Akhir Bahagia Mantan Anggota Cakrabirawa Usai Puluhan Tahun Menepis Stigma PKI

Oleh Liputan6.com pada 02 Okt 2022, 00:30 WIB
Diperbarui 02 Okt 2022, 01:34 WIB
Sulemi dan istri di kediamannya di Purbalingga, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Sulemi dan istri di kediamannya di Purbalingga, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purbalingga - Usia Sulemi sudah nyaris mencapai 80 tahun ketika kami bertemu dengannya di Purbalingga, 2017 lalu. Kini mantan anggota pasukan Cakrabirawa itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan sosial dan mengurus musala.

Dia lebih banyak beraktivitas di rumah di masa tuanya. Tiap hari, rajin beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Boleh dibilang, Sulemi adalah kelompok mantan anggota Cakrabirawa yang beruntung. Dia selamat meski mengalami penyiksaan bertubi-tubi selama dipenjara, karena sengaja atau tidak, terlibat G30S PKI.

Jari jemarinya bengkok, tulang patah, kulit mengelupas. Itu adalah bukti otentik betapa berat dan pedih siksaan yang dialaminya selama dipenjara.

Sulemi semula bertugas di Kodam IV Diponegoro. Lantas, ia dan rekan batalyonnya terpilih menjadi pasukan Cakrabirawa, tanpa tahu bahwa ini adalah awal malapetaka.

Ihwal keterlibatannya dalam G30S PKI, Sulemi adalah salah satu personel yang ditugaskan menjemput Jenderal AH Nasution. Dalam penjemputan itu, ada tragedi yang terus diingatnya sampai sekarang, yakni tertembaknya Ade Irma Nasution, putri sang jenderal.

"Saya prajurit hanya menjalankan perintah atasan. Dalam umur saya, tidak pernah terlibat politik. Kalau perwira menengah, mayor ke atas mungkin," ucapnya bercerita saat diinterogasi Provost.

Tiap jawaban itu meluncur dari mulutnya, ia sadar bakal menghadapi siksaan. Pukulan, tendangan, dipukul popor bedil dan diseret adalah derita yang mesti dirasakan tiap kali diinterogasi. Bekas prajurit Cakrabirawa dengan pangkat sersan satu ini dipaksa mengaku sebagai anggota PKI.

Tulang punggungnya patah. Belikatnya melesak remuk ke dada akibat pukulan benda keras dan tendangan bertubi-tubi.

Bertahun-tahun usai dibebaskan, Sulemi masih mengalami trauma. Dia kerap bermimpi masih berada di penjara dan disiksa habis-habisan. Kerapkali dia berteriak dalam tidurnya.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:


Melawan Stigma PKI

Sulemi bersumpah prajurit Cakrabirawa tak sengaja menembak Ade Irma Nasution. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Sulemi bersumpah prajurit Cakrabirawa tak sengaja menembak Ade Irma Nasution. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Keadaan lantas membaik saat Palang Merah Internasional berkunjung ke tahanan. Saat itu, ia menyebut sudah tak lagi bisa berjalan. Saat buang air besar, ia mesti merayap seperti kadal.

"Daripada saya mengaku PKI, lebih baik mati," ucapnya tegas.

Akibat terlibat upaya penculikan Jenderal Nasution, ia divonis mati. Seluruh harapannya buyar. Ia mesti melepas istri dan anak semata wayangnya.

Namun, oleh pengacara militernya, ia dibujuk untuk mengajukan banding dan berhasil. Dari vonis mati hukumannya berubah menjadi seumur hidup.

Lantas ia dipindah ke Pamekasan, Madura, bersama 32 tahanan politik lainnya. Selama 15 tahun, ia menghabiskan waktu di balik jeruji penjara hingga akhirnya bebas pada Oktober 1980, bulan ini 38 tahun lalu.

Bebas dari penjara bagi Sulemi bukan berarti lepas dari penderitaan. Pulang ke Purbalingga, ia mendapati kakaknya yang seorang PNS di Dinas Pertanian dipecat. Padahal, sang kakak sama sekali tak tahu peristiwa yang terjadi di Jakarta pada Oktober 1965.

Keluarganya juga mesti menanggung perundungan, lantaran dianggap sebagai keluarga pengikut PKI. Penderitaan itu rupanya mesti ditanggung oleh keluarga besarnya.

"Seharusnya yang dihukum itu pimpinan. DI/TII Kartosuwiryo, yang dihukum juga para pimpinan," dia menuturkan.

Terseok-seok, ia mulai mencari pekerjaan. Pekerjaan didapat, tak lama kemudian, dipecat begitu bos mengetahui latar belakangnya sebagai bekas prajurit Cakrabirawa.

 


Akhir Bahagia Mantan Anggota Cakrabirawa

Sulemi dan istri kini adalah sepasang kakek-nenek yang berbahagia dikelilingi anak, cucu dan saudara yang mencintainya. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Sulemi dan istri kini adalah sepasang kakek-nenek yang berbahagia dikelilingi anak, cucu dan saudara yang mencintainya. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Di kala susah itu, Tuhan memberi secercah berkah dengan mengirimkan sosok Sri Murni, seorang janda. Mantan istri rekannya sendiri.

Berdua, mereka mulai mendayung biduk di tengah gelombang masa 80-an yang tak ramah. Untuk menyambung hidup, ia memutuskan untuk mematung.

Keahlian ini didapatnya ketika dipenjara di Pamekasan. Salah satu napi adalah seniman yang juga seorang dosen seni rupa. Rekannya ini masuk penjara karena menjadi anggota Lekra.

Sesekali, patungnya laku. Tetapi, di saat lain, tak ada yang mencarinya. Singkat kata, mematung tak bisa menjamin dapurnya tetap mengepul.

Lantas, ia dan istrinya sepakat untuk membuat warung makan. Tak mudah untuk hidup dari sektor jasa. Apalagi, usaha ini membuatnya mesti berinteraksi dengan bermacam konsumen.

Ada kalanya, pelanggan tak lagi kembali begitu mengetahui sang pemilik warung adalah bekas prajurit Cakrabirawa, yang pada masa Orde Baru selalu diembuskan berasosiasi dengan PKI. Tetapi, ia selalu berusaha berlapang dada.

"Saya juga beribadah sebagaimana biasa. Kebetulan rumah saya dekat dengan masjid,” tuturnya.

Ekonomi keluarga Sulemi berangsur pulih. Masalah muncul ketika anak-anaknya beranjak besar dan membutuhkan biaya pendidikan. Istrinya rela membuka kios daging di pasar, sendirian.

Kemudian, seperti mimpi, reformasi bergulir. Gus Dur menjadi presiden. Masa ini ditandai dengan pulihnya hak-hak bekas tahanan politik seperti Sulemi.

Perlahan tapi pasti, semuanya membaik. Bahkan, anak bungsunya menjadi aparat. Sesuatu yang amat haram pada masa Orde Baru.

Tim Rembulan

 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya