Epidemiolog UGM: PPKM Darurat Belum Efektif Tekan Kasus COVID-19

Oleh Anugerah Ayu Sendari pada 25 Jul 2021, 18:30 WIB
Diperbarui 25 Jul 2021, 18:30 WIB
Penambahan Penyekatan Ruas Jalan saat PPKM Darurat
Perbesar
Petugas Polisi dan Dishub menyekat ruas Jalan Simatupang mengarah ke Fatmawati, Jakarta, Sabtu (10/7/2021). Penambahan titik penyekatan jalan seperti ruas Jalan Simatupang, Jalan Antasari, dan Jalan Raya Cijantung untuk mempertegas bahwa Jakarta masih masa PPKM Darurat. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Yogyakarta PPKM Darurat yang dilakukan pada 3-20 Juli 2021, masih dianggap kurang efektif menekan kasus COVID-19. Hal ini diungkapkan oleh Bayu Satria Wiratama, Epidemiolog UGM. Bayu menilai, penerapan PPKM darurat belum memberikan dampak penurunan jumlah kasus positif COVID-19.

“Belum terlihat penurunannya. Kalaupun turun diikuti jumlah tes yang turun juga,”kata Bayu Satria dalam keterangan resminya, Jumat (23/7).

Meski sempat terjadi penurunan, menurut Bayu, angka tersebut lebih disebabkan jumlah sampel yang dites menurun dan itu sudah diakui oleh pemerintah sendiri. Sementara persentase jumlah kasus positif COVID-19 cenderung stabil.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Prokes abai, testing minim

Beberapa waktu terakhir juga muncul kabar bahawa vaksinasi justru menyebabkan peningkatan kasus positif. Namun, narasi ini dibantah Bayu karena tidak ada hubungan antara peningkatan kasus positif dari gencarnya program vaksinasi. Kenaikan justru disebabkan masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan.

“Bukan karena vaksinnya, karena vaksin aman dan tidak akan menyebabkan sakit Covid-19. Yang mungkin terjadi adalah pelaksanaannya yang tidak terkendali dan menyebabkan 5M tidak bisa dijaga,”katanya.

Meningkatnya kasus positif dua bulan terakhir disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut Bayu, kasus yang meningkat kemungkinan sudah terjadi sejak lama, namun tidak terpantau karena jumlah testing yang masih minim.

“Kita tidak pernah bisa cukup testingnya sehingga data yang ada itu tidak mencerminkan yang sebenarnya sehingga mungkin sekali di Juni sudah tinggi kasusnya, namun banyak yang masih undetected. Bahkan, diduga sejak Mei banyak kasus yang tidak terdeteksi sudah ada di masyarakat makanya bisa naik sangat tinggi di Juli,” ungkapnya.

Bayu menyarankan agar pemerintah gencar melakukan program vaksinasi agar herd immunity segera tercapai. Namun, apabila laju vaksinasi harian masih rendah maka target bulan September untuk herd immunity di Jawa Bali akan sulit.

“Laju vaksinasi harian kita masih sangat rendah. Kecuali kita bisa 2 juta sehari,”katanya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya