Fakta-Fakta Unik Embun Es Dieng yang Kini Tengah Diburu Wisatawan

Oleh Liputan6.com pada 06 Jul 2022, 12:00 WIB
Diperbarui 06 Jul 2022, 12:00 WIB
Embun es berpotensi muncul pada Dieng Culture Festival 2019. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Embun es berpotensi muncul pada Dieng Culture Festival 2019. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Embun es di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah kembali menjadi buruan setelah kemunculannya pada akhir Juni 2022 lalu. Fenomena ini lantas memicu melonjaknya angka kunjungan wisatawan lebih dari 40 persen.

Kemunculan embun es yang disebut bun upas oleh masyarakat lokal ini memicu meningkatnya angka kunjungan wisatawan, terutama pada akhir pekan.

“Kalau untuk embun upas itu sangat berpengaruh, Mas. Setelah kemarin pemberitaan oleh teman-teman media, kemudian itu menjadikan wisatawan penasaran, untuk menyaksikan embun upas di musim ini,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Objek Wisata Dieng, Sri Utami, Selasa (5/7/2022).

Sebelumnya, angka kunjungan berkisar 15 ribu orang per hari, namun setelah munculnya embun es naik menjadi 21 ribu orang per hari.

Wisatawan banyak berkunjung dan menginap di Dieng untuk berburu embun es. Embun es lazimnya muncul pada dinihari, kisaran pukul 03.00 WIB dan mulai mencair pada pukul 06.30 WIB.

Selain meningkatkan kunjungan wisata di objek wisata di Dieng, embun es juga membuat okupansi penginapan meningkat tajam.

“Itu terbukti di angka kunjungannya, meningkat luar biasa, weekend sebelum embun upas, dan weekend setelah embun upas,” dia menjelaskan.

Sri Utami menambahkan, embun es adalah fenomena tahunan yang biasanya muncul pada musim kemarau. Diperkirakan embun es berpotensi muncul hinggga September mendatang, meski tidak setiap hari. Sebab, puncak musim bediding atau dingin biasanya terjadi antara Juni-September.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:


Muncul pada Puncak Kemarau

Embun es Dieng. (Foto: Liputan6.com/UPT Dieng/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Embun es Dieng. (Foto: Liputan6.com/UPT Dieng/Muhamad Ridlo)

Berdasar catatan BMKG, embun es biasanya memang muncul pada puncak kemarau antara Juli-Agustus. Meski tak bisa diprediksi secara tepat kapan waktu munculnya embun es, beberapa parameter bisa menjadi petunjuk.

Antara lain, suhu siang rata-rata yang turun kisaran 10-12 derajat Celcius. Hampir bisa dipastikan, pada dinihari suhu akan turun lagi di kisaran lima derajat Celcius. Saat itu lah, embun es berpotensi muncul di Dieng.

Tak dipungkiri, munculnya embun es ini membuat masyarakat penasaran. Banyak wisatawan yang sengaja berkunjung ke Dieng untuk memburu penampakan embun es, atau hanya sekadar ingin menikmati sensasi suhu titik beku pegunungan Dieng.

Tentu wisata minat khusus ini mesti dipersiapkan sebaik mungkin. Pasalnya, wisatawan akan berhadapan dengan suhu ekstrem di luar ruangan terutama pada saat munculnya embun es, sekitar dini hari.

Embun upas biasa terjadi di daerah dataran tinggi terutama pada puncak musim kemarau. Di wilayah tropis seperti Indonesia, suhu yang sangat dingin biasanya hanya terjadi pada dataran tinggi.

Hal ini disebabkan pada lapisan troposfer, suhu udara akan mengalami penurunan seiring ketinggian suatu tempat. Semakin tinggi suatu tempat, suhunya semakin dingin.

 


Terjadi di Dataran Tinggi

Embun es menyelimuti kompleks Candi Arjuna, Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, 25-26 Juli 2018. (Foto: Liputan6.com/Pokdarwis Pandawa/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Embun es menyelimuti kompleks Candi Arjuna, Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, 25-26 Juli 2018. (Foto: Liputan6.com/Pokdarwis Pandawa/Muhamad Ridlo)

Peristiwa embun es di Indonesia hanya mungkin terjadi di dataran tinggi. Kompleksitas bentuk muka tanah seperti gunung dan lembah turut menyumbang variasi suhu permukaan.

“Faktor berikutnya adalah vegetasi dan danau di sekitar yang berkontribusi kepada variasi kelembapan udara di lokasi tersebut,” kata staf Stasiun Geofisika Banjarnegara, Mohamad Burhanudin yang dihubungi melalui sambungan telepon.

Embun upas akan terbentuk saat wilayah Jawa Tengah mulai memasuki musim kemarau. Ketika musim kemarau, kondisi langit relatif tidak ada tutupan awan.

Pada siang hari, radiasi matahari akan langsung menerpa daratan sehingga akan terasa lebih terik. Sebaliknya, pada malam hari radiasi matahari yang tersimpan selama siang hari akan terpancar tanpa hambatan.

Tanpa awan, tidak ada yang menahan radiasi panas matahari, sehingga suhu udara di permukaan akan terasa sangat dingin terutama pada dini hari menjelang pagi.

“Suhu bisa mencapai 5 derajat, bahkan di bawah nol. Pada suhu inilah biasanya embun es terbentuk,” ujar dia.

Faktor keempat adalah aliran massa udara di wilayah belahan bumi selatan, termasuk Jawa Tengah, didominasi angin timuran yang membawa massa udara dingin dan kering dari Benua Australia.

Beberapa faktor tersebut saling terkait dan mendorong munculnya fenomena embun beku di dataran tinggi Dieng.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya