Generasi Milenial Sulit Menabung?

Oleh Indy Keningar pada 31 Jul 2015, 11:35 WIB
Diperbarui 13 Feb 2016, 08:33 WIB
Generasi Milenial Sulit Menabung?

Liputan6.com - Menurut studi terbaru, muda-mudi usia di bawah 35 tahun masa kini, atau yang disebut generasi milenial, adalah orang-orang yang tidak menabung. Studi yang dilakukan oleh Moody’s Analytics itu menunjukkan tingkat menabung orang-orang usia tersebut menurun hingga negatif 2%. Artinya, mereka menghabiskan lebih banyak dari yang mereka hasilkan.

Seperti dilansir dari situs CNN.com pada Jumat (31/7/2015), kelompok generasi ini adalah yang satu-satunya memiliki tingkat tabungan negatif. Sebagai perbandingan, pekerja dengan usia antara 35 sampai 44 tahun memiliki tingkat tabungan positif, yaitu 3%.

Walau baru-baru ini, lowongan kerja mengalami peningkatan (dengan tingkat pengangguran yang menurun 5,8 persen pada bulan Oktober di AS), kaum milenial kini berjuang jauh lebih keras dalam menyeimbangkan pendapatan dan kebutuhan.

Namun, sekarang ini gaji karyawan stagnan, hampir tidak berubah sejak era 90-an. Sehingga, bahkan dengan tingkat pengangguran rendah, generasi milenial kesulitan mencari nafkah. Banyak dari pendapatan tersebut terpakai untuk membayar pajak kuliah dan mempertahankan keterampilan yang diperlukan untuk tetap kompetitif di lapangan pekerjaan.

Beberapa tahun lalu, keadaan mulai memburuk. Sejak 2004 sampai 2009, milenial memiliki tingkat tabungan negatif berturut-turut, dengan yang terendah di 2007 dengan defisit hampir 15%, menurut Moody’s. Keadaan sempat membaik di tahun 2009, dan bertahan sampai 2012 sebelum kembali ke jumlah negatif.

Banyak generasi milenial dengan pendidikan kuliah mampu mendapatkan pekerjaan profesional, namun mereka memiliki mobilitas vertikal terbatas, menurut dosen keuangan Babson College, Dr. John Edmunds. “Generasi Milenial pada dasarnya menanti yang di atas mereka pensiun atau tutup usia,” ungkap Dr. Edmunds. “Namun generasi baby boomers (mereka yang lahir tahun 50-60an) tidak menyerah semudah itu.”

(ikr)