Perkenalkan si Birus, Primadona Bersisik dari Tanjung Lesung

Oleh Aria Sankhyaadi pada 16 Mar 2015, 14:00 WIB
Diperbarui 16 Mar 2015, 14:00 WIB
Perkenalkan si Birus, Primadona Bersisik dari Tanjung Lesung
Perbesar
Agrowisata salak Birus jadi alternatif wisata saat ke Tanjung Lesung.

Liputan6.com, Banten Siapa yang menyangka jika Tanjung Lesung yang berjarak 180 kilometer dari Jakarta ini menyimpan pesona lain selain wisata bahari yaitu agrowisata. Pasalnya, bertempat di kampung Cikadu, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten terdapat agrowisata salak Birus.

Agrowisata si buah bersisik tersebut masih dalam naungan manajemen yang sama dengan kawasan wisata Tanjung Lesung yaitu PT Banten West Java Tourism Development (BWJ), anak perusahaan PT Jababeka Tbk. Agrowisata Salak Birus akan menawarkan berbagai bentuk kegiatan menarik kepada para wisatawan sehingga ke depannya, agrowisata salak Birus dapat juga menjadi wisata edukasi.

"Luas total kebun salak Birus ini adalah 8000 meter persegi dan sudah hampir setengahnya telah ditanami dengan pohon salak berjenis Birus," ucap Alia Syarifiah, Marketing Promotion Officer Tanjung Lesung.

2 dari 3 halaman

Tampilan Salak Birus

Perkenalkan si Birus, Primadona Bersisik dari Tanjung Lesung
Perbesar
Agrowisata salak Birus jadi alternatif wisata saat ke Tanjung Lesung.

Lantas seperti apakah tampilan dari salak Birus, salak khas dari kampung Cikadu, Tanjung Lesung? Salak Birus mempunyai ukuran yang jauh berbeda dengan salak pada umumnya. Bentuknya yang terbilang mungil, membuat wisatawan yang menikmati salak Birus akan susah berhenti mengunyah menikmati salak ini.

3 dari 3 halaman

Proses Penyerbukan

Perkenalkan si Birus, Primadona Bersisik dari Tanjung Lesung
Perbesar
Agrowisata salak Birus jadi alternatif wisata saat ke Tanjung Lesung.

Waktu yang dibutuhkan dari masa pembibitan, penyerbukan, perawatan hingga masa panen adalah tujuh sampai dengan delapan bulan. Hal unik lainnya dari salak birus adalah proses penyerbukannya yang masih menggunakan cara manual yaitu dengan menggunakan bantuan manusia.

"Penyerbukan salak Birus masih kami lakukan secara manual yaitu dengan menaburkan serbuk jantan ke bunga betina. Setelah dilakukan penyerbukan, maka akan tumbuh cikal bakal buah yang nantinya akan siap dipanen," ucap Nana Suryana, salah seorang petani yang mengelola kebun salak Birus.

Lebih lanjut, Liputan6.com pun mendapat kesempatan langsung untuk memanen salak Birus langsung dari pohonnya dan kemudian mencicipi salak mungil tersebut. Alhasil, rasa salak Birus tak kalah dengan varian salak yang ada pada umumnya. Perbedaannya dengan salak biasanya adalah hanya pada ketebalan daging yaitu daging salak Birus lebih tipis dibanding dengan salak jenis Pondoh.






Lanjutkan Membaca ↓