Cerita Relawan Saat Ikut Kapal Rainbow Warrior Greenpeace Jelajahi Nusantara

Oleh Ahmad Apriyono pada 23 Apr 2018, 11:48 WIB
Kapal Rainbow Warrior Greenpeace

Liputan6.com, Jakarta Rainbow Warrior merupakan kapal milik Greenpeace yang tengah menjelajahi Nusantara selama 2,5 bulan untuk menyebarkan kampanye hijau kepada semua orang, termasuk para pengambil kebijakan. Kapal yang dirancang dan dibangun khusus dengan teknologi paling ramah lingkungan hari ini, 23 April, dijadwalkan mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Tides, salah seorang relawan kapal Rainbow Warrior yang ikut menjelajahi Nusantara saat dihubungi Liputan6.com, Senin (23/4/2018) mengatakan, kapal milik Greenpeace tersebut melakukan perjalanan di Nusantara dari Manokwari menuju Raja Ampat, lalu ke Bali dan kemudian bersandar di Jakarta.

Tides mengatakan, banyak pengalaman seru yang didapatnya selama penjelajahannya ikut dalam ekspedisi kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace, mulai dari operasi sistem operasi kapal yang ramah lingkungan, hingga bagaimana cara bertahan di tengah laut dengan sistem energi, penyulingan, dan pembuatan yang 100 persen ramah lingkungan.

“Saya juga belajar bagaimana kru kapal bisa saling menghargai satu sama lain. Soalnya di kapal komposisinya tidak selalu balance, antara laki-laki dan perempuan, apalagi volunteer juga datang dari banyak negara dan latar belakang,” ungkap Tides.

 

2 of 3

Impian Banyak Orang

Kapal Rainbow Warrior III
Rainbow Warrior III tiba di Pelabuhan Pelindo, Manokwari, Papua Barat. Kapal milik organisasi lingkungan global Greenpeace ini akan menjelajahi Indonesia dengan tema Jelajah Harmoni Nusantara. (Screenshot: Twitter/@GreenpeaceID)

Hadir dalam berbagai kultur dan bahasa yang menyatu di dalam perahu bermisi “hijau” menjadi tantangan tersendiri. Menurut Tides, ikut dalam misi Greenpeace menjelajahi dunia menggunakan kapal Rainbow Warrior menjadi impian banyak orang. Bahkan, banyak juga orang yang keluar dari commercial ship untuk bergabung ke Greenpeace ship yang secara penghasilan mungkin jauh lebih lebih sedikit, tapi lebih memuaskan dari sisi batin. 

“Banyak pelajaran yang saya ambil, yang paling penting bagaimana passionate-nya kru-kru kapal yang bertahun-tahun bahkan seumur hidup kerja di kapal Greenpeace,” kata Tides menambahkan.

Namun menurut Tides, pengalaman yang paling seru sepanjang ikut dalam misi kapal Rainbow Warrior adalah perjalanan dari Tacloban Filipina menuju Manokwari. Saat itu kapal harus berjuang melawan Samudera Pasifik yang ombaknya sangat dahsyat. 

"Ini pertama kali saya merasakan mabuk laut, tapi harus tetap stabil ngelawan gravitasi dan tetap harus beraktivitas di dalam kapal," ungkap Tides.

Tides juga mengungkapkan rasa keprihatinannya saat melihat hutan di Papua yang sebagian sudah mulai rusak karena telah dikonversi ke kelapa sawit. 

"Ini lama-lama bisa gundul kayak Sumatera dan Kalimantan," katanya.

Sementara dari Bali ke arah Jakarta, Tides menuturkan, masih banyak sampah plastik di laut dan banyak kilang minyak, kapal tongkang batubara, dan PLTU yang bikin laut tercemar.

"Kalau lautnya tercemar nelayan otomatis pendapatannya berkurang, karena ikan-ikan banyak yang mati," ungkapnya menambahkan. 

  

3 of 3

Tentang Rainbow Warrior

Menurut situs resmi Greenpeace, kapal Rainbow Warrior memiliki sejarah yang panjang. Sempat dibom pada 1985 saat mengampanyekan penghentian uji coba nuklir di Pasifik, memblokir pelabuhan batu-bara, dan menghentikan operasi penangkapan ikan yang merusak, Rainbow Warrior dua muncul menggantikan. Setelah 22 tahun berada di garis depan kampanye hijau, Raimbow Warrior 2 masuk masa pensiun dan digantikan pada 16 Agustus 2011.

Pada Oktober 2011, kapal Rainbow Warrior 3 mulai beroperasi, dan menjadi warisan paling membanggakan untuk mengawal kampanye Greenpeace ke seluruh dunia.

Yang terpenting, pada 23-29 April 2018, kapal ini akan bersandar di Pelabuhan Penumpang Nusantara, Tanjung Priok, Jakarta. Dan masyarakat umum bisa measuk dan mencari informasi tentang kapal Greenpeace ini. Selama penjelajahannya di Indonesia, Greenpeace membawa misi mengingatkan pemerintah, pengambil kebijakan, korporasi, dan semua orang untuk kembali harmoni pada hutan, laut, udara, dan kota.  

Lanjutkan Membaca ↓