Perbedaan Vaksin AstraZeneca dan Sinovac, dari Kandungan, Efikasi, Hingga Efek Samping

Oleh Husnul Abdi pada 02 Agu 2021, 15:45 WIB
Diperbarui 02 Agu 2021, 15:45 WIB
Ilustrasi vaksin COVID-19 (Source: Pexels/Artem Podres)
Perbesar
Ilustrasi vaksin COVID-19 (Source: Pexels/Artem Podres)

Liputan6.com, Jakarta Perbedaan vaksin AstraZeneca dan Sinovac  mungkin perlu kamu pahami. Pasalnya, kedua jenis vaksin adalah yang paling banyak digunakan di Indonesia. Walaupun keduanya memiliki tujuan yang sama, kamu tetap harus mengenali secara detail.

Vaksin AstraZeneca dan Sinovac tentunya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk melindungi tubuh dari paparan virus Corona. Kandungan, dosis, efek samping, teknologi yang digunakan, hingga efikasinya tentu perlu kamu perhatikan. Perbedaan vaksin AstraZeneca dan Sinovac bisa dilihat dari kandungan hingga efikasinya.

Vaksin AstraZeneca dan Sinovac telah dinyatakan memenuhi standar internasional oleh WHO, baik dalam proses pembuatan, keamanan, maupun efikasinya. Jadi, tentunya kamu tidak perlu pilih-pilih vaksin lagi. Semakin cepat semua orang mendapatkan vaksin, semakin cepat pula pandemi ini berakhir.

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (2/8/2021) tentang perbedaan vaksin AstraZeneca dan vaksin Sinovac.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perbedaan Vaksin AstraZeneca dan Sinovac

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)

Asal, Kandungan, dan Usia Penerima

Kandungan kedua jenis vaksin ini merupakan perbedaan yang paling mendasar yang perlu kamu ketahui.Vaksin AstraZeneca dikembangkan oleh perusahaan AstraZeneca dan Universitas Oxford Inggris, sedangkan vaksin Sinovac dikembangkan perusahaan farmasi Sinovac dari China.

Vaksin Sinovac menggunakan platform inactivated virus atau virus tidak aktif, sedangkan vaksin AstraZeneca menggunakan vektor adenovirus. Bahan dasar vaksin Sinovac adalah virus corona (SARS-CoV-2) yang telah dimatikan. Sementara itu, bahan dasar vaksin AstraZeneca adalah vector adenovirus atau virus hasil rekayasa genetika.

Perbedaan vaksin AstraZeneca dan Sinovac juga bisa dilihat dari usia penerimanya. Vaksin AstraZeneca bisa diberikan pada orang berusia di bawah 65 tahun, yaitu 18-64 tahun. Sementara vaksin Sinovac dapat diberikan pada orang berusia 18-59 tahun. Namun, di Indonesia BPOM mengizinkan vaksin diberikan pada usia di atas 60 tahun.

Rentang Pemberian Vaksin

Seperti yang telah diketahui, vaksin COVID-19 ini diberikan dalam dua dosis. Jumlah dosis yang disarankan WHO sama untuk keduanya, yaitu 0,5 ml untuk suntikan dosis pertama dan kedua. Perbedaan vaksin AstraZeneca dan Sinovac juga bisa dilihat dari jadwal pemberian vaksin pertama dan kedua ini. Vaksin Sinovac diberikan dalam rentang 2-4 minggu, dedangkan vaksin AstraZeneca diberikan dalam rentang 8-12 minggu.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perbedaan Vaksin AstraZeneca dan Sinovac

Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)

Efikasi

Perbedaan vaksin AstraZeneca dan Sinovac berikutnya adalah dalam efikasi. Dilansir dari KlikDokter, efikasi adalah persentase penurunan kejadian penyakit pada kelompok orang yang divaksinasi. Jadi, efikasi menunjukkan kemampuan vaksin tapi dalam konteks penelitian.

Efikasi vaksin yang dipersyaratkan WHO adalah lebih dari 50%. Kedua vaksin tersebut memiliki efikasi yang lebih dari 50% seperti yang dipersyaratkan oleh WHO. Vaksin Sinovac memiliki efikasi sebesar 56-65%, sementara vaksin AstraZeneca efikasinya sebesar 62-75%. Sehingga, kedua jenis vaksin tersebut dipastikan efektif untuk melindungi tubuh dari paparan virus Corona.

Efek Samping

Efek samping yang dirasakan setelah vaksin AstraZeneca dan Sinovac secara umum sama saja, yaitu nyeri di lokasi suntikan. Namun, terkadang ada juga yang mengalami gejala lainnya seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, hingga kelelahan yang ringan. Biasanya gejala ini akan hiang hanya dalam 1-2 hari saja. Bila kamu merasakan gejala yang berat, segera temui dokter.

Vaksin Sinovac dibuat menggunakan virus mati atau inactivated virus. Hal ini membuat kekerapan demam, sakit kepala, pegal pada penerimanya rendah sekali yakni sekitar 2-4 persen. Terbukti, vaksin Sinovac bisa mencegah penyakit yang berat, termasuk mencegah kematian.

Sementara, vaksin AstraZeneca menggunakan viral vector. Mekanismenya adalah virus Corona yang mati ditumpangkan kepada vektor yang merupakan adenovirus yang dilemahkan. Hal ini mengakibatkan kekerapan demam, pegal-pegal, sakit kepala mencapai 65 persen. Walaupun begitu, dalam uji klinisnya, sebagian besar efek samping vaksin hanya bersifat ringan hingga sedang dan bisa sembuh dalam beberapa hari. Vaksin AstraZeneca juga punya keunggulan lainnya, yakni bisa mencegah penularan COVID-19.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya