Islamic Center Hong Kong Jadi Tempat TKI Melepas Rindu

Oleh Liputan6.com pada 31 Agu 2018, 09:45 WIB
Diperbarui 31 Agu 2018, 09:45 WIB
Islamic Centre Hong Kong
Perbesar
Foto: Zulfa Ayu/ Liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta Sebagai negara dengan mayoritas penduduk non-muslim, di Hong Kong tentu sangat sulit menemukan makanan halal atau tempat ibadah. Setidaknya hal inilah yang dirasakan sebagian besar wisatawan muslim saat berkunjung ke sana.

Namun kini wisatawan muslim tak perlu khawatir, berlokasi di Wan Chai, Hong Kong, berdiri sebuah masjid berasitektur minimalis, Masjid Ammar and Osman Ramju Sadick Islamic Center. Bangunan berlantai lima ini juga dilengkapi dengan kantin bersertifikat halal.

Saat memasuki area kantin, suasana khas Tanah Air tiba-tiba terasa. Bahasa Kantonis hingga Inggris bahkan tertutup dengan bahasa Jawa. Ya, rupanya ada sekumpulan ibu-ibu berpakaian syari asal Indonesia sedang santap siang.

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tenaga Kerja Indonesia

Islamic Centre Hong Kong
Perbesar
Islamic Centre Hong Kong. Foto: Liputan6.com/ Eka Laili Rosidha

Bukan wisatawan, mereka adalah Tenaga Kerja Indonesia, atau TKI yang sudah bertahun-tahun menetap di Hong Kong. Setiap minggu, mereka memang mengadakan perkumpulan bersama TKI muslim di Hong Kong benama Halaqah Sabtu.

"Kita dari berbagai propinsi di Indonesia. Selama di Hong Kong setiap minggunya kita kan dikasih libur satu kali dalam satu minggu, yaitu Sabtu. Jadi setiap Sabtu di masjid sini mengadakan pertemuan," ujar Ibu Wanti asal Purworejo, Jawa Tengah kepada Liputan6.com, Minggu (26/8/2018).

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tempat Berkumpul

Dalam satu hari tersebut, mereka melakukan berbagai aktivitas positif. Dimulai dari kajian Islam yang diisi oleh ustaz, hingga kegiatan yang mengasah keterampilan.

"Mulai pagi jam 11.00. Dari Zuhur sampai Ashar ada ustaz lain. Jadi ada dua ustaz. Kegiatan kami dari belajar iqra, belajar ngaji, tajwid, terus tadarus, ada salawatan terus juga keterampilan. Keterampilan itu meliputi menjahit," ucap Ibu Dwi asal Blitar, Jawa Timur.

Selain menambah ilmu di bidang agama, perkumpulan tersebut juga menjadi pengobat rindu. Ya, bercengkrama bersama sahabat serumpun di negeri orang merupakan hal sangat berharga. Aalagi, hanya setahun sekali mereka diperbolehkan pulang. (Zulfa)

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya