Istana Pamer Lukisan, Galeri Nasional Bikin Tur Pameran

Oleh Ahmad Apriyono pada 14 Agu 2016, 15:00 WIB
Diperbarui 14 Agu 2016, 15:00 WIB
Pameran lukisan Goresan Juang Kemerdekaan
Perbesar
Mike Susanto, kurator pameran lukisan Goresan Juang Kemerdekaan.

Liputan6.com, Jakarta Pameran lukisan “17|71: Goresan Juang Kemerdekaan” yang digagas Istana Kepresidenan mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, mulai dari kolektor, kritikus seni, kalangan akademis, hingga masyarakat umum. Tak hanya menampilkan 28 lukisan istana pilihan dari 21 maestro lukis ternama, pameran ini juga menyajikan berbagai kegiatan menarik seputar seni, salah satunya adalah tur pameran.

Menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Sabtu (13/8/2016), Bey Machmudin, Kepala Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Negara mengatakan, kegiatan tur pameran lukisan ini bertujuan agar masyarakat mendapatkan wawasan yang luas dan lebih mendalam mengenai berbagai koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang dipamerkan.

Tiap minggu selama gelaran tersebut berlangsung mulai dari 2 sampai 30 Agustus 2016, panitia penyelenggara akan mengadakan tur pameran dengan berbagai tema yang berbeda di tiap minggunya. Dibimbing oleh pemandu ahli yang berkompeten di bidangnya, tur pameran ini akan berlangsung selama satu setengah jam dan dilaksanakan dalam dua sesi, yaitu pukul 10.00 dan 13.30 WIB.

Mikke Susanto selaku Kurator pameran tersebut saat ditemui Liputan6.com mengatakan, seni dan istana merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Istana tanpa seni adalah kering, dan seni bisa masuk ke mana saja, termasuk di istana. Di zaman kemerdekaan, seni menjadi suatu hal yang utama, bukan hanya sebagai sebuah tontonan atau pun hiburan melainkan juga menjadi bukti adanya perjuangan.

“Banyak cerita menarik yang perlu masyarakat ketahui di balik berbagai koleksi lukisan istana ini. Ada 15 ribu koleksi tetapi hanya 28 lukisan yang dipamerkan yang sesuai dengan tema perjuangan kemerdekaan, salah satunya lukisan Diponegoro saat ditangkap Belanda. Ini menjadi menarik lantaran Belanda dan Indonesia punya perspektif yang berbeda dalam memandang lukisan ini,” katanya.

Pengunjung memperhatikan lukisan karya Raden Saleh berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro tahun 1857 yang dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (1/8). (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Sementara itu, berkaitan dengan tema tur pameran minggu ini yang mengangkat isu tentang kebijakan istana mengenai koleksi karya seni rupa, Mike mengungkapkan, berbagai lukisan koleksi istana menjadi sangat penting sebagai tolok ukur perkembangan seni rupa di Indonesia.

“Dalam perkembangan sejarah, lukisan-lukisan ini sangat penting nilainya, baik nilai historisnya maupun nilai sosialnya. Pameran ini menjadi penting karena dari sini sejarah seni rupa Indonesia bisa diperbaiki,” katanya.

Minggu ketiga atau tanggal 21 Agustus, tur pameran “17|71: Goresan Juang Kemerdekaan" akan mengusung tema menarik tentang berbagai aliran seni rupa yang menjadi koleksi Istana Kepresidenan. sementara itu di minggu terakhir, tema yang diangkat menyoal tentang inventarisasi, katalogisasi, konservasi, dan sosialisasi pameran seni rupa.