Penyebab Skoliosis, Jenis, Gejala, Beserta Perawatannya

Oleh Bimo Bagas Basworo pada 05 Jul 2022, 21:10 WIB
Diperbarui 05 Jul 2022, 21:10 WIB
Ilustrasi Skoliosis
Perbesar
Ilustrasi Skoliosis. (Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta Skoliosis adalah salah satu kelainan tulang yang dapat dialami oleh semua orang dari semua kelompok umur. Penderita skoliosis memiliki tulang belakang yang melengkung secara abnormal. Tak dipungkiri jika penyebab skoliosis perlu diketahui semua orang.

Bila tulang belakang normal terlihat lurus jika dilihat dari belakang, tulang belakang penderita skoliosis melengkung membuat badan terlihat condong ke satu arah tertentu. Biasanya bentuk lekukan tulang belakang akan menyerupai bentuk huruf S atau C.

Meskipun skoliosis bisa menyerang baik anak-anak maupun orang dewasa, skoliosis lebih banyak diderita oleh anak-anak. Kelainan ini bahkan bisa diderita oleh bayi dan balita. Untuk itu penyebab skoliosis harus segera diketahui demi mencegah kelainan yang semakin parah.

Perubahan bentuk tulang belakang akibat skoliosis biasanya terjadi secara lambat dan perlahan-lahan, seiring dengan pertumbuhan anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk waspada dan mengenali gejala-gejala skoliosis supaya dapat melakukan deteksi dini dan memberikan perawatan untuk mencegah permasalahan-permasalahan kesehatan yang bisa timbul akibat kelainan ini.

Berikut ini penyebab pskoliosis beserta gejala, serta perawatannya yang dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (5/7/2022).


Penyebab Pskoliosis, Apakah Postur Tubuh dan Pola Makan Berpengaruh?

Ilustrasi Skoliosis
Perbesar
Ilustrasi Skoliosis. (Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay)

Hingga saat ini, 80% kasus skoliosis masih belum diketahui secara pasti penyebabnya. Bagi orang dewasa yang menderita kelainan tulang ini, penurunan kondisi tulang ataupun penyakit seperti Osteoporosis bisa menjadi salah satu faktor penyebab skoliosis.

Selain itu, penyakit saraf seperti Cerebral Palsy juga disebut-sebut menjadi salah satu penyebab skoliosis. Skoliosis juga dapat muncul sebagai bagian dari sindrom-sindrom tertentu seperti sindrom trisomy-21 dan sindrom Marfan.

Pertumbuhan tulang belakang yang tidak sempurna pada janin juga menyebabkan bayi tersebut menderita kelainan skoliosis ketika ia lahir. Penyakit seperti  Scheuermann’s kyphosis yang mempengaruhi pertumbuhan tulang belakang juga dapat menjadi pemicu dari kelainan tulang ini. Selain itu, faktor genetik juga diduga sebagai salah satu penyebab skoliosis.

Beberapa orang menduga bahwa hal-hal seperti postur tubuh yang buruk, pola makan, maupun olahraga dapat menyebabkan skoliosis. Akan tetapi, hal ini dibantah oleh NHS di situs web mereka.


Penyebab Skoliosis dan Jenisnya

Penyebab skoliosis
Perbesar
Penyebab skoliosis (sumber: Pixabay)

Mengutip dari situs Scoliosis Association UK, setidaknya ada tujuh tipe skoliosis. Berikut ini tipe-tipe skoliosis beserta penyebabnya:

Scoliosis congenital. Penyebab skoliosis congenital adalah tulang belakang yang tumbuh tidak sempurna atau sepenuhnya. Hal ini menyebabkan tulang belakang melengkung ketika mereka tumbuh.

Early onset scoliosis adalah skoliosis yang terjadi pada bayi hingga anak-anak berumur 10 tahun. Penyebab skoliasis ini tidak diketahui atau idiopatik. Kebanyakan dari anak-anak yang menderitak early onset scoliosis hidup sehat dan normal, serta hanya memiliki sedikit lengkungan di tulang belakangnya.

Adolescent idiopathic scoliosis (AIS) adalah skoliosis yang terjadi pada anak atau remaja berusia 10 hingga 18 tahun. Penyebab skoliosis tipe ini masih belum diketahui secara pasti. Ada dugaan bahwa factor genetic atau keturunan menjadi salah satu pemicu dari skoliosis ini.

Adult degenerative scoliosis adalah skoliosis yang terjadi pada orang dewasa. Penyebab skoliosis ini adalah menurunnya kondisi tulang belakang akibat umur. Tekanan akibat menurunnya kondisi tulang belakang ini dapat membuat tulang belakang melengkung.

Neuromuscular scoliosis adalah skoliosis yang disebabkan oleh kondisi neurologis. Kondisi neurologis terjadi ketika ada kerusakan pada otak atau saraf akibat penyakit atau cedera. Kondisi neurologis seperti Duchenne muscular dystrophy atau spinal muscular atropy menyebabkan otot berhenti bekerja, dan ketika otot berhenti bekerja skoliosis dapat berkembang.

Syndromic scoliosis adalah skoliosis yang berkembang sebagai bagian dari sindrom tertentu seperti Retts Syndrome serta Beale’s syndrome.

Scheuermann’s kyphosis adalah kondisi ketika vertebrae (tulang-tulang kecil yang membentuk tulang belakang) bagian depan tumbuh lebih lambat dari bagian belakang. Ini menyebabkan tulang belakang melengkung. Sampai saat ini masih belum diketahui penyebabnya.


Gejala Skoliosis dan Dampaknya Bagi Penderita

Ilustrasi Skoliosis
Perbesar
Ilustrasi skoliosi. (Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay.)

Ada beberapa gejala dari penyakit skoliosis, yaitu:

- Tulang belakang yang tampak melengkung dari belakang

- Bahu yang tinggi sebelah

- Pinggang yang tinggi sebelah

- Tulang rusuk menonjol di satu sisi

- Nyeri tulang belakang, sering terjadi pada orang dewasa yang menderita skoliosis

- Ukuran pinggang berubah

- Kaki yang panjang sebelah.

Bayi yang menderita skoliosis biasanya berbaring melengkung ke satu arah tertentu. Selain itu, adanya tonjolan si salah satu sisi dada bayi juga dapat menjadi salah satu gejala skoliosis. Dalam beberapa kasus yang berat, bayi yang menderita skoliosis dapat mengalami sesak nafas, dan sakit di bagian dada.

Sebagian orang dewasa yang menderita skoliosis bisa mengalami nyeri punggung jangka panjang serta artritis. Selain itu, skoliosis juga bisa menyebabkan masalah jantung dan paru-paru. Penderita skoliosis yang parah dapat kesulitan bernapas. Skoliosis juga bisa menyebabkan jantung dan paru-paru tertekan oleh rongga dada, membuatnya kesulitan untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Akan tetapi, menurut NHS, mayoritas dari para penderita skoliosis tetap dapat menjalani kehidupan normal. Mereka dapat melakukan hampir semua aktivitas, termasuk olahraga. Skoliosis umumnya tidak menyebabkan rasa sakit yang parah ataupun masalah Kesehatan lainnya. Di samping itu, keadaan tulang belakang cenderung tidak berubah ketika pasca masa pertumbuhan.


Cara Perawatan Skoliosis

Brace yang digunakan untuk terapi orang dengan skoliosis (Dokumentasi: Scoliosis Care)
Perbesar
Brace yang digunakan untuk terapi orang dengan skoliosis (Dokumentasi: Scoliosis Care)

Menurut situs web NHS, perawatan pasien skoliosis diberikan berdasarkan umur, tingkat keparahan, dan juga potensi memburuknya keadaan di masa yang akan datang. Berikut ini tindakan perawatan dan penanganan untuk penderita skoliosis:

- Untuk bayi dan balita pada umumnya tidak memerlukan tindakan perawatan atau penanganankarena lengkungan tulang mungkin dapat membaik di kemudian hari. Alat penyangga yang disebut brace dapat digunakan untuk mencegah lengkungan tulang menjadi semakin parah ketika mereka tumbuh.

- Untuk anak-anak yang lebih tua atau remaja, bisa menggunakan gips untuk mencegah lengkungan tulang menjadi lebih buruk sampai masa pertumbuhan mereka selesai. Pada kasus-kasus tertentu, operasi untuk mengkontrol pertumbuhan tulang belakang dibutuhkan sampai operasi untuk meluruskan tulang belakang dapat dilakukan ketika mereka sudah selesai masa pertumbuhannya.

- Untuk orang dewasa mungkin dibutuhkan perawatan untuk mengurangi rasa sakit seperti pemberian obat pereda rasa sakit, spinal injection, dan pada kasus-kasus tertentu operasi.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya