Cerita Pelaku UMKM Banyuwangi Bisa Jual Tas 10 Ribu Buah Per Bulan

Oleh Liputan6.com pada 25 Jun 2022, 06:00 WIB
Diperbarui 25 Jun 2022, 06:00 WIB
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Perbesar
Kunjungan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di sela Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Rabu (22/6/2022).

Liputan6.com, Banyuwangi - Semangat untuk bangkit dari imbas pandemi Covid-19 terus digelorakan para pelaku UMKM di Banyuwangi, Jawa Timur meski wabah ini belum sepenuhnya berakhir.

Salah satu pelaku UMKM Banyuwangi tersebut adalah Arila Ika, pemilik usaha tas spunbond asal Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo. Berkat semangat pantang menyerahnya, usaha yang sempat terpuruk pada masa awal Covid-19, kini sudah kembali bergeliat.

"Sudah berangsur pulih dan pesanan tas saya mulai banyak," cerita Arila saat dikunjungi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di sela Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Rabu (22/6/2022).

Dalam sebulan, Arila bisa menjual 6.000-10.000 buah tas spunbond dengan berbagai ukuran. Baik yang rutin dipasarkan di sejumlah supermarket, maupun orderan langsung dari masyarakat. Harga yang ditawarkan mulai Rp 1.500-Rp 15.000 per buah, tergantung ukuran dan ketebalan bahannya.

"Selain menerima pesanan areal Banyuwangi, kami juga pasarkan secara online lewat e-commerce," ujar Arila.

Sebelum pandemi, pemilik usaha 'Bangorejo Collection' itu mengatakan setiap bulan bisa menjual lebih dari 15.000 buah tas spunbond.

Meski kini secara jumlah menurun, pihaknya bersyukur usahanya sudah kembali bergeliat. Orderan tasnya mulai banyak. Bahkan sejak dua bulan terakhir Arila mulai membuat produk baru, kotak hantaran dan suvenir.

"Kita manfaatkan kain-kain dan bahan sisa supaya tidak terbuang. Alhamdulillah respon pasar juga bagus," kata Arila.

 


Berdayakan Ibu-ibu dan Penyandang Disabilitas

Arila menceritakan, usahanya membuat tas spunbond mulai dirintis pada 2014. Dia mengelola usahanya bersama suami. Saat ini, mereka memiliki 20 pekerja yang bertugas menjahit, menyerut, memotong bahan, serta memasang asesoris.

Mereka memberdayakan ibu-ibu dan warga di sekitar tempat tinggalnya. Termasuk penyandang disabilitas. Tiga orang dari puluhan pekerjanya adalah penyandang disabilitas.

Bupati Ipuk Fiestiandani bangga dengan semangat dan usaha pantang menyerah para pelaku UMKM.

"Terima kasih untuk tidak menyerah dengan keadaan," kata Ipuk.

Ipuk juga mengapresiasi keputusan Arila dan suami memberikan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.

"Ini patut dicontoh para pengusaha yang lain. Teman-teman disabilitas juga sama seperti lainnya. Memberikan kesempatan mereka untuk berkarya, artinya kita membantu mereka untuk berdaya," ujar Ipuk.

Seorang teman daksa, Krisna, mengaku senang bisa bekerja di Bangorejo Collection.

"Alhamdulillah ada yang mau nerima (kerja). Bersyukur sekali saya bisa kerja dekat rumah," kata Krisna yang kebagian tugas menjahit.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya