Amalan Saat Istri Hamil dan Tips Memberi Nama Anak, Simak Penjelasan Buya Yahya

Oleh Muhamad Husni Tamami pada 20 Sep 2022, 16:30 WIB
Diperbarui 20 Sep 2022, 16:30 WIB
Ilustrasi Kehamilan
Perbesar
Ilustrasi kehamilan. (dok. Unsplash.com/@by_syeoni)

Liputan6.com, Bogor - Salah seorang jemaah Al-Bahjah bertanya kepada KH Yahya Zainul Ma’arif atau akrab disapa Buya Yahya perihal amalan saat istri hamil dan tips memberi anak. Dengan gamblang, Buya Yahya menjawabnya secara lugas.

Menurut Buya Yahya, ada beberapa amalan saat istri hamil. Pertama adalah menjauhi kemaksiatan dan perbanyak istighfar. Kemudian menjauhi dari hal-hal keharaman.

“Mungkin kita pernah punya kebiasaan haram, lalu kita tinggalkan. Diniati, ya Allah aku akan tinggalkan ini karena aku aku punya anak. Semoga menjadi sebab kebaikan untuk anak-anakku,” tuturnya dikutip dari YouTube Buya Yahya, Senin (19/9/2022).

Selain itu, memperbanyak ibadah seperti salat lima waktu dan membaca Al-Qur’an. Bila ingin berpuasa, silakan puasa. 

“Artinya perbanyak ibadah. Gak ada amalan khusus, jangan sampai dikasih amalan khusus terus nanti malah gak salat. Dimulai dari salat lima waktu, puasa Ramadan, Hal-hal yang wajib dulu baru ditambah yang sunah-sunah,” jelasnya.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

Saksikan Video Pilihan Ini:


Kaidah Pemberian Nama Anak

Lahir di Perbatasan, Bayi Pakistan Dinamai Border
Perbesar
Ilustrasi bayi baru lahir. (dok. Omar Lopez/Unsplash)

Adapun soal pemberian nama anak, menurut Buya Yahya ada kaidahnya. Pertama, nama yang diberikan kepada anak harus bermakna benar dan baik. Jika makna namanya tidak baik, maka jangan dijadikan nama untuk anak.

“Di balik makna itu Anda niatkan. (Misalnya) beri nama Hasan, saya ingin anak saya menjadi anak yang hasan, seperti baginda nabi diberi nama Muhammad oleh kakek beliau ilham dari Allah agar menjadi orang yang terpuji dan benar terpuji,” ujarnya.

Kedua, nama yang diberikan kepada anak dihubungkan dengan orang-orang mulia. Misalnya, memberi nama Umar karena ingin anaknya seperti Sayyidina Umar bin Khattab atau Salman karena ingin seperti Salman al-Farisi.

“Jadi, dari maknanya benar. Kemudian ada maksud yang kedua Anda beri nama itu ada tujuan. Digabungkan antara makna yang benar tadi dengan niat,” tandas Buya Yahya.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya