Yuk Intip Cara Mudah Menjadi Pembaca Cerita

Oleh Meita Fajriana pada 21 Jul 2018, 18:30 WIB
Diperbarui 21 Jul 2018, 18:30 WIB
Gaya Melania Trump saat Membacakan Dongeng di Gedung Putih
Perbesar
Melania Trump menunjukan buku cerita anak "Party Animals" saat perayaan Paskah ke-139 di halaman selatan Gedung Putih, Washington, Senin (17/4). (AP Photo/Carolyn Kaster)

Liputan6.com, Jakarta Pembaca cerita atau yang lebih akrab disebut storytelling merupakan salah satu seni tertua manusia. Kegiatan tersebut mampu menstimulasi imajinasi dan membangun hubungan yang akrab antara pembaca cerita dengan pendengarnya.

Melansir dari tracscotland.org, pembaca cerita menjadi basis dalam setiap kegiatan kita di masyarakat, seperti pada saat berinteraksi dengan orang lain, berkomunikasi, dan bahkan bermimpi. Orang-orang dari berbagai latar belakang usia, budaya dan pendidikan dapat saling berkomunikasi melalui kegiatan storytelling tersebut. Hal ini terjadi karena di dalam cerita yang disampaikan tersebut biasanya mengandung nilai-nilai universal yang dapat diterima oleh berbagai kalangan.

Namun sayangnya, saat ini kemampuan storytelling tersebut hanya dikuasai oleh segelintir orang saja, karena sebagian besar dari mereka enggan memahami dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.  

Hal ini berbanding terbalik dengan ratusan tahun silam, di mana storytelling merupakan kegiatan utama yang dianggap penting dan dikuasai oleh banyak orang.

Padahal, cerita yang di sajikan dalam kegiatan storytelling tersebut pada umumnya berupa cerita rakyat tradisional yang sarat pembelajaran moral. Selain itu, cerita-cerita sejarah, legenda dan cerita kontemporer juga dapat menjadi bahan rujukan cerita.

2 dari 2 halaman

Belajar mendongeng mulai sekarang

Lalu apa yang harus Anda lakukan apabila sudah tertarik untuk belajar menjadi seorang storyteller? Berikut ini adalah jawaban yang dapat kami berikan dengan melansir medium.com.

1. Gunakan data dan statistik pada saat bercerita

Penelitian di Stanford University melaporkan bahwa kombinasi antara cerita dengan statistik memiliki tingkat retensi atau daya serap sebesar 65 sampai 70 persen.

2. Memiliki struktur pemikiran yang jelas dan runut

Anda harus menyampaikan cerita yang ada di pikiran Anda secara jelas dan runut. Apabila Anda tidak memenuhi aspek ini, maka pendengar Anda akan merasa kebingungan dan tidak akan memperdulikan apa yang Anda sampaikan. Selain itu, Anda juga harus memikirkan bagaimana jalannya sebuah cerita, bagaimana mengemas konflik di dalamnya, bagaimana klimaks tersebut ditampilkan, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan pengemasan cerita yang akan Anda sampaikan.

3. Kemas cerita Anda menjadi lebih kompleks

Jangan buat cerita Anda mati dengan ulasan yang hanya dilihat dari satu sisi. Cobalah untuk mengungkapkan beberapa informasi pendukung yang relevan sehingga cerita yang Anda sampaikan dapat semakin kompleks dan kaya informasi.

4. Buat cerita anda mudah dipahami

Gunakan bahasa, pengaturan, dan karakterisasi yang mudah dipahami oleh pendengar. Hal ini perlu diperhatikan dengan seksama karena sebuah cerita dapat dikatakan efektif apabila pendengar memahami cerita yang disampaikan, persis seperti maksud sang storyteller.

(kiki novilia)

Lanjutkan Membaca ↓