Tanah Abang di Mata Desainer Itang Yunasz

Oleh Bio In God Bless pada 15 Mei 2015, 15:35 WIB
Diperbarui 15 Mei 2015, 15:35 WIB
Itang Yunasz 7
Perbesar

Liputan6.com, Jakarta Bila pergi menuju Blok B Tanah Abang dengan menggunakan kereta, turunlah di Stasiun Karet kemudian naik mobil angkutan umum ke sana. Ini akan lebih memudahkan Anda ketimbang turun di Stasiun Tanah Abang. Sebab bila turun di stasiun tersebut, Anda harus berjalan kaki cukup jauh ke tempat yang dituju.

Kekhasan pusat grosir baju dan tekstil yang diisi dengan lalu lalang pengunjung, interaksi tawar-menawar, atau suara-suara penjaga toko yang menjajakan dagangannya menjadi atmosfer harian yang mengisi Blok B Tanah Abang. Namun sedikit berbeda suasana di tempat itu pada Kamis, 30 April 2015. Marka pembatas yang terbentang memanjang di antara toko-toko berujung pada area panggung di Inner Court Blok B Tanah Abang.

Pengunjung-pengunjung yang terpancing rasa penasarannya mengambil posisi tonton di sekitar wilayah itu, termasuk dipinggiran garis pembatas. Gerak tari Saman dan riuh suara yang mengiringinya semakin menarik perhatian pengunjung dari pasar yang sudah lahir sejak zaman Belanda itu. Tarian inilah yang membuka fashion show busana Muslim dari desainer ternama Indonesia, Itang Yunasz.

Judul `Puspa Ragam Andalas` yang diberikan untuk koleksi Ramadhan dan Idul Fitri ini merujuk pada kekayaan warna-warni motif songket yang terhampar layaknya bunga di bentang kebudayaan Sumatra. “Ada beberapa motif dari Aceh hingga Palembang yang dimasukkan dalam koleksi ini. Di koleksi ini, Kamilaa memberikan banyak ragam pilihan untuk masyarakat, mulai dari tunik, gamis, kaftan, jaket, celana, rok, dan lain sebagainya,” ucap Itang kepada Liputan6.com di butiknya di kawasan Permata Hijau sehari sebelum fashion show dilangsungkan.

Wajar bila banyak yang heran tentang inisiatif Itang untuk membuat pagelaran busana bukan di hotel mewah berbintang 5 melainkan di sebuah pusat grosir mengingat namanya sudah punya kredit tersendiri di dunia fesyen tanah air. Hal ini pun diamini oleh sang desainer dengan mengatakan, “Banyak orang yang tak yakin saat saya menjajaki pasar Tanah Abang”.

Satu hal yang Itang lihat dari pasar itu adalah potensi. Apa yang dilihatnya ini menjadi semakin jelas setelah label Kamilaa – yang ditujukan untuk segmen pasar itu – berjalan selama 3 tahun.

“Kamilaa berdiri pada tahun 2012. Ini merupakan kontribusi fesyen saya untuk masyarakat level menengah ke bawah. Tapi yang cukup mengejutkan adalah bahwa masyarakat menengah ke atas pun ternyata suka dengan label Kamilaa,” ucap desainer alumni Lomba Perancang Mode Femina yang kala diwawancara mengenakan baju koko. Dikatakan Itang bahwa sejak terjun sebagai desainer fesyen, obsesinya adalah menciptakan busana-busana untuk segala lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada di segmentasi pasar seperti Tanah Abang.

Harga produk-produk Kamilaa berkisar di rentang Rp 100 ribu - Rp 300 ribu. Sebagian produk spesial teruntuk momen seperti Idul Fitri dihargai hingga Rp 600 ribu karena penggunaan material yang berbeda. Gerai busana Itang yang menawarkan produk-produk berharga terjangkau itu segera dipenuhi para pengunjung setelah fashion show hari itu dirampungkan. Itang pun turut berada di sana.

Dipadatinya gerai Kamilaa ini yang bisa dilihat sebagai contoh dari apa yang dikatakan Itang bahwa masyarakat lapisan menengah ke bawah juga excited dengan fesyen. “Mereka melihat apa yang dikenakan oleh para selebriti. Terhadap hal ini perlu diberikan arahan. Itulah yang coba disyiarkan oleh Kamilaa,” demikian desainer yang mendeklarasikan diri sebagai perancang busana Muslim di tahun 2000 itu melontarkan pandangannya soal fenomena fesyen di Indonesia.

Melalui label Kamilaa – dan juga Preview untuk busana pria – Itang bukan cuma membuat fesyen menjadi terjangkau oleh berbagai lapisan. Dihadirkannya karya-karya seorang perancang busana di Blok B Tanah Abang sekaligus merupakan bentuk latih rasa bagi konsumen di pasar tersebut. Tanah Abang bukan cuma perlu penataan ulang secara fisik. Pusat dagang tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara ini juga butuh suntikan ide fesyen.

Semakin familiar masyarakat dengan dunia fesyen diharapkan berdampak pada semakin terdorongnya pertumbuhan dan perkembangan dunia fesyen Indonesia. Siapa lagi desainer Indonesia yang akan mengikuti jejak kaki Itang menuju pasar Tanah Abang? (bio/ret)