Cerita Akhir Pekan: Mengenang Jejak Ibu Inggit di Pasar Cihapit Bandung

Oleh Komarudin pada 22 Des 2018, 08:30 WIB
Pasar Cihapit

Liputan6.com, Jakarta – Kesan kumuh dan berbau tak selalu terjadi pada pasar tradisional. Tak percaya, tengok saja Pasar Cihapit di Kota Bandung. Letaknya tak jauh dari Gedung Sate dan hanya memerlukan waktu 5 menit dengan naik sepeda motor.

Pasar ini kini tertata dengan baik dan juga tak berbau dan menjadi pasar percontohan di Kota Bandung. Jika berkunjung ke pasar ini, terdapat hiasan berupa payung tradisional khas Sunda.

Kain yang ada di langit-langit Pasar Cihapit merupakan pemberian dari Wali Kota Bandung Ridwan Kamil saat itu. Pada dinding-dinding pasar ini juga terdapat lukisan mural bergaya kotemporer.

Beberapa lukisan dinding atau mural tersebut merupakan karya dari beberapa seniman Kota Bandung dan seniman dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Mural yang paling terkenal terletak di dinding pintu masuk Pasar Cihapit.

Dilansir dari sosokitu.com, Jumat, 21 Desember 2018, pada zaman penjajahan Jepang, kawasan Cihapit dijadikan sebagai kampung penjara bagi orang-orang Eropa. Penjagaan tidak hanya dilakukan oleh tentara Jepang, tetapi juga oleh tentara Indonesia yang tergabung dalam Heiho.

Sebelumnya, pada zaman Belanda, kawasan Cihapit sudah dibangun dengan konsep lingkungan yang sehat. Di sana ada kompleks perumahan, taman atau lapangan terbuka, dan juga pasar. Pada 1920-an, kawasan ini mendapat predikat sebagai contoh pemukiman sehat yang dihuni oleh warga golongan menengah.

Tak heran hingga kini, konsumen Pasar Cihapit berasal dari kalangan menengah ke atas. Sebagian pedagang juga menceritakan, sebelumnya pasar ini juga dikenal sebagai istal (kandang) kuda. Kemungkinan hal itu terjadi setelah masa penjajahan Jepang.

Pasar Cihapit kembali dibuka setelah beberapa tahun Indonesia merdeka. Di tengah maraknya pasar modern, Pasar Cihapit tetak eksis hingga saat ini.

2 of 2

Warung Nasi Bu Eha

Warung Nasi Bu Eha
Warung Nasi Bu Eha (Liputan6.com)

Di lokasi pasar ini terdapat warung legendaris, nama Warung Nasi Bu Eha. Meska berada di tengah-tengah pasar, warung nasi ini bersih dan nyamaan untuk menyantap hidangan yang disajikan.

Di dinding bangunan, terdapat foto Bung Karno, Presiden Indonesia pertama. Foto tersebut pemberian Ibu Inggit Garnasih, istri Bung Karno, yang menjadi pelanggan warung tersebut di masa itu.

Warung nasi ini memiliki sejarah panjang, karena berdiri dua tahun setelah Indonesia merdeka, tepatnya sejak 1947. Sajian makanan khas Sunda ala prasmanan ini memang jadi ikon warung Bu Eha hingga saat ini.

Warung Nasi Bu Eha menyajikan sejumlah menu yang menggugah selera. Mulai dari daging gepuk, rendang daging sapi, perkedel kentang, kepala kakap, ayam goreng, ikan goreng, tempe, dan tahu. Selain itu, tersedia aneka pepes, seperti pepes telur asin, pepes ikan mas, hingga pepes jamur.

Anda ingin mencoba makan di sini?

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by