Meraup Cuan dari Budidaya Maggot di Surabaya, Omsetnya Bisa Capai Ratusan Juta

Oleh Liputan6.com pada 23 Jun 2022, 12:00 WIB
Diperbarui 23 Jun 2022, 12:00 WIB
Budi Daya Maggot untuk Kurangi Sampah Organik
Perbesar
Petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta saat memasukkan daun untuk tempat bertelur lalat BSF di kawasan Tanjung Priok, Kamis (24/6/2021). Ulat maggot yang telah berusia 21 hari hasil budi daya digunakan sebagai pakan ternak seperti ikan dan unggas. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Surabaya - Rumah Padat Karya Krembangan atau rumah maggot diresmikan langsung oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Rabu (22/6/2022). Di aset Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya itu, warga Krembangan melakukan budidaya maggot lalat BSF (black soldier fly), beternak ayam, budidaya ikan, hingga sayur organik.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Eri mengaku bangga sudah bisa meresmikan rumah maggot di Krembangan. Pasalnya, rumah maggot itu yang menggerakkan adalah warga, yang mengajarkan dan mengerjakan budidaya itu juga warga Krembangan sendiri.

"Apalagi ini juga bisa mempekerjakan warga masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sehingga gotong-royong yang diajarkan oleh Bung Karno dalam Pancasila, benar-benar diterapkan dan ditunjukkan oleh warga Krembangan ini," sebutnya.

Ia juga mengakui bahwa sebenarnya sudah ada salah satu pabrik yang meminta maggot 6 ton perhari kepada Pemkot Surabaya. Kalau bisa memenuhi 6 ton perhari, maka dipastikan akan banyak tenaga kerja yang terserap dari MBR Krembangan.

"Kalau kita jual Rp4 ribu perkilogram, berarti 6 ton sekitar Rp24 juta perhari atau Rp720 juta perbulannya. Nah, kalau saya menargetkan setiap MBR punya penghasilan Rp3 juta, maka ada sekitar 240-an orang MBR yang bisa memenuhi target 6 ton ini. Itu hanya satu pabrik saja, belum lagi yang lainnya," kata dia.

Bahkan, kalau maggot lalat itu bisa dikeringkan dan dikirim ke luar negeri atau ekspor, bisa dijual hingga 4 US dan kalau dikeringkan untuk lokal saja, harganya bisa Rp 8 ribuan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Upaya Pengentasan Kemiskinan

Oleh sebab itu ia berharap budidaya maggot tersebut bisa terus dikembangkan supaya bisa diekspor dan bisa mengentas kemiskinan MBR di Krembangan.

"Nah, apa saja kebutuhan untuk bisa ekspor itu, nanti kita penuhi fasilitasnya, jadi biarkan warga itu bergerak," tegasnya.

Sementara itu, Camat Krembangan Ario Bagus Permadi menjelaskan bahwa Rumah Maggot ini untuk merespon angka MBR yang ada di Kecamatan Krembangan. Kala itu, ia diminta untuk mengidentifikasi aset pemkot yang tidak terpakai, sehingga ditemukanlah aset tersebut.

"Kebetulan, Ketua RW sudah melakukan budidaya Maggot Lalat BSF di lantai 2 Balai RW, sehingga itu dikembangkan ke tingkat kecamatan," jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tantangan ekspor yang disampaikan oleh Wali Kota Eri memang menjadi mimpi dia dan warganya ke depan. Sebab, apabila aset itu dimaksimalkan dan bisa berkolaborasi juga dengan tempat lainnya, maka target ekspor sangat memungkinkan.

"Sementara ini kapasitas produksinya memang masih 30 persen, kita akan genjot dulu hingga 100 persen, dan selanjutnya baru berpikir untuk ekspor," ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Krembangan Madani, Johan Tri Cahyono mengatakan sementara ini memang masih memproduksi maggot 100 kilogram perhari, dan sebenarnya itu bisa digenjot lagi hingga 150-175 kilogram perhari dengan fasilitas yang ada.

"Bahkan, kalau fasilitas raknya ditambahkan, tentu produksi maggotnya akan semakin banyak," ia menambahkan.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya