Opera Ainun Bakal Dipentaskan Lagi, 3 Hal Ini Jadi Pembeda

Oleh Ahmad Apriyono pada 02 Mei 2018, 07:30 WIB
Diperbarui 04 Mei 2018, 07:13 WIB
Opera Ainun

Liputan6.com, Jakarta Setelah sukses dalam durasi 60 menit, Opera Ainun akan kembali dipentaskan ke atas panggung opera dengan durasi lebih lama, yakni 135 menit. Pentas opera yang bakal digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 15-16 September 2018 ini akan dipimpin langsung oleh komponis berpengalanan Purwacaraka.

Dalam jumpa pers Opera Ainun di Jakarta beberapa waktu lalu, durasi yang panjnag memungkinkan Purwacaraka dan tim produksi untuk mengeksplore lebih dalam tentang sosok Ainun dan beragam konflik yang hadir di dalam hidupnya.

“Misal salah satunya adalah adanya adegan gambaran demonstrasi 1998 dengan tari kecak. Saat itu kan BJ Habibie naik jadi presiden, ini juga bagian dari hidup Ainun. Kenapa tari kecak, dan kenapa nanti ada sentuhan musik Jawanya, silahkan interprestasi sendiri,” ungkap Purwacaraka.

 

2 of 3

Pendalaman Sosok Ainun

Opera Ainun
Kisah cinta Bacharuddin Jusuf Habibie dengan Hasri Ainun Besari dalam Opera Ainun yang dipentaskan pada 25 Mei 2017 di Theater Jakarta, TIM. (Opera Ainun Inc)

Lebih jauh Purwacaraka mengatakan, selain durasi yang lebih panjang sehingga beragam konflik dalam kehidupan Ainun dapat dihadirkan, hal lain yang membedakan pementasan Opera Ainun kali ini dengan sebelumnya adalah pendalaman tentang sosok Hasri Ainun Habibie, sebagai seorang perempuan seutuhnya, dokter muda ambisius yang merelakan karier gemilangnya untuk memilih terus bersama sang suami. Sehingga penonton kali ini dapat mengetahui secara jelas dan utuh tentang sosok Ainun yang sebenarnya.

 

3 of 3

Garapan Musik yang Baru

Opera Ainun
Kisah cinta Bacharuddin Jusuf Habibie dengan Hasri Ainun Besari dalam Opera Ainun yang dipentaskan pada 25 Mei 2017 di Theater Jakarta, TIM. (Opera Ainun Inc)

Hal ketiga yang membedakan Opera Ainun versi full dengan opera serupa yang pentas pertengahan 2017 silam adalah garapan musik yang benar-benar baru.

“Saya banyak mendengar, saya ingin bikin komposisi sendiri, kalau bisa memasukkan unsur-unsur Indonesia tanpa dipaksakan, karena kalau bicara unsur Indonesia, kadang-kadang kita enggak fair juga, Indonesia ini kan banyak, unsur mana yang mau dimasukin? Misalnya adegan reformasi kenapa saya ambil kecak? Kan Pak Habibie bukan orang Jawa. Saya hanya ingin menghadirkan kalau kerusuhan itu, itu sesuai dengan dinamika musik Bali. Seni itu menarik,” kata Purwacaraka.

Purwacaraka sendiri optimis dengan penonton opera di Indonesia, khususnya di Jakarta. Dalam pementasan ini sendiri Purwacaraka ingin menghadirkan pentas opera yang tidak terlalu berat dan dapat dengan mudah dipahami oleh orang awan penikmat seni pertunjukan sekali pun.

 

Simak juga video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓