Otoriter adalah Kepemimpinan Sewenang-wenang, Kenali dari Ciri-Cirinya

Oleh Laudia Tysara pada 21 Okt 2021, 21:30 WIB
Diperbarui 21 Okt 2021, 21:30 WIB
Jenjang Karir yang Jelas
Perbesar
Ilustrasi Rapat. Credit: unsplash.com/Campaign

Liputan6.com, Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menerjemahkan otoriter adalah tindakan yang berkuasa sendiri atau sewenang-wenang. Otoriter dikenal pula dengan otokratis yang merupakan salah satu macam gaya kepemimpinan. Pemimpin otoriter adalah cenderung merasa dirinya paling pintar dan mengerti, tidak suka mendapat kritik dan masukan.

Gaya kepemimpinan otoriter adalah memiliki kecenderungan memaksakan kepatuhan mutlak. Di Indonesia, kepemimpinan otoriter adalah terjadi di masa rezim Soeharto. Sementara pemimpin dunia yang terkenal bersikap otoriter adalah Benito Mussolini, Adolf Hitler, Kim Jong-un, dan Richard Nixon.

Kepemimpinan yang otoriter adalah sangat bertolak belakang dengan gaya kepemimpinan otoritatif. Apabila otoriter adalah cenderung memaksakan kehendak. Justru kepepimpinan otoritatif berlaku seperti mentor yang mau membimbing dan mengarahkan bawahannya untuk mencapai tujuan kepemimpinan.

Tidak selalu memiliki konotasi yang negatif. Gaya kepemimpinan otoriter adalah berguna ketika suatu organisasi membutuhan sosok pemimpin yang bisa memutuskan dengan cepat dan akurat. Membuat sesuatu tampak sempurna, karena gaya otoriter adalah tidak menoleransi adanya kesalahan sekecil apapun.

Berikut Liputan6.com ulas tentang gaya kepemimpinan otoriter lebih dalam dari berbagai sumber, Kamis (21/10/2021).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Ciri-Ciri Gaya Kepemimpinan Otoriter

Ilustrasi diskusi | mentatdgt dari Pexels
Perbesar
Ilustrasi diskusi | mentatdgt dari Pexels

Gaya kepemimpinan otokratis atau otoriter adalah memusatkan kekuasaan penuh pada pemimpin. Biasanya, para bawahan atau anggota tidak diberikan kebebasan untuk menentukan tujuan mereka sendiri.

Dalam arti, keputusan pemimpin otoriter adalah bersifat mutlak, tidak bisa diganggu gugat, dan anggotanya tidak diberi kesempatan berpendapat.

Pemimpin otoriter adalah sangat dominan dalam setiap pengambilan keputusan, kebijakan, peraturan, dan prosedur apa pun di perusahaan/organisasi. Terkadang, gaya kepemimpinan ini bisa berjalan sukses, jika memang pemimpin punya pengalaman dan keterampilan maksimal.

Adapun ciri-ciri pemimpin otoriter adalah:

1. Organisasi atau perusahaan dianggap sebagai milik pribadi dan atasan memiliki hak penuh atas itu.

2. Bawahan hanyalah sebagai alat semata untuk mencapai tujuan perusahaan atau organisasi.

3. Tidak mau menerima kritik, saran, dan pendapat dari orang lain.

4. Semua keputusan dari pemimpin adalah paling benar.

5. Sering menggerakkan bawahan dengan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.

6. Cenderung membuat pilihan hanya dari pemikiran atau idenya sendiri.

7. Memandang ide bawahan tidak lebih baik.

8. Pemimpin otoriter membuat inovasi dan kreativitas tidak bisa dikembangkan.

9. Di bawah pemimpin otoriter, banyak yang merasa tugas yang dikerjakan hanya didasarkan pada ketakutan dan ancaman.

10. Sangat berorientasi pada hasil dan tugas.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Macam Gaya Kepemimpinan Lainnya

Ilustrasi diskusi | fauxels dari Pexels
Perbesar
Ilustrasi diskusi | fauxels dari Pexels

1. Gaya Kepemimpinan Birokrasi

Pemimpin tidak hanya bertugas sebagai atasan, tapi juga harus memastikan bahwa semua aturan dipatuhi oleh karyawan. Kepemimpinan birokrasi cukup efektif untuk memantau hasil kerja rutin dari para karyawan.

2. Gaya Kepemimpinan Karismatik

Kata 'karisma' yang berasal dari bahasa Yunani sebagai suatu sifat tertentu dari seseorang. Karisma dipandang sebagai kemampuan atau kualitas istimewa manusia yang tidak dimiliki oleh orang dewasa.  Seorang pemimpin karismatik memiliki rasa kepercayaan diri yang kuat, sehingga mampu memengaruhi anak buahnya.

3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif

Macam gaya kepemimpinan yang selanjutnya adalah gaya kepemimpinan partisipatif. Partisipatif merupakan gaya kepemimpinan yang mengarah pada kepercayaan dan loyalitas dari bawahan ke pemimpin.

4. Gaya Kepemimpinan Inovatif

Setiap organisasi maupun perusahaan selalu membutuhkan inovasi berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut, sangat diperlukan sosok pemimpin dengan pribadi yang inovatif pula.

Gaya kepemimpinan inovatif lebih mengarah pada perusahaan yang memproduksi produk, layanan, dan jasa. Tipe pemimpin seperti ini akan mengarahkan setiap karyawan memiliki ide-ide segar demi kemajuan perusahaan.

5. Gaya Kepemimpinan Demokratis

Dalam konsep kepemimpinan demokratis, anak buah (bawahan) mempunyai peranan penting dan dilibatkan dalam setiap keputusan. Setiap bawahan diberikan tugas dari atasan sesuai dengan kemampuan atau keahlian masing-masing.

6. Gaya Kepemimpinan Delegatif

Hampir mirip dengan gaya kepemimpinan demokratis, di mana seorang atasan memberi kepercayaan pada tim yang ia pimpin. Dari sini, dapat terlihat bagaimana cara pemimpin meningkatkan kerjasama antara dirinya dan anggota tim dalam menyelesaikan tugas.

Sembari bekerja sama, pemimpin tipe ini bisa sekaligus mengawasi jalannya sistem agar tidak 'kebablasan'. Umumnya, cara memimpin seperti ini ditemukan pada perusahaan start-up yang masih berkembang.

7. Gaya Kepemimpinan Situasional

Macam gaya kepemimpinan yang selanjutnya adalah gaya kepemimpinan situasional. Seperti namanya, gaya kepemimpinan situasional menekankan pada pengaruh lingkungan dan situasi.

8. Gaya Kepemimpinan Transformasional

Secara sederhana, kepemimpinan transformasional diartikan sebagi proses mengubah dan mentransformasikan individu menuju perubahan. Di dalamnya, pemimpin terlibat untuk memenuhi kebutuhan para karyawan agar kualitas mereka semakin meningkat.

9. Gaya Kepemimpinan Transaksional

Gaya kepemimpinan transaksional mengutamakan berbagai kesepakatan antara pimpinan dan anggotanya. Bentuk kesepakatan tersebut berupa reward (hadiah/penghargaan) dan punishment (hukuman/sanksi).

Kesepakatan ini akan 'memancing' semangat para anggota bekerja sebaik-baiknya untuk memperoleh penghargaan. Sementara, bagi mereka yang tidak sanggup mencapai tujuan, maka harus siap menerima segala bentuk sanksi.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya