Mengenal Kecu, Aksi Premanisme di Surakarta pada Masa Kolonial

Oleh Liputan6.com pada 29 Jan 2022, 14:00 WIB
Diperbarui 29 Jan 2022, 14:00 WIB
Ilustrasi tebu (iStock)
Perbesar
Ilustrasi tebu (iStock)

Liputan6.com, Surakarta- Perkecuan atau kecu merupakan tindakan premanisme, bentuknya cenderung memaksa, menyiksa hingga membunuh korbannya. Tindakan premanisme ini sudah marak terjadi di Klaten dan beberapa wilayah di Surakarta sejak abad ke-19.

Dikutip dari berbagai sumber, perkecuan ini muncul setelah krisis yang menimpa para petani. Para petani tebu yang tidak memiliki modal di luar sektor pertanian, juga tidak memiliki mata pencaharian lain.

Mulai muncul aksi kriminal di sektor perkebunan. Apalagi tebu sebagai komoditas utama pemerintahan kolonial memiliki harga jual yang menjanjikan.

Terlebih, hasil tebu juga tidak dirasakan petani pribumi. Ini lah yang mendorong gerakan kecu semakin besar.

Pada masa itu targetnya mengarah kepada orang-orang kaya seperti tuan tanah, penguasa lokal perkebunan hingga bekel. Biasanya para kecu ini beroperasi secara berkelompok.

Pada 1872, ada 24 kali aksi pencurian hasil panen tebu oleh para kawanan kecu ini di seluruh Keresidenan Surakarta. Kemudian pada tahun-tahun selanjutnya, banyak rumah-rumah bekel yang ludes dijarah kawanan kecu.

Tidak hanya orang-orang kaya pribumi, para tuan tanah Belanda juga tak luput dari sasaran para kecu ini. Hingga akhirnya sepanjang 1875, para polisi berpatroli untuk menjaga keamanan masyarakat Surakarta, Klaten dan sekitarnya.

Perkecuan atau kecu ini akhirnya mulai mereda sejak Sarekat Islam atau SI meluas di Surakarta. SI mewadahi masyarakat pedesaan untuk terlibat dalam usaha milik pribumi dan berniagaan lokal.

(Tifani)

Saksikan video pilihan berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya