Jejak Patuan Barumun, Pejuang 4 Masa Pertempuran dari Huristak

Oleh Novi Nadya pada pada 17 Agu 2017, 15:00 WIB
Patuan Barumun

Liputan6.com, Jakarta HUT ke-72 RI menjadi momen untuk kembali mengenang jejak pejuang kemerdekaan yang sudah merebut kemerdekaan. Salah satunya adalah Patuan Barumun (1884-1966), Raja ke IX dari Kerajaan Huristak, Padang Lawas, Sumatera Utara.

Patuan Barumun merupakan putra dari Sultan Palaon, Raja Huristak VIII yang sudah dipersiapkan sejak dini menjadi penggantinya. Semenjak muda, Patuan Barumun sudah sering menemani sang ayah dalam tugas negara.

Hingga ia menjadi salah satu dewan pertimbangan atas permasalahan kerajaan yang dimintai pendapat dan pandangan. Padahal, kala itu, Patuan Barumun mengalami pergolakan batin antara menjaga adat dan kezuhudan dalam beragama.

Hingga pada tahun 1910, Kesultanan Kotapinang menemukan jenazah ayam Patuan Barumun dan seekor buaya yang sama-sama tewas di pinggir sungai. Kematian sang ayam menjadi pukulan berat bagi Patuan Barumun yang ternyata menyimpan tengkorak buaya yang ditemukan bersama jasad di Bagas Godang.

Salah satu cerita turun-temurun menyebutkan, pada satu zaman, Patuan Barumun harus bertempur melawan tujuh raja Nusantara untuk memperebutkan satu mayat suci, di mana Patuan Barumun memenangi semua pertempuran tersebut seorang diri.

Sejak itu, Patuan Barumun berhasil melewati empat masa pertempuran dan pergolakan selama hidupnya, yakni dimulai dari masa Hindia-Belanda, masa Jepang, masa kemerdekaan, dan masa revolusi sosial. Ia menjadi pahlawan sejati karena berjuang demi NKRI.

1914 Hindia-Belanda

Hindia-Belanda membuat pengakuan akan kedaulatan Huristak di tangan Patuan Barumun. Patuan Barumun pun kembali menegakkan adat dan memakai aksara Batak kuno dalam surat-surat perjanjian dengan Hindia Belanda. Sementara, ayahnya dulu memakai aksara Arab-Melayu.

1942 Masa Jepang

Hindia-Belanda diusir Jepang dan keadaan sangat mencekam di seluruh Nusantara. Patuan Barumun kembali harus bersiasat dan berstrategi dalam menghadapi Jepang.

Sampai akhirnya Jepang mengakui kedaulatan Huristak. Patuan Barumun membantu pendanaan dalam pembangunan infrastruktur yang berguna bagi banyak orang.

1942 Masa Kemerdekaan

Patuan Barumun juga memberi bantuan dana perang untuk NKRI selama 1942-1947. Dan pada 1947, Negeri Huristak dan Dewan Negeri Huristak resmi bergabung menjadi bagian NKRI.

1947-1952
Patuan Barumun menjadi penasihat khusus "Siasah", korps tempur TNI di Gunung Tua. Selain membantu soal pendanaan, Patuan Barumun juga memberi komando terhadap tentara yang berjuang di garis depan untuk mengusir penjajah.

Patuan Barumun wafat pada 1966 setelah tahiyat akhir saat salat Subuh.