Ternyata Pemuda di Jatim Lebih Banyak Bekerja di Desa, Kenapa?

Oleh Liputan6.com pada 21 Jul 2022, 09:00 WIB
Diperbarui 21 Jul 2022, 09:00 WIB
Ilustrasi pedesaan
Perbesar
Ilustrasi pedesaan. (Photo by Robson Hatsukami Morgan on Unsplash)

Liputan6.com, Jatim - Persentase pemuda laki-laki di Jawa Timur lebih banyak bekerja di wilayah perdesaan dibanding perkotaan dengan perbandingan 64,69 persen berbanding 64,41 persen.

Sebaliknya, persentase pemuda laki-laki yang bersekolah di perdesaan lebih rendah dibandingkan pemuda di perkotaan (15,63 persen berbanding 18,51 persen).

Hal itu tercatat dalam Laporan Statistik Pemuda Provinsi Jawa Timur Tahun 2021 yang dipublikasikan di laman resmi Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (BPS Jatim), Juli 2022.

Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan mengatakan bahwa untuk persentase pemuda perempuan di perkotaan baik yang bekerja maupun yang bersekolah menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.

"Sedangkan kegiatan mengurus rumah tangga lebih banyak dilakukan oleh pemuda perempuan di perdesaan daripada pemuda perempuan di perkotaan," katanya, Rabu (20/7/2022).

Berdasarkan tingkat pendidikan, pemuda Jatim yang bekerja didominasi oleh pemuda yang tamat SMA/sederajat sebesar 52,27 persen, sementara persentase pemuda bekerja yang tamat perguruan tinggi hanya sebesar 15,35 persen.

Persentase terkecil adalah persentase pemuda bekerja yang tidak bersekolah atau tidak tamat SD, yaitu hanya sebesar 1,77 persen.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Daya Saing

Terlihat perbedaan pola tingkat pendidikan antara pemuda yang bekerja di perkotaan dengan perdesaan. Di perkotaan, lebih dari setengah pemuda yang bekerja berpendidikan tamat SMA/sederajat ke atas 75,84 persen.

Dadang menyebut hampir separuh pemuda di perdesaan yang bekerja berpendidikan di bawah SMA/sederajat (43,43 persen).

"Dengan pendidikan yang rendah, tentu saja akan mempengaruhi daya saing pemuda perdesaan di pasar kerja dibandingkan pemuda perkotaan," jelasnya.

Di samping itu berdasarkan jenis kelamin, terlihat bahwa persentase pemuda laki-laki berpendidikan SMA ke bawah yang bekerja cenderung lebih tinggi dibandingkan perempuan.

"Sementara itu, pada jenjang perguruan tinggi, persentase pemuda perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki (23,10% berbanding 10,14 persen)," ia menambahkan.

 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya