Pilihan dan Langkah Muhaimin

Oleh TaufiqurrohmanSilvanus AlvinAndi Muttya Keteng pada 01 Sep 2014, 00:37 WIB
Diperbarui 01 Sep 2014, 00:37 WIB
Tokoh Partai Koalisi Jokowi Hadiri Muktamar PKB
Perbesar
Sutiyoso, Surya Paloh dan beberapa tokoh koalisi tampak dalam barisan peserta muktamar (Liputan6.com/Aditia Saputra)

Liputan6.com, Surabaya - Pemilu 2014 menjadi masa keemasan bagi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Di pemilu tahun ini, partai besutan mendiang mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur berhasil mendulang suara, jauh melampui perolehan suara pada pemilu-pemilu sebelumnya.

Pada Pemilu Legislatif 9 April 2014, PKB memperoleh 9,04 persen suara. Perolehan ini menempatkan PKB berada di posisi kelima partai dengan perolehan suara terbanyak. Kalah dari Partai Demokat yang menempati urutan keempat dengan perolehan suara 10,18 persen. Padahal dalam Pemilu 2009, Demokrat merupakan pemenang pemilu.

Perolehan ini menjadi prestasi bagi PKB. Tak hanya berhasil mendekati perolehan suara Demokrat, perolehan suara pada pemilu tahun ini jauh melampui perolehan suara partai-partai yang sebelumnya berada di atas PKB.

Pada Pemilu 2009, PKS menempati posisi keempat pemenang pemilu, kemudian PAN di posisi kelima dan PPP di poisisi ke-6. Sementara PKB harus berpuas diri pada posisi ke-7. Kini PKB telah bangkit dan berhasil menyingkirkan 3 partai sekaligus yakni PKS, PAN, dan PPP.

Kemenangan ini tentu bukan kebetulan semata. Banyak yang menyebut kemenangan PKB pada pemilu tahun ini tak lepas dari kelihaian sang ketua umum, Muhaimin Iskandar.

Sejawat Muhaimin di PKB, Marwan Djafar mengatakan, selama memimpin kinerja Muhaimin yang akrab disapa Cak Imin sudah terbukti membawa pengaruh bagi partai.

Tak hanya mampu mendongkrak posisi PKB dari posisi ke-7 pada Pemilu 2009 menjadi ke-4 pada pemilu 2014, Cak Imin kata Marwan, juga telah membawa PKB mendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla yang akhirnya menang dan ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih.

"Beliau berhasil mengkonsolidasi kekuatan yang lama balik lagi, mampu membangun soliditas partai dari pusat ke daerah," kata Ketua DPP PKB Marwan Djafar memuji Muhaimin beberapa waktu lalu di DPR, Jakarta.

Tak heran jika pada muktamar 3 hari di Surabaya, Jawa Timur, yang berlangsung sejak 30 Agustus hingga 1 September 2014, Muhaimin digadang-gadang lagi menjadi ketua umum. Muhaimin bahkan disebut-sebut sebagai calon tunggal ketua umum PKB. Hingga hari ini, hari kedua muktamar, Minggu (31/8/2014), belum ada calon lain yang kuat untuk menggusur Muhaimin dari kursi kepemimpinannya.

Hampir serupa dengan partai-partai lainnya, pemilihan Ketua Umum di PKB ditentukan oleh 33 Dewan Perwakilan Wilayah dari setiap provinsi.

Nantinya, akan digelar musyawarah tertutup di mana setiap daerah memberikan nama-nama yang mereka calonkan. Atau bisa juga sebaliknya, mereka yang akan mencalonkan diri memberikan nama kepada 33 DPW.

Tapi, "sejauh ini, baru nama saya yang dimunculkan oleh daerah-daerah," kata Muhaimin dalam acara pra-muktamar di Hotel Empire Palace, Surabaya, Sabtu 30 Agustus 2014.

Senangkah Muhaimin dengan kondisi ini? Dalam pernyataannya saat muktamar, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi itu mengungkapkan harapannya agar DPW dapat memunculkan nama-nama alternatif untuk calon ketua umum. Muhaimin mengaku senang jika ada sosok lain yang mampu melanjutkan tampuk kekuasaan di PKB.

"Saya lebih baik (Ketua Umum PKB) diganti yang lain," kata Cak Imin. "Tapi mau bagaimana kalau tidak ada nama lain yang muncul," imbuh dia. "Kalau ada lebih dari 1 nama, nanti akan diputuskan dengan voting," ujar Cak Imin.

Disinggung keterlibatannya dalam bursa ketum PKB, mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengatakan tak berniat mencalonkan diri sebagai ketua umum. Sebab menurut dia, Muhaimin Iskandar pasti akan terpilih kembali untuk menduduki posisi Ketua Umum.

Sebab, ia menilai Muhaimin lebih memiliki peran dalam meningkatkan perolehan suara PKB pada Pemilu 2014. "Tidak (calonkan diri sebagai Ketua Umum PKB). Karena dia (Cak Imin) yang menang dalam pilihan politiknya. Ya fatsun (aturan tidak tertulis) politik saya mengatakan Muhaimin berhak untuk menentukan," ujar Mahfud di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (31/8/2014).

Sepinya pesaing bagi Cak Imin, membuat mantan juru bicara Gus Dur, Adhie Massardi, angkat bicara. Ia mengkritik muktamar ini yang disebutnya muktamar sirih. "Ini muktamar sirih yang secara syariat kurang untuk PKB ke depan. Kalau PKB citranya buruk bisa kena ke NU (Nahdlatul Ulama)," tegas Adhie.

Menurut Adhie, Cak Imin sebagai calon tunggal dianggap kurang baik. Ia mengatakan PKB memiliki banyak kader andalan lainnya. Ia pun mendorong mantan politisi PKB Yahya Staquf sebagai ketum baru PKB. Aktivis Gerakan Indonesia Bersih (GIB) itu menambahkan, dirinya kurang merestui Cak Imin. Apalagi dari informasi yang didapatnya, Muhaimin tengah diincar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Sebetulnya keberadaan Muhaimin sebagai ketum singkirkan Gus Dur dengan cara korup. Tidak heran kalau banyak anggota terlibat korupsi dan tidak terlibat garis perjuangan partai," ujar Adhie. "Muhaimin terbukti ada diincar KPK, masalah 'kardus duren'," ucap dia.

Ia pun mengaku mendapatkan informasi dari lingkaran dalam Tim Transisi Jokowi-JK bahwa Cak Imin ditolak jadi pengisi kabinet pemerintahan mendatang.

"Saya hormati Jokowi karena dengar dari lingkaran dalam, Muhaimin enggak masuk kabinet. Ini mengobati kekecewaan Gusdurian (pengikut Gus Dur). Muhaimin moralitasnya kita ragukan," tandas Adhie.

Kendati demikian, hingga Minggu malam (31/8/2014), Muhaimin masih menjadi satu-satunya nama calon ketua umum yang muncul di Muktamar PKB.

Pilih Menteri atau Ketua Umum?

Wajar jika Muhaimin tak ingin berlama-lama di pucuk kekuasaan PKB. Jika dia kembali menjadi ketua umum PKB, maka langkahnya untuk menjadi menteri di kabinet Jokowi-JK akan terganjal. Sebab Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) sudah menegaskan, para menterinya nanti tidak boleh rangkap jabatan di partai.

Terkait hal ini, Muhaimin menegaskan hingga saat ini dia belum ditawari kursi menteri oleh Jokowi. "Saya tidak mau bicara itu (menteri) dulu, nanti saya ge-er (gede rasa) lagi," kata dia.

Menurut Muhaimin, pembahasan kabinet dengan Jokowi mulai pertengahan September. "Pokoknya saya sudah janjian, soal pembahasan kabinet dengan Pak Jokowi, mulai September pertengahan," kata dia.

Soal larangan rangkap jabatan jika terpilih menjadi menteri, Muhaimin menjawab, “itu hanya simbol saja, tentu itu nanti kita bicarakan sama Pak Jokowi," kata dia.

Menurut Muhaimin, semua kader PKB siap menjadi menteri di kabinet Jokowi-JK nanti, jika resmi diminta untuk mengisi posisi menteri. "Prinsipnya semua kader partai PKB yang dipilih Pak Jokowi, konsentrasinya sepenuhnya untuk kabinet," tandas Cak Imin.

Muktamar kali ini tak hanya dihadiri tokoh PKB. Terlihat hadir tokoh-tokoh partai lain seperti ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani, Ketua Umu Partai Demokrat Surya Paloh, dan juga Presiden terpilih Jokowi dan Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla.

Dalam muktamar kali ini, Muhaimin menegaskan partainya ingin mengalahkan partai Golkar pada pemilu 2019. Pernyataan itu dikeluarkan sebagai penyemangat seluruh kader PKB agar lebih solid dan kuat. "Mohon maaf ke Partai Golkar, bukan berarti apa-apa, tapi ini untuk memotivasi cabang-cabang. Mari kalahkan beringin," kata Muhaimin.

Kenapa hanya Golkar? Muhaimin menjawab, “sungkan karena sudah koalisi," selorohnya. Muhaimin optimistis bahwa partainya akan mengalahkan Partai Golkar pada Pemilu 2019. "Tentu kita ada ukuran melawan incumbent dan menjadi pemenang pemilu harus menghitung. Kalau Golkar oposisi bisa dikalahkan PKB. Harus kokoh dan tidak berat kalahkan Golkar lima tahun mendatang," kata dia.

Karena itu, Muhaimin meminta para kadernya dan kaum nahdliyin untuk bersatu dan menggalang suara di pesantren-pesantren. "Sudah cukup menjadi dasar dan kita bangun antara pesantren dan NU. Kita mengelola individu jemaah dalam konsep bernegara," tandas Muhaimin. (Ans)