Pertama Kali Koleksi Lukisan Istana Dipamerkan untuk Umum

Oleh Ahmad Apriyono pada 01 Agu 2016, 18:03 WIB
Diperbarui 01 Agu 2016, 18:03 WIB
20160801-Jokowi Didampingi Megawati Buka Pameran Lukisan Koleksi Istana Negara-Jakarta
Perbesar
Presiden Jokowi didampingi Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan sejumlah menteri menghadiri pembukaan pameran seni rupa koleksi Istana Kepresidenan RI bertajuk ‘17:71 Goresan Perjuangan’ di Galeri Nasional, Senin (1/8). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan ke-71 Republik Indonesia, Istana Kepresidenan menggelar pemeran lukisan dan foto yang menjadi koleksi Istana Negara. Resmi dibuka hari ini, Senin (1/8/2016), pameran yang bertajuk “17l17: Goresan Juang Kemerdekaan” akan dibuka untuk umum mulai tanggal 2 hingga 30 Agustus 2016 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Presiden Joko Widodo menyambut baik penyelenggaraan pameran. Menurutnya, pameran lukisan ini merupakan salah satu wujud pertanggungjawaban Istana Kepresidenan yang mendapat amanah merawat koleksi-koleksi terbaik.

“Saya ingin lukisan-lukisan ini akan tetap abadi dan terus-menerus bisa disajikan di hadapan publik seluruh dunia,” ungkap Presiden Joko Widodo.

Pengunjung memperhatikan lukisan karya Raden Saleh berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro tahun 1857 yang dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (1/8). (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengatakan, “Kami ingin memamerkan koleksi istana kita untuk dinikmati oleh masyarakat. Pameran ini adalah pameran yang pertama kali, lukisan-lukisan di Istana dibawa keluar dan dipamerkan. Jadi ini merupakan bentuk penghargaan kepada karya-karya besar kita untuk diketahui, ditelaah, dianalisis, dipelajari, dan menginspirasi bangsa kita secara keseluruhan.”

Dirinya menambahkan, dari sekitar 15 ribu lebih koleksi benda seni yang ada di Istana Kepresidenan, dipilih 28 lukisan fenomenal dari 21 pelukis ternama yang didatangkan khusus dari lima Istana Negara yang dimiliki Indonesia. Tak hanya itu, pameran ini juga akan diisi dengan 100 foto kepresidenan, selain juga sejumlah buku yang menjadi koleksi Istana Kepresidenan.

Pengunjung mengambil gambar dari lukisan Basuki Abdullah dengan gambar Pangeran Diponegoro di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (1/8). Pameran bertajuk 17|71 Goresan Juang Kemerdekaan itu menampilkan 28 koleksi istana. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Selain memamerkan beragam koleksi lukisan Istana, pameran ini juga akan dimeriahkan dengan seminar yang akan membahas karya seni rupa Indonesia dan kaitannya dengan sejarah Indonesia. Tak hanya itu, masyarakat juga bisa mengikuti tur galeri menyaksikan berbagai koleksi Galeri Nasional lengkap dengan penjelasan para ahli, dan lomba lukis untuk anak setingkat SD dengan hadiah jutaan rupiah. 

Berikut daftar para perupa dan karyanya yang ditampilkan dalam pameran ini:

1. Affandi, Laskar Rakyat Mengatur Siasat I, 1946
2. Affandi, Potret H.O.S. Tjokroaminoto, 1946
3. Basoeki Abdullah, Pangeran Diponegoro Memimpin Perang, 1949
4. Dullah, Persiapan Gerilya, 1949
5. Harijadi Sumadidjaja, Awan Berarak Jalan Bersimpang, 1955
6. Harijadi Sumadidjaja, Biografi II di Malioboro, 1949
7. Henk Ngantung, Memanah, 1943 (reproduksi orisinal oleh Haris Purnomo)
8. Kartono Yudhokusumo, Pertempuran di Pengok, 1949
9. Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857
10. SSudjojono, Di Depan Kelambu Terbuka, 1939
11. S Sudjojono, Kawan-kawan Revolusi, 1947
12. S Sudjojono, Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek, 1964
13. S Sudjojono, Mengungsi, 1950
14. S Sudjojono,Sekko (Perintis Gerilya), 1949
15. Sudjono Abdullah, Diponegoro, 1947
16. Trubus Sudarsono, Potret R.A. Kartini, 1946/7
17. Gambiranom Suhardi, Potret Jenderal Sudirman, 1956
18. Soerono, Ketoprak, 1950
19. Ir Sukarno, Rini, 1958
20. Lee Man-Fong, Margasatwa dan Puspita Nusantara, 1961
21. Rudolf Bonnet, Penari-penari Bali sedang Berhias, 1954
22. Hendra Gunawan, Kerokan, 1955
23. Diego Rivera, Gadis Melayu dengan Bunga, 1955
24. Miguel Covarrubias, Empat Gadis Bali dengan Sajen, sekitar 1933-1936
25. Walter Spies, Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9, 1930
26. Ida Bagus Made Nadera, Fadjar Menjingsing, 1949
27. Srihadi Soedarsono, Tara, 1977 
28. Mahjuddin, Pantai Karang Bolong, tahun tak terlacak (sekitar 1950an)