Apa Itu AKM? Instrumen Penilaian Mutu Satuan Pendidikan

Oleh Mabruri Pudyas Salim pada 17 Agu 2022, 07:00 WIB
Diperbarui 17 Agu 2022, 07:00 WIB
Antusiasme Murid Kelas 1 SD saat Hari Pertama Sekolah
Perbesar
Antusias murid kelas 1 saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Dasar (SD) Negeri Jati 06 Pagi, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (11/7/2022). Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta memulai Tahun Ajaran Baru 2022/2023 pada hari ini secara Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Apa itu AKM? AKM sendiri merupakan singkatan dari Asesmen Kompetensi Minimum. Dilansir dari laman remi Kemdikbud, AKM adalah suatu sitem penilaian mengukur literasi membaca dan literasi matematika (numerasi) murid. 

AKM sendiri merupakan suatu program yang menjadi bagian dari kebijakan Merdeka Belajar yang kini diusung oleh Kemendikbud. Merdeka belajar adalah kebijakan besar dalam rangka mewujudkan transformasi pengelolaan pendidikan di Indonesia.

AKM adalah suatu sistem yang dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki mutu satuan pendidikan.

Lalu apa itu AKM bagi siswa? Bagi siswa, AKM adalah penilaian yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat. Berikut pengertian tentang AKM dalam sistem pendidikan, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa(16/8/2022).

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Apa Itu AKM?

AKM adalah singkatan dari Asesmen Kompetensi Minimum. Menurut Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemendikbud, apa itu AKM adalah penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat.

AKM adalah bagian dari Asesmen Nasional yang diharapkan akan menggantikan peran UN sebagai sumber informasi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan.

AKM sendiri dirancang untuk mengukur kompetensi peserta didik atau siswa dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi. Untuk mengukur kompetensi peserta didik, AKM menyajikan masalah-masalah dengan beragam konteks yang diharapkan mampu diselesaikan oleh murid menggunakan kompetensi literasi membaca dan numerasi yang dimilikinya.


Bagian dari Asesmen Nasional

FOTO: Suasana PTM 100 Persen Usai Libur Lebaran
Perbesar
Guru mengajar murid di SDN Cibubur 04, Jakarta, Jumat (13/5/2022). Kegiatan belajar di sekolah yang mencakup wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat kembali dimulai pascalibur Lebaran. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

AKM sebenarnya merupakan bagian dari Asesmen Nasional, yang merupakan program penilaian terhadap mutu setiap sekolah pada jenjang dasar dan menengah. Asesmen ini dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid.

Dalam penerapannya, mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

Dari penjelasan tersebut, apa itu AKM bisa dipahami sebagai salah satu instrumen penilaian untuk mengukur mutu satuan pendidikan.

Sementara itu, Asesmen Nasional diharapkan akan menjadi pengganti Ujian Nasional (UN). Namun, Asesmen Nasional tidak menggantikan peran UN dalam mengevaluasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual, melainkan Asesmen Nasional menggantikan peran UN sebagai sumber informasi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan.


Tujuan AKM dan Kompetensi yang Dinilai

Hari Pertama Siswa SMA Tempuh UNBK
Perbesar
Seorang siswi SMA 12 Cilenggang melihat kartu pesertanya saat mengikuti UNBK di Serpong, Senin (9/4). UNBK sekolah menengah atas (SMA) dan madrasah aliyah (MA) berlangsung dari 9-12 April 2018. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Tujuan AKM adalah untuk mengukur kompetensi peserta didik atau siswa dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi. Tingkat kompetensi ini dapat dimanfaatkan guru untuk menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan berkualitas.

Selain itu, AKM akan mendukung "Teaching at the right point". Pembelajaran yang dirancang berdasarkan AKM akan memudahkan murid menguasai kompetensi yang diharapkan. AKM dimaksudkan untuk mengukur kompetensi secara mendalam, tidak sekedar penguasaan konten.

 

Adapun hal-hal yang dinilai antara lain adalah sebagai berikut:

Konten

Konten pada Literasi Membaca menunjukkan jenis teks yang digunakan, dalam hal ini dibedakan dalam dua kelompok yaitu teks informasi dan teks fiksi. Pada Numerasi konten dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu Bilangan, Pengukuran dan Geometri, Data dan Ketidakpastian, serta Aljabar.

Tingkat kognitif

Tingkat kognitif menunjukkan proses berpikir yang dituntut atau diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah atau soal. Proses kognitif pada Literasi Membaca dan Numerasi dibedakan menjadi tiga level. Pada Literasi Membaca, level tersebut adalah menemukan informasi, interpretasi dan integrasi serta evaluasi dan refleksi. Pada Numerasi, ketiga level tersebut adalah pemahaman, penerapan, dan penalaran.

Konteks

Konteks menunjukkan aspek kehidupan atau situasi untuk konten yang digunakan. Konteks pada AKM dibedakan menjadi tiga, yaitu personal, sosial budaya, dan saintifik.


Peserta AKM

FOTO: Berlatih Melindungi Diri dari Gempa dan Tsunami
Perbesar
Anak-anak sekolah menggunakan tas mereka untuk melindungi diri saat latihan gempa dan tsunami di Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali, 24 Mei 2022. (SONY TUMBELAKA/AFP)

AKM merupakan bagian dari Asesmen Nasional yang wajib diikuti oleh seluruh satuan pendidikan, mulai dari tingkat dasar dan menengah di Indonesia. Pada tiap satuan pendidikan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh Kemdikbud.

Sedangkan Asesmen Nasional, hanya diikuti sebagian murid karena tidak digunakan untuk menentukan kelulusan ataupun menilai prestasi murid sebagai seorang individu. Asesmen Nasional merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, tidak semua murid perlu menjadi peserta dalam Asesmen Nasional.

Hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar murid yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di satuan pendidikan tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya