Harbolnas, Momen Tepat Diet Kemasan Plastik

Oleh Dinny Mutiah pada 10 Des 2018, 14:45 WIB
Harbolnas, Momen Tepat Diet Kemasan Plastik

Liputan6.com, Jakarta - Puncak Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) jatuh pada Rabu, 12 Desember 2018. Sudahkah menyiapkan daftar barang belanjaan untuk menyambut momen itu?

Memanfaatkan momen itu, Greenpeace menggelar kegiatan bertajuk MAKE SMTHG 2018 pada Minggu, 9 Desember 2018. Kegiatan itu mengampanyekan diet kemasan plastik, terutama yang sekali pakai, untuk menyelamatkan bumi.

Sejumlah agenda seru digelar, termasuk workshop furoshiki. Seni melipat atau membungkus kain tradisional Jepang diyakini dapat menggantikan penggunaan plastik sekali pakai.

"Kita berada dalam kondisi di mana ketergantungan terhadap plastik sekali pakai besar sekali. Setiap kita berbelanja, plastik sekali pakai pasti ada," kata Muharram Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, dalam keterangan tertulis kepada Liputan6.com, Senin (10/12/2018).

Kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai, sambung dia, harus direm karena tingkat daur ulangnya sangat rendah. Secara global, Greenpeace menyebut hanya 9 persen plastik sekali pakai yang didaur ulang.

"Sisa sampah plastik lainnya yang tidak terdaur ulang ataupun terangkut ke tempat pembuangan akhir, sangat berpotensi berlabuh di tempat yang tidak seharusnya, seperti di sungai serta lautan," ujar Atha.

MAKE SMTHG, lanjut dia, merupakan festival internasional yang diadakan di lebih dari 40 negara, dengan memanfaatkan momen diskon besar-besaran di akhir tahun seperti Black Friday, pekan diskon di luar negeri, dan Harbolnas di Indonesia.

 

2 of 2

Dampak Buruk

Sampah Plastik
Seorang pria memancing di pantai Laut Tengah di Beirut, Lebanon di antara berbagai sampah plastik. (AP)

Festival ini bertujuan untuk mendorong masyarakat untuk mengurangi kegiatan belanja dengan membuat kreasi sendiri barang yang diperlukan. Pasalnya, kegiatan berbelanja akan menghasilkan sampah plastik yang utamanya dipakai sebagai kemasan pembungkus barang.

"Jangan sampai konsumerisme menjadi budaya sehingga akhirnya penggunaan plastik sekali pakai pun tidak terkendali. Ini sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, hewan, serta lingkungan," lanjut Atha.

Selain peran dari masyarakat, ia menyatakan swasta dan pemerintah pun harus turun tangan dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Di tingkat pemerintah, sejumlah kementerian, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, sudah berinisiatif tidak mengonsumsi air minum dalam kemasan.

Sementara beberapa pemerintah kota, di antaranya Balikpapan, Banjarmasin, Bogor, dan Denpasar telah mengeluarkan kebijakan melarang penyediaan kantong plastik di ritel dan pusat perbelanjaan modern.

"Pelarangan penyediaan kantong plastik di pusat perbelanjaan merupakan langkah yang baik, namun pelaksanaannya harus dilakukan secara konsisten," kata Atha.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓