Partisipasi Pemilih Perempuan Lebih Tinggi di Jawa Timur

Oleh Liputan6.com pada 15 Jul 2022, 19:00 WIB
Diperbarui 15 Jul 2022, 19:00 WIB
Partisipasi Pemilih Perempuan Lebih Tinggi di Jawa Timur
Perbesar
ilustrasi pemilu/copyright Shutterstock

Liputan6.com, Jakarta Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur menyebutkan partisipasi perempuan juga cenderung mengalami peningkatan pada setiap jenis pemilihan.

Koordinator Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat KPU Jawa Timur Gogot Cahyo Baskoro mengatakan berdasarkan data, jumlah pemilih perempuan pada Pemilu 2019 sebanyak 15.686.939 pemilih dari total pemilih 30.912.994 orang.

Perbandingannya, kata dia, selisih dua persen lebih banyak daripada pemilih laki-laki.

Sedangkan, tingkat partisipasi pemilih perempuan pada Pemilu 2014 dan Pemilu 2019 meningkat sebanyak 9,28 persen. Untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden sebanyak 6,61 persen untuk Pemilu DPR.

Berikutnya, meningkat sebanyak 6,66 persen untuk Pemilu DPD, sebanyak 6,52 persen untuk Pemilu DPRD Provinsi, dan sebanyak 6,51 persen untuk Pemilu DPRD Kabupaten/Kota.

"Hal tersebut menunjukkan bahwa perempuan kecenderungan punya kesadaran tinggi untuk berpartisipasi dalam Pemilu," ucap Gogot saat sosialisasi peningkatan partisipasi masyarakat guna kesuksesan Pemilu 2024, dilansir Antara, Jumat (15/7/2022).

Menurutnya, pemilih perempuan merupakan potensi besar yang perlu dimanfaatkan dalam rangka menyukseskan Pemilu 2024. 

Ia juga menyampaikan jika dibandingkan dengan laki-laki pada Pemilu 2019, partisipasi perempuan juga cenderung mengalami peningkatan pada setiap jenis pemilihan.

Saksikan video pilihan berikut ini:

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Rentan Dimobilisasi

Namun, potensi besar tersebut masih memiliki sejumlah kekurangan. Salah satu alasannya adalah perempuan rentan dimobilisasi, baik pada saat maupun di luar pemilu.

"Pemilih perempuan cenderung masih bisa diarahkan, masih mudah dipengaruhi," katanya.

Selain itu, keadaan kultural juga mempengaruhi cara pandang perempuan terhadap dunia politik.

"Alasan tersebut berdampak pada belum banyaknya perempuan yang menduduki posisi strategis. Sehingga beberapa hal yang menyangkut kepentingannya sendiri terabaikan," tutur mantan komisioner KPU Jember itu.

Gogot menjelaskan, alasan KPU Jatim memprioritaskan perempuan sebagai salah satu segmen sosialisasi dan pendidikan pemilih.

Pemilu 2024 digelar serentak pada tanggal 14 Februari yang akan memilih anggota legislatif tingkat kabupaten/kota, provinsi, pusat, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, serta pemilihan presiden/wakil presiden.

Pada tanggal 27 November 2024 diselenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada) untuk memilih bupati/wali kota serta gubernur. 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya