Wisatawan Keluhkan Banyaknya Sampah di Kawasan Wisata Hiu Paus

Oleh Ahmad Apriyono pada 13 Jun 2016, 15:30 WIB
Diperbarui 13 Jun 2016, 15:30 WIB
[Bintang] Hiu Paus
Perbesar
Pemerintah berhasil selamatkan ikan hiu paus di Maluku yang akan dijual ke Tiongkok (foto : ilustrasi ikan Hiu Paus)

Liputan6.com, Jakarta Sejumlah pengunjung mengeluhkan banyaknya sampah yang bertebaran di kawasan perairan Wisata Hiu Paus di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

"Saya beberapa kali ke kawasan wisata itu. Tapi karena banyak sampah, jadinya tidak nyaman lagi. Sepertinya peraturan yang ada tidak ditaati sebagian pengunjung," kata salah seorang warga kepada Antara, Nuryana, Minggu (12/6/2016).

Diungkapkan Nuryana, sampah terutama plastik banyak mengambang dan kerap terhirup masuk ke dalam mulut hiu paus saat hewan itu diberi makan.

Ia berharap pengelola bisa menertibkan pengunjung dan bila perlu memberi denda bagi yang membuang sampah ke laut.

"Jika tidak ditindak tegas, maka wisata hiu paus ini tidak akan dikunjungi wisatawan terutama mancanegara," katanya.

Ketua Komunitas Sadar Wisata Hiu Paus, Yansur Pakaya, mengakui perairan Botubarani kini banyak sampah setelah obyek wisata itu dibuka untuk umum.

"Sulit sekali menertibkan pengunjung. Bahkan kami harus mengangkat sendiri sampah dari perairan itu, meski tidak mampu jika harus melakukannya setiap hari," ujarnya.

Komunitas yang beranggotakan warga dan nelayan setempat itu, menurut dia, sering mengimbau pengunjung untuk tidak membuang sampah ke laut.

Sampah berasal dari sisa kantong berisi udang untuk makanan hiu, serta dari sampah dari makanan pengunjung.

Setiap minggu pengujung wisata hiu paus bertambah, bahkan pernah mencapai 2.000 orang dalam seminggu.

"Pengunjung paling banyak Sabtu dan Minggu. Kami mencatat setiap tamu yang masuk dalam buku tamu sehingga bisa terdata jumlah orang yang datang," kata salah seorang warga yang turut mengelola wisata tersebut, Ridwan Abdul Latif.

Menurutnya pengunjung yang naik perahu lebih banyak, dibanding yang berenang menuju area hiu paus muncul. (Debby Mano)