Apa Itu Resesi? Ini Dampak dan Solusi untuk Mengatasinya

Oleh Mabruri Pudyas Salim pada 05 Okt 2022, 19:00 WIB
Diperbarui 05 Okt 2022, 19:00 WIB
Pengertian Resesi
Perbesar
Ilustrasi Grafik Resesi Ekonomi Credit: pexels.com/energepic.com

Liputan6.com, Jakarta Ancaman resesi kian nyata. Kira-kira begitu bunyi sejumlah judul artikel berita yang membahas tentang perekonomian. Hal itu mungkin membuat banyak orang yang awam dengan ilmu ekonomi bertanya-tanya.

Apa itu resesi? Apa bahaya yang mengancam kita? Bagaimana dampaknya bagi kita? Lalu, bagaimana kita bisa bertahan? Artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai resesi.

Dalam ekonomi makro resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat juga diartikan sebagai penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan, berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Dikutip Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (5/10/2022), berikut adalah pengertian resesi, faktor penyebab, dan dampaknya.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Apa itu resesi?

Dalam situasi normal, suatu negara mengalami pertumbuhan ekonomi. Hal ini dinilai dari kesejahteraan masyarakat yang meningkat, ditinjau dari nilai barang dan jasa yang dihasilkan. Nilai barang dan jasa disebut sebagai Gross Domestic Product/produk domestik bruto (GDP).

Perekonomian suatu negara yang tumbuh tentu saja merupakan pertanda baik. Saat ekonomi tumbuh dengan baik, jumlah produksi akan bertambah. Hal ini juga memengaruhi jumlah lapangan kerja yang tersedia.

Saat ekonomi suatu negara tumbuh, perusahaan-perusahaan akan mendapatkan untung lebih banyak, sehingga mereka tidak akan mengalami kesulitan untuk membayar pegawainya.

Bagi pemerintah, pertumbuhan ekonomi tentu akan berdampak pada penerimaan pajak yang lebih banyak. Dengan penerimaan pajak yang lebih banyak, pemerintah dapat menjalankan lebih banyak program untuk mensejahterakan masyarakat dengan lebih leluasa.

Resesi adalah kondisi yang sebaliknya, di mana perekonomian suatu negara tidak mengalami pertumbuhan, dan hal itu terjadi dalam selama dua kuartal atau lebih. Dengan kata lain, resesi adalah kondisi di mana kondisi perekonomian suatu negara tidak mengalami pertumbuhan selama lebih dari enam bulan.

Resesi tidak hanya dipahami sebagai menurunnya Produk Domestik Bruto, namun juga menurunnya aktivitas ekonomi secara signifikan. Resesi adalah kondisi di mana aktivitas ekonomi seperti produksi, konsumsi, investasi, dan ketersediaan lapangan kerja angkanya menurun secara signifikan.

Menurut Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER), resesi adalah penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi yang tersebar di seluruh perekonomian, berlangsung lebih dari beberapa bulan. Penurunan ini terlihat dalam PDB riil, pendapatan riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan grosir-eceran.


Faktor Penyebab Resesi

Resesi
Perbesar
Ilustrasi Grafik Resesi Credit: pexels.com/Burka

Hal utama yang mendorong terjadinya resesi adalah menurunnya aktivitas ekonomi sehingga membuat perekonomian suatu negara, bahkan dunia, tidak mengalami pertumbuhan selama dua kuartal atau lebih. Adapun hal faktor-faktor yang memengaruhi resesi antara lain adalah, produksi dan konsumsi yang tidak seimbang, utang yang berlebihan, penggelembungan aset, inflasi, dan deflasi.

Produksi dan Konsumsi Tidak Seimbang

Keseimbangan antara produksi dan konsumsi atau daya beli masyarakat merupakan dasar pertumbuhan ekonomi. Namun, apabila produksi dan konsumsi tidak seimbang, akan terjadi masalah pada siklus ekonomi. Jika produksi yang tinggi tidak diikuti dengan daya beli masyarakat yang tinggi pula, maka akan mengakibatkan penumpukan persediaan barang.

Sebaliknya, jika produksi rendah sedangkan daya beli masyarakat tinggi sehingga menyebabkan kebutuhan masyarakat tak terpenuhi, maka negara harus melakukan impor. Hal tersebut menyebabkan penurunan laba perusahaan dan lemahnya pasar modal.

Utang yang Berlebihan

Ketika individu atau perusahaan memiliki terlalu banyak utang, dan tak mampu membayar tagihan, hal ini menyebabkan kebangkrutan kemudian membalikkan perekonomian.

Penggelembungan Aset

Penggelembungan aset terjadi ketika investasi didorong oleh emosi. Misalnya pada 1990-an saat pasar saham mendapat keuntungan besar. Investasi yang didorong oleh emosi ini menggembungkan pasar saham, sehingga ketika gelembungnya pecah, maka akan terjadi panic selling yang tentunya dapat menghancurkan pasar dan menyebabkan resesi.

Inflasi

Inflasi adalah tren harga yang stabil dan naik dari waktu ke waktu. Inflasi bukanlah hal yang buruk bagi ekonomi. Tetapi inflasi yang berlebihan dapat membahayakan resesi. Bank Sentral Amerika Serikat maupun Bank Indonesia, umumnya menaikkan suku bunga untuk menekan aktivitas ekonomi. Inflasi yang tak terkendali adalah masalah yang pernah dialami Indonesia, terutama saat krisi moneter pada 1997-1998.

Deflasi

Deflasi adalah saat harga turun dari waktu ke waktu, yang menyebabkan upah menyusut, yang selanjutnya menekan harga. Ketika deflasi lepas kendali, orang dan bisnis berhenti berbelanja, mana hal ini berdampak pada ekonomi suatu negara. Deflasi yang tak terkendali pernah dialami Jepang yang menyebabkan resesi. Jepang berjuang sepanjang tahun 1990-an untuk keluar dari resesi tersebut.


Dampak Resesi

Cara Masyarakat Menghadapi Ancaman Resesi Global
Perbesar
Pemerintah Indonesia akan terus mencermati perkembangan yang sangat dinamis di seluruh dunia. Credit: pexels.com/Karolina Grabowska

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, dalam kondisi normal, perekonomian suatu negara akan mengalami pertumbuhan. Dengan tumbuhnya ekonomi, maka perusahaan akan mendapatkan keuntungan lebih banyak dan terdorong untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Peningkatan dari kapasitas produksi ini tentu berdampak pada jumlah lapangan kerja yang semakin luas. Tentu ini bagus untuk masyarakat.

Sementara itu, dengan semakin banyaknya keuntungan yang diperoleh perusahaan, maka pemerintah akan mendapatkan pemasukan lebih banyak dalam bentuk pajak. Dengan penerimaan pajak yang meningkat, pemerintah akan dapat menjalankan program-program layanan publik, memberikan santunan, dan program-program lain yang dapat mensejahterakan masyarakat.

Ketika resesi, saat semua aktivitas menurun secara signifikan, sehingga perekonomian suatu negara tidak mengalami pertumbuhan, maka dampak yang sebaliknya juga akan dialami oleh perusahaan, masyarakat, maupun pemerintah.

Dampak Resesi Terhadap Pemerintah

Dampak resesi terhadap pemerintah yang paling signifikan adalah pendapatan negara dari pajak dan non pajak menjadi lebih rendah. Hal ini terjadi karena penghasilan masyarakat menurun hingga harga properti yang anjlok dan akhirnya memicu rendahnya jumlah PPN ke kas negara. Dengan pendapatan negara sedang merosot, di sini pemerintah terus dituntut untuk membuka lapangan pekerjaan sebanyak mungkin karena jumlah pengangguran yang meningkat. Akibatnya, pinjaman ke bank asing akan meningkat, dan menyebabkan utang negara semakin menumpuk.

Dampak Resesi Terhadap Perusahaan

Dampak resesi untuk perusahaan adalah bisnis akan berpotensi bangkrut. Ketika terjadi resesi, maka daya beli masyarakat menurun dan pendapatan perusahaan bakal semakin kecil. Kondisi ini yang bakal mengancam kelancaran arus kas. Tak dipungkiri akan ada perang harga untuk mempertahankan perusahaan supaya tidak bangkrut. Namun opsi ini dianggap kurang menguntungkan, sehingga perusahaan lebih memilih menutup area bisnis yang kurang menguntungkan hingga memotong biaya operasional.

Dampak Resesi Terhadap Masyarakat

Dampak resesi terhadap masyarakat atau pekerja adalah terjadi banyak PHK. Dengan banyaknya PHK, maka pengangguran semakin meningkat. Padahal, mereka dituntut untuk terus memenuhi kebutuhan hidup di tengah resesi ekonomi. Di sisi lain, bagi pekerja yang tidak terkena PHK juga terancam terkena pemotongan upah dan hak kerja lainnya saat resesi ekonomi terjadi.


Lalu bagaimana solusinya?

Penyebab Resesi
Perbesar
Ilustrasi Grafik Pandemi Covid-19 Credit: pexels.com/MarkusSpiske

Resesi adalah kondisi di mana perekonomian suatu negara tidak mengalami pertumbuhan dalam dua kuartal atau lebih. Hal itu ditandai dengan menurunnya semua aktivitas ekonomi secara signifikan, seperti konsumsi, produksi, dan investasi.

Kondisi ini memiliki dampak negatif, baik baik pemerintah, pengusaha atau perusahaan, dan masyarakat umum. Oleh karena itu penting untuk mengatasi kondisi ini. Jika resesi telah terjadi, pemerintah melalui bank sentral biasanya akan mengambil kebijakan dengan menurunkan suku bunga.

Dengan menurunkan suku bunga, diharapkan nasabah atau orang-orang yang menyimpan uangnya di bank, menarik uangnya untuk dibelanjakan. Dengan begitu, aktivitas ekonomi akan hidup kembali dalam hal jual-beli.

Dengan menurunkan suku bunga, perusahaan terdorong untuk melakukan pinjaman modal, yang nantinya bisa digunakan untuk produksi. Dari sisi produksi, aktivitas ekonomi hidup kembali. Meningkatnya kapasitas produksi tentunya diperlukan tenaga kerja, sehingga ini juga akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya