Penyebab Diabetes pada Anak, Bahaya, dan Cara Mencegahnya

Oleh Husnul Abdi pada 24 Jan 2022, 19:10 WIB
Diperbarui 24 Jan 2022, 21:53 WIB
Penyebab Diabetes pada Anak
Perbesar
Penyebab Diabetes pada Anak

Liputan6.com, Jakarta Matthew White, salah satu pemeran hantu cilik di film DANUR 2: MADDAH dan DANUR 3: SUNYARURI meninggal dunia pada Minggu, 23 Januari 2022 malam. Di film Danur, ia memerankan Hendrick, salah satu kawan tak kasat mata dari Rissa Saraswati, karakter yang diperankan oleh Prilly Latuconsina. Matt meninggal dunia di usia 11 tahun dengan riwayat penyakit diabetes.

"Ada riwayat penyakit (gula)," kata Oki Hartanto selaku pihak management AM PM yang selama ini menaungi Matthew dikutip dari Kapanlagi, Senin (24/1/2022).

Selama ini, masyarakat mungkin mengenal diabetes sebagai penyakit yang dialami oleh orang dewasa saja. Namun, ternyata masalah kesehatan ini juga bisa dialami oleh anak-anak, terutama diabetes tipe-1.

Biasanya, penyebab diabetes tipe-1 pada anak adalah karena faktor keturunan ataupun adanya gangguan fungsi pankreas. Sementara itu, penyebab diabetes tipe-2 pada anak dipengaruhi oleh gaya hidup tidak sehat seperti berat badan berlebih.

Untuk menangani dampak buruknya, orang tua perlu memahami penyebab dan cara mencegah diabetes pada anak. Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (24/1/2022) tentang penyebab diabetes pada anak.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penyebab Diabetes pada Anak

Penyebab Diabetes Melitus pada Anak
Perbesar
Penyebab Diabetes Melitus pada Anak(pexels/erenli).

Seperti Liputan6.com kutip dari p2ptm.kemkes.go.id, diabetes tipe-1 lebih cenderung terjadi pada anak. Walaupun kasus diabetes tipe-1 yang paling banyak pada anak, terdapat kecenderungan peningkatan kasus diabetes tipe-2 pada anak dengan faktor risiko obesitas, genetik dan etnik, serta riwayat DM tipe-2 di keluarga.

Penyebab diabetes tipe-1 adalah interaksi dari banyak faktor, antara lain kecenderungan genetik, faktor lingkungan, sistem imun, dan sel beta pankreas yang perannya masing-masing terhadap proses diabetes tipe-1 belum diketahui.

Diabetes tipe 1 terjadi biasanya karena pengaruh dari genetika atau karena adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh pada anak penderita diabetes menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas. Adanya gangguan fungsi pankreas membuatnya tidak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah cukup. Padahal, insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh kelenjar pankreas untuk membantu tubuh menyerap gula atau glukosa, sehingga kadar gula darah terkontrol.

Hasilnya, kemampuan pankreas anak dalam menghasilkan insulin berkurang. Akibatnya, gula darah banyak menumpuk dalam aliran darah anak dan menyebabkan kadar gula darah anak naik.

Berbeda dengan diabetes tipe-1, penyebab diabetes tipe-2 sangat erat kaitannya dengan gaya hidup tidak sehat seperti berat badan berlebih, obesitas, kurang aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia, dan diet tidak sehat/tidak seimbang, serta merokok.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan angka kejadian faktor risiko diabetes tipe-2 yaitu sebesar 18,8% anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan dan 10,8% menderita obesitas.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bahaya Diabetes pada Anak

Bahaya diabetes pada anak tentunya perlu diketahui, karena hal ini dapat berakibat fatal. Pasalnya, diabetes pada anak harus segera ditangani saat kamu melihat gejala-gejalanya. Setelah melihat gejala-gejala diabetes terjadi pada anak, kamu harus sesegera mungkin membawanya berobat ke dokter untuk memastikan apakah anak positif diabetes atau tidak.

Mengutip dari KlikDokter, salah satu komplikasi serius akibat diabetes melitus adalah munculnya diabetik ketoasidosis. Keadaan ini lebih kerap berkaitan dengan keterlambatan diagnosis pada diabetes tipe 1. Namun tak menutup kemungkinan untuk ditemukan pada kasus diabetes tipe 2.

Diabetik ketoasidosis muncul saat tubuh mulai memecah lemak sebagai sumber energi, karena tidak dapat mengolah glukosa (gula). Hal ini mengakibatkan tubuh menghasilkan bahan kimia bernama keton (beracun) dalam jumlah tinggi. Selain itu, keadaan tubuh juga menjadi asam atau mengalami asidosis. Kondisi ini memerlukan penanganan sesegera mungkin.

Untuk itu, mengenali gejala-gejala diabetes pada anak sangatlah penting. Gejala diabetes pada anak di antaranya adalah:

- Sering Buang Air Kecil

- Sering Merasa Haus

- Sering Merasa Lapar

- Berat Badan Turun Drastis

- Kelelahan

- Mudah Marah

- Sakit perut, mual, muntah, bau mulut, kesulitan bernapas, dan bahkan kehilangan kesadaran. Hal ini terjadi karena zat keton terbentuk dalam tubuh.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Cara Mencegah Diabetes pada Anak

Cara Mencegah Diabetes pada Anak
Perbesar
Cara Mencegah Diabetes pada Anak (pexels/artempodrez).

Diabetes tipe-1 tidak dapat dicegah dan siapapun dapat mengalaminya. Anak dengan diabetes melitus tipe 1 harus mendapat suntikan insulin seumur hidupnya sebanyak lima hingga enam kali setiap hari. Ini harus dilakukan untuk menjaga metabolisme tubuh pasien agar tetap seimbang dan terjaga dengan baik.

Sementara itu, diabetes tipe-2 pada anak biasanya terdiagnosis pada usia pubertas atau lebih tua. Mengutip p2ptm.kemkes.go.id, peningkatan diabetes tipe-2 diketahui dipengaruhi oleh obesitas, jadi pencegahan dilakukan dengan dengan menerapkan gaya hidup sehat, yaitu sebagai berikut:

- Mempertahankan berat badan ideal. Jika anak memiliki berat badan berlebih, maka upayakan untuk menguranginya sekitar 5-10% untuk mengurangi risiko. Diet kalori dan rendah lemak sangat dianjurkan sebagai cara terbaik menurunkan berat badan dan mencegah diabetes tipe-2.

- Perbanyak makan buah dan sayur. Dengan mengonsumsi berbagai macam buah dan sayur setiap hari, maka risiko diabetes tipe-2 dapat berkurang.

- Kurangi minum minuman manis dan bersoda.

- Aktif berolahraga. Upayakan untuk berolahraga setidaknya 30 menit dalam sehari untuk mencapai berat badan ideal dan menekan tingginya risiko diabetes tipe-2. Selain itu berolahraga juga bisa menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan kadar insulin.

- Batasi waktu penggunaan gadget.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya