Kasih Sayang Rasulullah Terhadap Penderita Kusta: Ketahui Penyebab, Gejala dan Pengobatan

Oleh Liputan6.com pada 19 Agu 2022, 04:30 WIB
Diperbarui 19 Agu 2022, 04:30 WIB
Ilustrasi Kusta (iStockphoto)
Perbesar
Hentikan Segala Bentuk Stigma dan Diskriminasi Terhadap Pasien Kusta (iStockphoto)

Liputan6.com, Purwokerto - Lepra atau kusta diidentikkan dengan penyakit berbahaya, menjijikan, sangat menular dan mematikan. Karena itu, penyakit ini mesti jauhi.

Dalam sejarah kerap terjadi diskriminasi pengidap kusta. Mereka dijauhi, dan bahkan beberapa di antaranya dikucilkan di sebuah tempat tersendiri, khusus untuk para pengidap kusta. Hal ini terkait dengan anggapan bahwa penyakit kusta adalah kutukan.

Mengutip berbagai sumber, penyakit lepra berasal dari bahasa India kustha, dan dalam berbagai budaya bangsa telah dikenal bahkan sejak era sebelum Masehi. Diperkirakan kusta atau lepra teridentifikasi pertama kali pada 600 SM.

Dalam tradisi Islam, kusta atau lepra ini adalah salah satu penyakit yang cukup diwaspadai. Rasulullah SAW sendiri dalam sebuah hadis mengajarkan doa secara khusus untuk menghindari lepra atau kusta.

عن أنس – رضي الله عنه – : أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : “ اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، والجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ" . رواه أَبُو داود بإسناد صحيحٍ

Artinya: Diriwayatkan dari Anas -radliyallahu anhu- bahwa Nabi Muhammad salallahualaihi wasallam berdoa: “Ya Allah, aku berlindung padamu dari belang, gila, kusta dan penyakit-penyakit buruk”. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad sahih.

Nabi juga bersabda:

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ اْلأَسَدِ

"Menghindarlah kamu dari orang yang terkena judzam (kusta), sebagaimana engkau lari dari singa yang buas" (HR al-Bukhari).

Namun di sisi lain, Nabi juga disebutkan pernah membaiat penderita kusta, bahkan makan bersama. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidzi

أَنَّ رَسُوْلَ الله: أَخَذَ بِيَدِ مَجْذُوْمٍ فَأَدْخَلَهُ مَعَهُ فِيْ اْلقَصْعَةِ ثُمَّ قَالَ كُلْ بِاسْمِ اللهِ ثِقَةً بِاللهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ

Artinya: "Sesungguhnya Rasulullah SAW, memegang tangan seorang penderita kusta, kemudian memasukannya bersama tangan beliau ke dalam piring. Kemudian beliau mengatakan: "'Makanlah dengan nama Allah, dengan percaya serta tawakal kepada-Nya'" (HR at-Turmudzi).

Hal ini menunjukkan bahwa Nabi SAW tidak mendiskriminasi apalagi mengucilkan pengidap penyakit kusta. Namun begitu, Rasullah SAW tahu bahwa penyakit ini berbahaya. Karena itu, seperti juga diriwayatkan sejumlah hadis, lebih baik menghindari orang yang terkena penyakit berbahaya, jika berisiko tertular.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan Video Pilihan Ini:


Penyebab, Gejala dan Pengobatan Kusta

Mengutip health.liputan6.com, penyebab penyakit kusta atau lepra perlu diwaspadai meski kasus penyakit ini makin berkurang. Penyakit Kusta atau lepra merupakan penyakit kulit yang bosa merusak saraf dan otot. Kusta akan menyebabkan ruam, lesi, hingga borok pada kulit.

Kusta adalah salah satu penyakit tertua dalam sejarah. Referensi tertulis pertama yang diketahui tentang kusta adalah dari sekitar 600 SM. Ini menjelaskan penyebab penyakit kusta atau lepra sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan masih ditemukan hingga saat ini.

Penyebab penyakit kusta atau lepra bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain. Di Indonesia angka penderita mulai menurun pada tahun 2002. Namun, masih ada beberapa daerah yang masih ditemukan kasus kusta. Penyebab penyakit kusta atau lepra memang lebih berisiko menyebar di daerah tropis.

Penyebab penyakit kusta atau lepra bisa ditangani dengan pengobatan tepat dan intensif. Terlepas dari reputasinya yang menular, penyebab penyakit kusta atau lepra bisa dicegah dan disembuhkan. Berikut ulasan mengenai penyebab penyakit kusta atau lepra yang berhasil Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (21/2/2020).

Penyakit kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae (M. leprae) atau Mycobacterium lepromatosis (M. lepromatosis). Penyakit ini terutama menyerang kulit, saraf tepi, permukaan mukosa pada saluran pernapasan atas dan mata. Mycobacterium ini bisa berkembang secara perlahan.

Kusta diketahui terjadi pada semua umur mulai dari masa kanak-kanak hingga usia sangat tua. Penyebab penyakit kusta atau lepra dapat menular bahkan sebelum terdeteksi. Meski begitu kusta dapat disembuhkan dan pengobatan dini dengan mencegah sebagian besar kecacatan.

 


Penularan Penyakit Kusta

Menurut WHO, mekanisme pasti penularan kusta tidak diketahui. Setidaknya sampai saat ini, kepercayaan yang paling banyak dipegang adalah bahwa penyakit itu ditularkan melalui kontak antara orang yang terinfeksi dan orang sehat. Ini biasanya terjadi ketika seseorang dengan bersin atau batuk.

Para ilmuwan percaya itu ditangkap melalui tetesan-tetesan uap air yang melewati udara dari seseorang yang menderita kusta tetapi belum memulai pengobatan.

Bakteri yang menyebabkan kusta berkembang biak dengan sangat lambat. Penyakit ini memiliki masa inkubasi rata-rata (waktu antara infeksi dan munculnya gejala pertama) selama lima tahun. Gejala mungkin bisa tidak muncul selama 20 tahun.

Baru-baru ini kemungkinan penularan melalui jalur pernapasan semakin meningkat. Ada juga kemungkinan lain seperti penularan melalui serangga yang tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan.

Penyakit ini sebenarnya sulit menular, tapi kontak yang dekat dan berulang dengan orang yang tidak diobati untuk jangka waktu yang lebih lama dapat menyebabkan tertularnya kusta.

 


Gejala Penyakit Kusta

Gejala penyakit kusta bisa berbeda tiap individu. Gejala utama penyakit kusta meliputi:

- Munculnya lesi ringan pada kulit dan bertahan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

- bercak kulit dengan sensasi berkurangnya rasa, seperti sentuhan, rasa sakit, dan panas.

- kelemahan otot

- mati rasa di tangan, kaki, kaki, dan lengan

- masalah mata

- saraf yang membesar, terutama di siku atau lutut

- hidung tersumbat dan mimisan

- keriting jari dan ibu jari

- bisul di telapak kaki.

Seseorang bisa tidak menyadari memiliki luka bakar atau cedera pada kulit. Ini karena karena mati rasa akibat kerusakan saraf.

Komplikasi Lebih Lanjut Akibat KustaDiagnosis dan pengobatan yang tertunda dapat menyebabkan komplikasi serius. Tanpa perawatan, kusta dapat merusak kulit, saraf, lengan, kaki, kaki, dan mata secara permanen.

Luka pada kulit akibat penyebab penyakit kusta atau lepra lebih mungkin terinfeksi, karena pertahanan kekebalan melemah oleh kusta. Kondisi ini juga bisa menyebabkan penyerapan kembali tulang rawan oleh tubuh. Ini membuat adanya infeksi sekunder yang dapat mengakibatkan hilangnya jaringan. Kondisi ini mengarah pada pemendekan yang khas pada jari kaki dan jari tangan.

Kerusakan pada selaput lendir yang melapisi bagian dalam hidung terkadang dapat menyebabkan kerusakan internal dan jaringan parut. Kusta juga dapat menghancurkan saraf yang bertanggung jawab untuk berkedip. Hal ini dapat menyebabkan mata menjadi kering dan rentan terhadap infeksi, berpotensi mengakibatkan ulserasi dan kebutaan.

 


Pengobatan Kusta Gratis

Dokter yang aktif menangani kusta di Indramayu, Pratama Kortizona, tatalaksana pengobatan kusta dilakukan dengan pemberian obat kusta gratis yang tersedia di puskesmas. Jika pasien sudah didiagnosa kusta, maka ditentukan terlebih dahulu jenis kustanya. Ini dilihat dari banyak atau sedikitnya bercak yang ditemukan di tubuh pasien.

“Jadi jumlahnya (bercak) ada yang sedikit dan banyak. Kalau yang bercaknya cuma sedikit (kurang dari 5) itu pengobatannya 6 bulan, kalau bercaknya banyak (lebih dari 5) dan lebih dari dua tempat, misalnya di tangan, badan, dan kaki, nah itu bisa sampai satu tahun.”

“Dan pengobatannya ada di puskesmas. Itu sudah paket dari Dinas Kesehatan,” ujar Pratama kepada Health Liputan6.com usai kunjungan di Dusun Pondok Asem Jengkok, Indramayu bersama Yayasan NLR Indonesia, Selasa (5/7/2022).

Pengobatan kusta tidak dilakukan sembarangan. Menurut penanggung jawab program kusta dari Puskesmas Kertasemaya, Eti Nirmala S. Kep, Ners, sebelum pengobatan dimulai, perlu ada kesiapan dari pasien. Pasalnya, pasien harus konsisten meminum obat setiap hari tanpa putus-putus.

“Kalau setelah diperiksa pasien belum siap minum obat kusta, ya kita pending dulu. Kalau sudah sekali minum obat itu 95 persen kuman mati kalau enggak dilanjutkan kan kasihan harus ngulang lagi. Jadi kita tunggu kesiapan pasien dengan diberi pendekatan dari kader di sini, nah kalau sudah siap baru kita kasih,” kata Eti dalam kesempatan yang sama.

 


8 Pil Sehari dan Risiko Pasien Kusta Mangkir

Bukan hanya memakan waktu lama, obat yang diminum oleh pasien kusta pun banyak setiap harinya. Di tahap awal, pasien bisa meminum 8 pil dalam satu hari yang merupakan kombinasi antibiotik (Multi Drugs Therapy/MDT).

“Enggak tanggung-tanggung, 8 pil sehari selama 2 minggu, kalau perkembangannya baik turun ke 6 pil sehari. Kita periksa lagi, jika perkembangannya baik, turun ke 4 pil sehari.”

“Nah di 4 pil ini biasanya ada suatu hal yang membuat kondisi pasien jelek lagi. Jika begitu, maka harus naik lagi, geser ke 6 pil, kalau kondisinya bagus turun lagi ke 4 pil.”

Jika terpantau daya tahan tubuh pasien meningkat, dari 4 pil itu dapat menurun ke 3 pil, 2 pil, dan 1 pil. Mengingat pengobatannya lama dan banyak, maka risiko pasien malas meminum obat sangat tinggi.

“Benar (rentan malas) jadi harus ada kemauan dari dalam hati. Makanya pendamping juga dibutuhkan, bukan hanya dari kader saja tapi kontribusi juga dari keluarga, dukungan keluarga ini penting sekali,” kata dia.

Pemeriksaan kemudian dilakukan kepada anggota keluarga, tetangga, dan orang lain yang berhubungan erat dengan pasien yang sering pula disebut kontak erat.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya