Kembangkan Wisata Religi, Masjid Ini Dilengkapi Hotel

Oleh Yanuar H pada 04 Nov 2016, 20:21 WIB
Diperbarui 25 Sep 2019, 16:55 WIB
Masjid Jogokariyan

Liputan6.com, Yogyakarta Masjid bagi umat Islam adalah lambang kehidupan, mengingat semuanya bermuara ke masjid. Seperti masjid Jogokariyan di Jogokaryan Yogyakarta misalnya. Masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah dan dakwah, tetapi juga menjadi tempat berkesenian, sosial, hingga penggerak perekonomian. Masjid ini bahkan memiliki 11 kamar hotel, satu aula, dan dua ruang untuk musafir.

Syubbani Rizali Noor Ketua Takmir III Masjid Jogokariyan mengatakan, khusus hotel masjid Jogokaryan ada sejak tahun 2013 lalu. Hotel masjid Jogokaryan ini terdiri 10 kamar reguler dan satu kamar VIP. Kamar VIP dikenai biaya 250 ribu dan kamar reguler 150 ribu. Menurut Rizal hotel ini ada karena banyaknya jemaah dari luar daerah yang berkunjung ke masjid dan menginginkan privasi. Sehingga takmir masjid menghimpun donatur untuk membangun penginapan setara hotel.

"Melayani musafir dari situ kan ada menghendaki fasilitas yang lebih baik dan memberikan layanan itu dengan infaq. Lalu ingin privasi mungkin ada suami istri, bawa anak. Awalnya memberikan fasilitas musafir, dalam perkembangannya ada yang ingin privasi dan perlu ada kamar," papar Rizal kepada Liputan6.com.

Rizal menjelaskan hotel ini dibangun melalui donatur warga dan instansi. Sehingga nama kamar disesuaikan dengan penyumbang pembangunan hotel ini. Diketahui untuk membangun kamar hotel VIP donatur menyerahkan uang Rp 60 juta dan kamar reguler Rp 40 juta. Untuk keamanan pihak masjid memiliki 16 kamera pemantau di sekitar masjid.

"Monggo yang nyumbang itu kita kasih nama kamar. Nama orang ada juga kamar bank muamalat. Kalo fasilitas VIP ada bathtub dan kulkasnya. Reguler ada kamar dan air hangat. Ini ide sendiri dari masjid ga tau kalo ada masjid dengan manajemen yang sama," ujarnya.

Rizal hanya memberi saran jika memang ingin menginap di hotel masjid Jogokariyan dan mengikuti program masjid dapat menghubungi terlebih dahulu. Sebab hingga pertengahan Nopember ini sudah full booked

"Jadi dananya masuk ke masjid. Kalo mau pakai bisa ke 0274- 419271 kalau Sabtu Ahad booking dulu soalnya pasti ramai," ujarnya.

Tidak hanya bagi musafir yang berduit, tentu takmir masjid juga melayani yang memang butuh tempat istirahat. Masjid seluas 1600 meter persegi ini juga menyediakan ruang bagi musafir. Setidaknya ada dua ruang cukup untuk sepuluh orang dan satu aula besar kapasitas 60 orang.

"Kamar mandi kita ada 21 kamar mandi. 50-60 orang bisa nginep di aula," ujarnya.

Rizal menjelaskan takmir masjid menjadi pelayan semua jemaah di masjid Jogokaryan. Tidak hanya bagi mereka musafir yang ingin menginap di hotel atau ruang khusus. Tapi dalam semua kegiatan masjid selalu memberikan layanan bagi jamaahnya. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan jemaah masjid perlu menghimpun dana untuk semua kegiatan. Salah satunya adalah melalui infak sedekah dan zakat.

"Keutamaan infak digalakkan. Takmir harus jadi ujung tombak bukan ujung tombok. dana yang dikeluarkan takmir untuk layanan maksimal bagi jemaah. Sejak 1999 tidak pernah buat proposal minta sumbangan," ujarnya.

Rizal menjelaskan infak sedekah yang dihimpun masjid di antaranya kotak infak Shubuh untuk asuransi kesehatan jemaah masjid dan anak-anak. Kotak infak ini setiap minggu sekali dibuka dengan hasil sekitar Rp 4 juta. Kotak Infak hari Jumat untuk operasional Masjid dan kotak infak beras bagi masyarakat ekonomi lemah.

"Shodaqoh beras itu dibuka dua minggu sekali. Paling banyak isi uang kalo beras bisa dua kwintal. Itu jadi dua puluh paket. Masalah ekonomi diperhatikan jadi mereka yang punya masalah ekonomi sebagian masalah mereka diatasi masjid," ujarnya.

Dahulu jumlah Zakat setiap tahun bagi masjid hanya berjumlah belasan Muzakki, sekarang sudah mencapai ratusan. Saat ini sudah mencapai ratusan juta hasil dari ratusan Muzakki di Jogokaryan. Rizal mengatakan takmir masjid memiliki strategi sendiri untuk mendekati Muslim dari kalangan menengah ke atas. Hal ini juga berkaitan dengan kegiatan pengajian di Jogokaryan.

"Menengah ke atas itu punya kualitas maka masjid harus memberikan layanan yang kualitas. maka kalo sudah puas maka mereka puas lalu infaknya banyak," ujarnya.

Rizal mengaku sekitar 15 tahun terakhir masjid Jogokaryan saat ini menjadi masjid yang makmur setelah melalui proses yang panjang. Diantaranya tahun 1999 masjid memiliki manajemen baru. Dimulai dari pendataan warga, lalu diikuti program masjid yang sesuai dengan kelompok usia mereka. Sehingga pengajian anak muda waktunya berbeda dengan orang tua atauapun ibu ibu.

"Ada keluarga alumni dan keluarga muda.ngajinya disesuaikan. Kalo dicampur yang ada yang muda metu mruput ga iso. Maka pengajian anak muda mulai jam setengah sepuluh sampai jam dua belas malam. Kalo tidak dikelompokkan maka yang menang sing tuo atau kasepuhan lalu akhirnya tidak ngaji, makanya dibedakan," ujarnya.

Sementara itu Rizal mengatakan setiap hari habis shubuh takmir masjid menerima jemaah masjid dari luar kota. Mereka belajar tentang kegiatan masjid. Sebab saat ini masjid Jogokaryan juga ditetapkan sebagai wisata rohani oleh pemerintah. Karena kegiatan masjid yang begitu banyak seperti kampung romadlon menjadi ciri khas Kota Jogja.

"Banyak yang datang hampir tiap hari selalu ada ke sini. Belajar bareng. Paling jauh itu dari parlemen Eropa. Sekitar 20 orang. Yang jelas kalo shubuh sampai lantai dua," ujarnya.

Sementara itu pimpinan rombongan masjid Al Iman Tanjungsari Ngesrep Ngemplak Boyolali Iqbal Yasir mengatakan, kedatangan rombongannya ke masjid Jogokaryan Yogya ini untuk mengetahui manajemen masjid. Sebelumnya ia dan rombongan sudah ke masjid Ngreni di simo Boyolali. Ia pun menyempatkan sholat shubuh di masjid Jogokaryan untuk mengetahui dan mengalami langsung kegiatan di masjid Jogokaryan. Rombongannya belajar tentang laporan keuangan, strategi dakwah hingga manajemen masjid.

" Banyak yang dipelajari di Masjid Jogokaryan ini," katanya.