Jokowi Vs Prabowo Gairahkan Pemilu 2014

Oleh Silvanus Alvin pada 03 Apr 2014, 10:46 WIB
Diperbarui 03 Apr 2014, 10:46 WIB
SSS: Jokowi dan Prabowo Mampu Jawab Tantangan Politik Ekologi
Perbesar
Jokowi dan Prabowo Subianto

Liputan6.com, Jakarta - Pertarungan Pilpres 2014 tampaknya akan mengerucut kepada capres PDIP Joko Widodo dan capres Gerindra Prabowo Subianto. Pertarungan kedua tokoh tersebut pun menarik hati rakyat Indonesia.

"Dengan persaingan Jokowi dan Prabowo seperti itu, Pilpres masih menarik diikuti. Masih ada peluang Prabowo mengejar ketertinggalan dan masih ada peluang Jokowi semakin meningkat elektabilitasnya. Itu yang gairahkan masyarakat," ujar Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang di Jakarta, Kamis (3/4/2014).

Sebastian menilai, kedua tokoh itu menjadi faktor penyedot suara calon pemilih dalam Pileg 9 April mendatang. Sebab, kedua figur capres tersebut memiliki magnet lebih besar menarik hati masyarakat.

"Apakah capres PDIP itu bisa menarik suara masyarakat? Atau apakah Prabowo dapat menarik masyarakat? Kalau rendah, maka akan terbagi ke semua partai," kata Sebastian.

Bumerang Prabowo

Sementara, pengamat politik Central Strategic International Studies (CSIS) J Kristiadi menilai, mantan Danjen Kopassus masih sulit mengejar elektabilitas Jokowi. Apalagi, Prabowo sering menggunakan kampanye negatif yang memojokkan Jokowi.

"Prabwo ingin naik elektabilitas secara segera sangat sulit. Kampanye mendesak dan ada image terlalu keras pada Jokowi. Kalau itu overdosis, maka akan jadi bumerang pada Prabowo," terang Kristiadi.

Di sisi lain Kristiadi menilai, Jokowi berada dalam posisi tak mudah. Kerap kali, gubernur DKI Jakarta itu bermain politik iba, seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Jokowi bisa jadi SBY kedua, kalau dipojokkan terus tentu masyarakat akan iba. Tapi, jualan iba itu terlalu sering maka tak akan laku lagi," pungkas Kristiadi.

Prabowo juga belakangan ini kerap menyerang kubu PDIP dengan sajak satire: bohong boleh, asal santun. Hal itu bermula ketika Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu merasa dikhianati dengan perjanjian Batu Tulis. (Raden Trimutia Hatta)

Baca juga:

Prabowo Vs Jokowi Bakal Seperti SBY Vs Mega?

LSI: Diterpa Kampanye Negatif, Jokowi Bisa Ditinggal Pemilih

Seteru Jokowi-Prabowo, Gus Sholah: Biar Nggak Senyap dan Hambar

Live Streaming

Powered by