Pengamat: Di Bawah Muhaimin, PKB Tak Mampu Rangkul NU

Oleh Silvanus Alvin pada 30 Agu 2014, 18:31 WIB
Diperbarui 30 Agu 2014, 18:31 WIB
Muhaimin Akan Lobi Jokowi Soal Jatah Menteri
Perbesar
Muhaimin akan melakukan pembicaraan khusus dengan koalisi pengusung Joko Widodo-Jusuf Kalla terkait keinginan Jokowi agar menteri yang dipilih dari partai politik melepas jabatannya di partai, Jakpus, Rabu (20/8/2014) (Liputan6.com/Panji Diksana)

Liputan6.com, Jakarta - PKB tengah menggelar muktamar untuk mencari ketua umum baru. Namun hanya ada calon tunggal, yang tak lain Ketum PKB saat ini Muhaimin Iskandar atau Cak Imin. Tapi kepemimpinan Cak Imin dinilai tak akan mampu merangkul seluruh suara Nahdlatul Ulama (NU).

"PKB merupakan partai yang didirikan oleh NU. Berdasarkan survei Indo Barometer Juni 2014 lalu, pemilih (PKB) yang mengaku sebagai bagian dari NU sebesar 40%," kata Direktur Riset Indo Barometer Yusuf Kosim di Gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (30/8/2014).

"PKB hanya mampu mengambil sebagian suara NU. Suara NU tidak bulat ke PKB," tambah Yusuf.

Pengamat politik itu menjelaskan, ada 2 partai politik lain yang menjadi pilihan berlabuh bagi warga NU. Yaitu PDIP dan Partai Golkar. Tak heran 2 partai itu menjadi tertinggi pada Pileg 2014 lalu.

"Mengacu besarnya suara NU, seharusnya suara PKB di pemilu jauh lebih besar. Mengingat banyaknya politisi NU yang menyebar ke berbagai partai politik, sulit untuk mengambil 100% suara NU ke PKB," tutur dia.

Yusuf menambahkan, selama dipimpin Cak Imin, PKB hanya menjadi partai pengikut dan tidak menghasilkan. "Apa kebijakan spektakuler yang pernah dibuat PKB pasca-Muhaimin jadi ketum? Nggak ada. Semua isu parlemen dari pemerintah dan diiyakan," ucap dia.

Terkait meningkatnya suara PKB menjadi 9% pada Pileg lalu, Yusuf menilai, hal ini terjadi bukan karena Rhoma Irama effect. Peningkatan suara itu karena campur tangan kiai NU.

"Ada Rhoma effect memang membantu, tapi tak besar. Buktinya 2 anak Rhoma nggak lolos. Muhaimin berhasil dongkrak suara bukan semata-mata keberhasilan DPP, tapi ada juga kiai NU yang peduli PKB dan mendorong agar partai ini tetap ada," demikian Yusuf. (Sss)