Pariwisata Halal Dukung Pengembangan Ekonomi Indonesia

Oleh Cahyu pada 17 Okt 2018, 11:51 WIB
Diperbarui 17 Okt 2018, 11:51 WIB
Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat. (Liputan6.com/Fiki Ariyanti)
Perbesar
Wisata halal turut kuatkan ekonomi Indonesia. (Liputan6.com/Fiki Ariyanti)

Liputan6.com, Lombok Bank Indonesia (BI) menilai peran wisata halal di Indonesia cukup strategis. Sebab, wisata halal mampu mendukung pengembangan ekonomi Indonesia, khususnya ekonomi syariah. BI pun menilai peningkatan sektor pariwisata menjadi kunci penguatan ekonomi Indonesia.

Penilaian tersebut disampaikan Executive Director Bank Indonesia, Wiwiek Sisto Widayat, dalam konferensi internasional di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Senin (15/10/2018). Tema konferensi ini adalah Strengthening Islamic Economy Through Halal Tourism: Challenges, Opportunities and Prospects.

Pertemuan tersebut dihadiri delegasi Annual Meeting IMF-World Bank Group yang berasal dari berbagai negara. Panel diskusinya berisi pembicara-pembicara ahli di bidang ekonomi syariah, di antaranya Direktur Jenderal Islamic Research and Training Institute (IRTI), Islamic Development Bank (IDB) Humayon Dar yang berasal dari Saudi Arabia, dan CEO GMTI Mastercard Crescent Rating Singapura, Fazal Bahardeen.

Wiwiek menyatakan, ekonomi dan keuangan syariah merupakan salah satu tema yang didorong Indonesia dalam Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018. Sebab, pariwisata halal sangat berpotensi untuk dikembangkan.

"Hal ini mengingat banyaknya jumlah umat muslim di dunia. Di sisi lain, wisata halal juga menghadapi berbagai tantangan, terutama dari sisi budaya, demografi, tujuan, maupun alokasi biaya yang dikeluarkan untuk berwisata," ucapnya.

Wiwiek menjelaskan, wisata halal tidak dapat berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari keseluruhan industri halal, yang mencakup sektor finansial dan pembiayaan. Untuk itu, dari sisi Indonesia, sangat disadari pentingnya kerja sama dengan berbagai negara, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk mendorong pengembangan wisata halal.

"Kerja sama juga perlu dilakukan dengan pemangku kepentingan di daerah-daerah wisata halal. Untuk itu diperlukan pemahaman lebih dalam dari berbagai pihak dalam pengembangannya," kata dia.

Wiwiek mengatakan, banyak daerah di Indonesia yang berpotensi dikembangkan sebagai tujuan wisata halal. Salah satunya, Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Pemerintah daerah NTB berhasil menunjukkan potensinya di bidang pariwisata. Di sana ada resort, makanan tradisional, tempat-tempat bersejarah Islam, dan tentu saja indah pantai. Wisatawan juga bisa datang ke sini dengan kapal pesiar dan menikmati keindahan selat lombok di sore hari," ujarnya.

Mayoritas wisatawan yang datang ke NTB berasal dari Australia, Malaysia, Singapura, dan dari beberapa wilayah di Indonesia. Lombok pun telah dicanangkan sebagai The Best Destination for Halal Tourism Resort di dunia dari CNBC Indonesia pada 2017 dan Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018.

Selain itu, Lombok juga berhasil mendapatkan penghargaan The World Halal Tourism sekaligus sebagai The World Best Halal Honeymoon Destination dua tahun berturut-turut di Dubai pada 2015 dan 2016.

"Alhamdulillah, sudah kita lihat beberapa perbaikan di sini setelah gempa bumi. Membangun kembali rumah, publik infrastruktur (sekolah, masjid, dll). Fasilitasnya diproses oleh lokal pemerintah, lembaga sosial, dan organisasi publik. Bahkan, internasional di bawah organisasi multinasional dan negara-negara tetangga turut membantu," ucap Wiwiek.

Ia menjelaskan, ekonomi Islam Indonesia sangat prospektif seperti yang ditunjukkan dalam varietas di Indonesia. Contohnya, makanan halal, busana Islami, pariwisata halal, kosmetika halal, dan obat-obatan halal.

"Termasuk rendang yang Dinobatkan jadi makanan paling lezat berdasarkan 50 dunia makanan terbaik (CNN travel). Mode Islam juga semakin populer di kalangan generasi milenial dan gaya hidup halal menjadi semboyan muslim di Indonesia saat ini," kata Wiwiek.

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani, mengatakan bahwa wisata halal juga mendapat perhatian serius Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

“Dengan mayoritas warga adalah muslim, wisata halal jelas mendapat porsi lebih. Apalagi Indonesia memiliki banyak destinasi halal, salah satunya Lombok yang keindahannya sudah diakui dunia. Untuk itu, Kemenpar terus mendorong percepatan perbaikan sarana wisata di sana,” ujarnya.

Menurut Rizki, Kemenpar juga sudah menegaskan ke dunia internasional kalau pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) telah pulih. Kemenpar berupaya mengangkat kembali destinasi wisata NTB pascagempa Lombok.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya, mengatakan bahwa pada 2019 wisata halal Indonesia ingin jadi yang terbaik.

"Pada September 2018 kemarin Indonesia akan meluncurkan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI). Sehingga ekosistem wisata halal terkondisi Indonesia untuk bisa menyesuaikan standar yang direkognisi global," ucapnya.

Dalam IMTI, indikator yang digunakan merupakan bauran apa yang dipunyai Global Muslim Travel Index (GMTI), Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) yang diterbitkan World Economic Forum (WEF), dan The Halal Travel Indicator (HTI) yang menjadi bagian dalam State of the Global Islamic Economy Report inisiasi Thomson Reuters bersama DinarStandard.

"Kita mempelajari empat indikator dalam GMTI, juga 14 pilar TTCI. Kalau mereka berubah, Indonesia ikut. Ini tidak sempurna, tapi kita ikuti karena ini direkognisi dunia," kata Arief.

 

 

(*)