Hati-Hati, Hal Ini Mungkin Bakal Menimpa Anda Saat Lebih Sering Mengetik Ketimbang Menulis

Oleh Asnida Riani pada 23 Okt 2018, 20:45 WIB
Diperbarui 23 Okt 2018, 20:45 WIB
Ilustrasi menulis

Liputan6.com, Jakarta - Bersama segudang keuntungan, teknologi juga datang dengan rentetan dampak negatif. Dari sekian banyak, mungkin ada satu yang tak Anda sadar. Ya, kebanyakan orang sudah menggeser kebiasannya menulis meggunakan tangan jadi mengetik.

Boleh saja Anda berlindung di balik kata serba digital dengan keyboard di mana-mana. Namun, ternyata ada dampak kurang baik yang diperlihatkan dengan perubahan kebiasaan ini. Memang tak langsung, namun lambat-laut sangat mungkin tampak.

"Pasti ada karakter yang berubah karena proses kognitif berkurang. Orang yang menulis kan, sebut saja gampangnya, lebih pintar, karena otaknya terus distimulasi," jelas Deborah Dewi, seorang Grafolog, di Post-It Handwriting Workshop di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (23/10/2018).

Orang yang masih membudayakan menulis, dengan stimulan-stimulan tertentu, dikenal memiliki pikiran yang lebih tajam. "Pengurangannya mungkin bisa jadi sangat signifikan dengan sekarang yang apa-apa serba ketik," sambungnya.

Namun demikian, mengasah kognitif otak sebenarnya memang tak hanya dari menulis. "Tapi, menulis itu cara yang paling gampang dan murah. Karena sebenarnya menulis itu berupa gerakan kompleks. Gerakannya bisa menstimulasi sampai lengan atas," paparnya.

Bukan berarti harus berhenti mengetik sama sekali, namun olahraga tangan tetap harus dilakukan dengan menulis agar kognitif otak terstimulasi. "Harus tetap ada writing exercise setiap hari. Nggak perlu lama, yang penting rutin," tandasnya.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini: