17 Agustus dan Kisah Para Nabi Perjuangkan Kemerdekaan Bangsanya

Oleh Liputan6.com pada 08 Agu 2022, 20:30 WIB
Diperbarui 08 Agu 2022, 22:39 WIB
Sambut HUT ke-77 RI, Jelajah Serunya Indonesia Live Streaming di 77 Destinasi
Perbesar
Dalam rangka menyambut HUT ke-77 RI, Jelajah Serunya Indonesia akan menyuguhkan live streaming di 77 destinasi di 17 kota di Indonesia selama 77 jam. (Tangkapan Layar Zoom)

Liputan6.com, Banyumas - Pada 17 Agustus 2022 kita akan memperingati HUT RI ke 77. Pada tanggal tersebut, merupakan momen sakral bagi bangsa Indonesia karena pada tanggal 17 Agustus tersebut bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya sebagai negara yang berdaulat dan bebas dari penjajahan.

Selain itu ternyata 'kemerdekaan' juga dapat dilihat dari berbagai macam perspektif, salah satunya Islam.

Istilah kemerdekaan dalam bahasa Arab disebut al-Istiqlal. Istilah ini juga yang dipakai sebagai nama masjid di Indonesia yang merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara, yakni masjid Istiqlal, yang secara bahasa artinya 'masjid kemerdekaan'.

Melansir laman unida gontor, kemerdekaan dapat diartikulasikan sebagai:

ِاّلتَّحَرُّرُ وَالْخَلاَصُ مِنَ الْقَيْدِ وَالسَّيْطَرَةِ الْاَجْنَبِيَّة

al-(Taharrur wa al-Khalāsh min al-Qayd wa al-Saytharah al-Ajnabiyyah”).

Artinya bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain.

Dalam istilah lain disebutkan:

اَلْقَُدْرَةُ عَلَى تَنْفِيْذِ مَعَ عِدَمِ الْقَسْرِ وَالْعُنْفِ مِنَ الْخَارِج

(al-Qudrah ‘ala Tanfidz ma’a In‘idam Kulli Qasr wa ‘Unf min al-Kharij),

Artinya Kemampuan mengaktualisasikan diri tanpa adanya segala bentuk pemaksaan dan kekerasan dari luar dirinya.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa 'kemerdekaan' dapat dimaknai sebagai kebebasan dari segala bentuk penindasan atau ikatan dan penguasaan pihak lain yang membuat kesengsaraan.

Menilik sejarah para Nabi sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur'an, secara garis besar diutusnya para Nabi bermuara pada tujuan yang sama, yakni kemerdekaan dalam arti melepaskan ikatan dari belenggu-belenggu kebodohan, kezaliman dan lain sebagainya yang membuat manusia sengsara.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan Video Pilihan Ini:


Kisah Nabi Ibrahim dan Musa

Wisata Laut Merah
Perbesar
Napak tilas Nabi Musa menjadi destinasi wisata favorit.

Pertama, makna kemerdekaan dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim ketika ia membebaskan dirinya dari orientasi asasi yang keliru dalam kehidupan manusia. Dalam Q.S al-An’am Ayat 76-79 dikisahkan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan.

Pencarian spiritual tersebut merupakan upaya Ibrahim dalam membebaskan hidupnya dari orientasi hidup yang diyakininya keliru, namun hidup subur dalam masyarakatnya.

Seperti diketahui bersama bahwasannya masyarakat Ibrahim saat itu menyembah berhala. Bagi Ibrahim, penyembahan terhadap berhala merupakan kesalahan besar. Sebab manusia telah melakukan penghambaan yang justru menjatuhkan harkat dan martabat dirinya sebagai manusia.

Kedua, makna kemerdekaan juga dapat dipetik dari kisah Nabi Musa ketika membebaskan bangsanya dari penindasan Firaun. Kekejaman rezim Firaun terhadap bangsa Israel dikisahkan dalam berbagai ayat Alquran. Rezim Firaun merupakan representasi komunitas yang menyombongkan diri dan sok berkuasa di muka bumi (mustakbirun fi al-ardh).

Keangkuhan rezim penguasa ini membuat mereka tak segan membunuh dan memperbudak kaum laki-laki bangsa Israel dan menistakan kaum perempuannya. Keangkuhan inilah yang mendorong Musa tergerak memimpin bangsanya untuk membebaskan diri dari penindasan, dan akhirnya meraih kemerdekaan sebagai bangsa yang mulia dan bermartabat (QS Al-A’raaf:127, Al-Baqarah: 49, dan Ibrahim: 6).

Mengakhiri Keangkuhan seperti halnya kisah sukses Nabi Musa, Proklamasi 17 Agustus 1945 hakikatnya juga merupakan momen yang mengakhiri episode keangkuhan dan penindasan rezim kolonial. Sebuah keangkuhan yang membuat bangsa kita miskin dan terhina selama ratusan tahun.

Namun jangan lupa, berakhirnya keangkuhan dan penindasan rezim kolonial tidak serta merta membebaskan rakyat Indonesia dari keangkuhan dan penindasan rezim lain dalam bentuk yang berbeda.

Tugas terberat dari sebuah bangsa merdeka sesungguhnya adalah bagaimana mempertahankan kemerdekaan dirinya sebagai bangsa merdeka, serta bebas dari hegemoni internal dan eksternal yang menindas. Merdeka dari hegemoni penindasan internal berarti bebas dari penguasa-penguasa pribumi yang bertindak dan bertingkah laku laksana penjajah asing.

 


Misi Kenabian Nabi Muhammad SAW

FOTO: Empat Peninggalan Nabi Muhammad Dipamerkan di Masjid Jami At-Taqwa Depok
Perbesar
Rambut Nabi Muhammad SAW dipamerkan dalam pameran artefak asli Rasulullah di Masjid Jami At-Taqwa, Sukamaju, Depok, Jawa Barat, Selasa (29/12/2020). Empat peninggalan Nabi Muhammad SAW dipamerkan hingga esok hari. (merdeka.com/Arie Basuki)

Ketiga, kisah sukses Nabi Muhammad dalam mengemban misi kenabiannya di muka bumi (QS Al-Maa’idah:3) menjadi sumber ilham yang tak pernah habis bagi bangsa Indonesia untuk memaknai kemerdekaan secara lebih holistik dan integral.

Sebagaimana diketahui, ketika diutus 14 abad silam, Nabi Muhammad SAW menghadapi sebuah masyarakat yang mengalami tiga penjajahan sekaligus, yakni disorientasi hidup, penindasan ekonomi, dan kezaliman sosial.

Disorientasi hidup diekspresikan dalam penyembahan patung oleh masyarakat Arab Quraisy. Rasulullah berjuang keras mengajarkan kepada umat manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan ‘’tuhan-tuhan’’ yang menurunkan harkat dan derajat manusia (QS Luqman: 13; Yusuf: 108; Adz-Dzaariyaat: 56; Al-Jumu’ah: 2).

Penindasan ekonomi itu dilukiskan al-Quran sebagai sesuatu yang membuat kekayaan hanya berputar pada kelompok-kelompok tertentu saja (QS Al-Hasyr: 7). Rasulullah mengkritik orang-orang yang mengumpulkan dan menghitung-hitung harta tanpa memedulikan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi (QS Al-Humazah: 1-4; Al-Maa’uun: 2-3).

Rasulullah mengkampanyekan pembebasan budak, kesetaraan gender, dan prinsip persamaan manusia. Dalam khutbah terakhirnya di Arafah, saat haji wada, beliau menegaskan bahwa tak ada perbedaan antara hitam dan putih, antara Arab dan non-Arab. Semuanya sama di mata Tuhan.

Tidak ada celah yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya, kecuali tingkat ketakwaan mereka kepada Tuhan-Nya (QS Al-Hujuraat:13).

Penulis: Khazim Mahrur

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya