Kisah Haru Wafatnya Sayyidah Khadijah dan Kain Kafan yang Dibawa Malaikat Jibril

Oleh Muhamad Husni Tamami pada 29 Mei 2022, 18:00 WIB
Diperbarui 29 Mei 2022, 18:00 WIB
Ilustrasi Sayyidah Khadijah RA
Perbesar
Ilustrasi. (Foto: Pixabay.com/pezibear)

Liputan6.com, Semarang - Sayyidah Khadijah RA merupakan istri Nabi Muhammad SAW yang pertama. Ketika dipersunting Nabi SAW, beliau berusia 40 tahun, sementara Nabi SAW berusia 25 tahun.

Khadijah merupakan istri yang paling dicintai Nabi SAW dan memiliki jasa yang sangat besar bagi keberlangsungan dakwah Islam. Oleh sebab itu, meskipun telah tiada, Rasulullah SAW kerap menyebut namanya.

Sepeninggal Khadijah RA, Rasulullah SAW sangat sedih hatinya. Sedih karena kehilangan sosok istri yang taat dan senantiasa mendukung dakwahnya, baik dalam kondisi senang dan sedih. Sedih karena kehilangan sosok yang mampu memberikan dukungan dan motivasi dari awal turunnya wahyu hingga dakwah Islam yang penuh tantangan dan tekanan.

Ketika dirinya memiliki firasat bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, Khadijah RA meminta putrinya Fatimah RA untuk meminta Sorban Nabi SAW sebagai kain kafannya. Sebagai seorang istri yang taat, menjelang wafatnya saja masih menunjukkan ketaatan kepada suaminya, yakni memiliki rasa malu dan takut meminta langsung kepada Nabi meskipun yang diminta merupakan hal yang sifatnya biasa dan sederhana.

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal.

“Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri,” ucap Khadijah.

Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah SWT menitipkan salam untukmu, dan telah dipersiapkan surga sebagai tempatmu”.

Dengan tenang, Khadijah RA, mengembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Rasulullah SAW. Dipeluknya erat-erat jasad Khadijah RA, dengan perasaan sedih dan pilu yang teramat sangat. Tak terasa, tumpahlah air mata mulia Rasulullah SAW dan semua orang yang menungguinya ketika itu.

Gambaran ketenangan seorang hamba kala menghadap Allah SWT tergambar dalam Al Qur’an Surat Al-Fajr ayat 27-30:

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ. ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً. فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى. وَٱدْخُلِى جَنَّتِ

Artinya: "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.”

 

Saksikan Video Pilihan Ini:


Kain Kafan dari Langit

Dalam suasana yang dipenuhi kesedihan itu, datanglah malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.

Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”

“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”

“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh sangat luar biasa. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau berikan untuk kepentingan Islam.”

“Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?” Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup dengan segala pengorbanannya.

Demikian sekelumit kisah wafatnya Khadijah. Sosok istri yang sangat besar pengorbanannya  bagi Islam, terutama di awal-awal Islam. Jadi, tidak mengherankan jika surga dan kain kafan saja telah dipersiapkan Allah SWT.

Penulis: Khazim Mahrur

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya