yang pernah Anda dengar.

Berdasarkan video unggahan di akun YouTube Asian Boss pada awal 2018, tercatat ada 100 juta orang Cina yang melakukan perjalanan ke luar negeri setiap tahun dan menghabiskan biaya tak kurang dari 100 miliar dolar Amerika.

Dari sekian banyak kunjungan tersebut, muncul stereotipe negatif tentang turis asal Cina. Anggapan ini kemudian Asian Boss tanyakan pada beberapa orang Cina yang sudah pernah melakukan perjalanan ke luar negeri.

Reporter menyebut, stereotipe negatif yang dimaksud, yakni turis Cina kebanyakan berbicara sangat keras dan kasar. "Ada orang baik dan jahat di seluruh dunia, dan saya berpikir stereotipe ini tidak berdasarkan pikiran objektif," tutur salah satunya.

"Mungkin orang asing menyadari ini (turis Cina berbicara keras) karena kami berkulit kuning atau karena Cina adalah topik sensitif bagi mereka. Jadi, mereka menaruh fokus pada kami (turis Cina)," tambah yang lain.

Namun, ada juga yang membenarkan prasangka tersebut. Tapi makin ke sini, orang-orang makin memperbaiki kelakukan mereka, terutama ketika berada di luar negeri dan menghormati budaya setempat. "Biasanya yang masih berkelakuan buruk adalah mereka yang tergolong generasi lanjut usia," jelasnya.

Mereka pun ditanya, dari mana stereotipe ini berasal. Salah satunya memaparkan, hal ini bermula lantaran kebanyakan turis asal Cina tidak tahu budaya setempat. Mereka lalu melakukan kesalahan berulang dan membuat penduduk lokal menaruh stigma negatif.

Ada juga yang menganggap stereotipe itu datang dari berita. Pasalnya, kebanyakan turis Cina akan berjuang mendapatkan penawaran terbaik ketika tengah berbelanja. Dari pikiran itulah, mereka sering bertengkar dan berbicara dengan suara keras, kemudian jadi headline berita.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 of 2

Buku Panduan Khusus

Ilustrasi
Ilustrasi turis asal Cina. (dok. unsplash.com/Asnida Riani)

Dengan segala kebiasaan lokal yang dibawa ketika menyambangi negara lain, orang Cina tak menganggap turis asal negaranya bisa dikategorikan buruk. "Tidak bisa disebut demikian karena banyak anak muda asal Cina pergi ke luar negeri dan mereka memberi impresi berbeda dengan menghormati budaya lokal," tutur salah satunya.

"Saya sudah pergi ke beberapa negara seperti Jerman dan Amerika, tidak hanya orang Cina yang berkelakuan buruk. Tapi, memang beberapa orang, seperti penduduk Jepang, berkelakuan sangat baik," tambah yang lain.

Salah satu di antara mereka menyebut, sebenarnya banyak juga turis asal Cina yang dengan baik merencanakan perjalanan mereka dan menghormati budaya lokal. Namun karena stereotipe sudah menempel, kebanyakan turis Cina jadi tidak leluasa untuk menunjukkan sisi baik mereka.

Saking melekatnya, reporter mengatakan, beberapa waktu lalu, pemerintah Cina bahkan mengeluarkan buku panduan tentang bagaimana tidak menjadi turis yang buruk. Beberapa di antara mereka tahu, namun sisanya tidak pernah mendengar buku tersebut.

"Kami tidak perlulah diberitahu bagaimana karena kelakukan itu kan sebenarnya datang dari satu individu. Asal bisa mengendalikan diri sendiri, harusnya tidak ada masalah," paparnya. Demi mengalahkan stereotipe ini, mereka berpesan agar para turis asal Cina tidak menganggu orang lain dan menghormati budaya lokal. 

Lanjutkan Membaca ↓