Kasus DBD Menggila, DPRD Surabaya Desak Pemerintah Galakkan Fogging

Oleh Liputan6.com pada 28 Jan 2022, 19:00 WIB
Diperbarui 28 Jan 2022, 19:00 WIB
Fogging Cegah Demam Berdarah
Perbesar
Petugas melakukan pengasapan atau fogging di kawasan perumahan Jalan Delima Raya, Jakarta Barat, Senin (25/10/2021). Pemyemprotan guna membasmi nyamuk Aedes aegypti yang menyebabkan penyakit demam berdarah (DBD) saat musim hujan di kawasan pemukiman warga. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Surabaya - Kasus kematian akibat Demam Berdarah Dounge (DBD) di Jawa Timur terus meningkat. Menyikapi kejadian itu, Wakil Ketua Komisi D Bidang Pendidikan dan Kesehatan DPRD Surabaya Ajeng Wira Wati mendesak agar Pemkot segera melakukan pengasapan ke beberapa wilayah di Kota Surabaya.

"Agar Pemkot melakukan pemetaan, untuk wilayah- wilayah yang terdata rawan penularan DBD ini agar segera dilakukan pengasapan (Fogging),"kata Ajeng, Jumat (28/01/2022).

Ajeng menjelaskan, data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya mencatat, total pasien DBD di rumah sakit mulai menginjak angka ratusan pasien dan terus menunjukan tren penambahan setiap hari.

Dinkes Surabaya mencatat saat ini, RS Soewandhi telah merawat sebanyak 46 pasien, RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) ada sebanyak 22 pasien, dan 31 pasien lainnya yang melakukan rawat jalan di beberapa kecamatan di Surabaya.

"Fogging sebaiknya dilakukan,terlepas penting atau tidaknya minimal ada upaya pencegahan. Pemkot sudah memiliki anggaran besar, sebaiknya preventifnya juga ditingkatkan," tegas Ajeng.

 


Sosialisasi dan Edukasi

Ilustrasi nyamuk penyebab DBD.
Perbesar
Ilustrasi nyamuk penyebab DBD. Foto oleh Anuj dari Pexels.

Selain langkah pengasapan lanjut Anggota DPRD Surabaya dari Fraksi Gerindra juga meminta adanya sosialisasi dan edukasi lagi tentang pencegahan DBD ke setiap warga. Seperti halnya digitalisasi informasi, dalam bentuk video pencegahan dan penanganan DBD.

"Agar Pemkot secepatnya mengambil langkah-langkah, Satgas kesehatan diterjunkan, edukasi cepat dan bisa secara online karena sekarang sudah serba digital untuk menghindari berkerumun dengan warga," imbau Ajeng.

Menyikapi persoalan ini kata Ajeng, sejatinya Pemkot Surabaya telah memiliki program penanganan DBD. Bahkan Dinkes telah menyampaikan kajian secara ilmiah bahwa kenaikan DBD ditengarai siklus 3 tahunan.

"Kajian secara ilmiah sudah disampaikan Dinkes, sehingga petugas yang dilapangan ini jangan hanya menerima laporan saja, ada keluhan kasus, ada permintaan warga langsung ditangani,"jelasnya.

Pihaknya juga mengimbau kepada seluruh warga Surabaya agar lebih menjaga kebersihan lingkungan dan taat terhadap 3 M seperti menguras, menutup dan mengubur barang bekas agar penularan DBD di Surabaya bisa ditekan.

"Mari kita tegakkan kembali 3 M, agar lingkungan kita bersih dan tentunya ini adalah salah satu langkah agar penularan DBD bisa kita tekan bersama," Ajeng Wira Wati.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya