10 Wisata Religi di Kudus yang Wajib Dikunjungi, Tapak Tilas Walisongo Berbalut Budaya

Oleh Ayu Rifka Sitoresmi pada 17 Mei 2021, 12:00 WIB
Diperbarui 17 Mei 2021, 12:00 WIB
STOK A 10 Wisata Religi di Kudus yang Wajib Dikunjungi, Tapak Tilas Walisongo Berbalut Budaya
Perbesar
Masjid Menara Kudus (Sumber: Simas Kemenag)

Liputan6.com, Jakarta Wisata Kudus memang lebih dikenal dengan destinasi wisata religinya. Apalagi ada makan dua sunan yang termasuk ke dalam Wali songo dan berperan penting dalam penyebaran agama islam di Nusantara pada zaman dahulu.

Kota yang terkenal dengan sebutan Kota Kretek dan Kota Santri ini sangat menarik dikunjungi oleh para wisatawan yang menyukai wisata religi. Hal ini diberikan sebab Kudus sebagai salah satu kota pusat pembelajaran agama islam di tanah Jawa, dengan ratusan pondok yang berdiris di kota ini.

Di Kudus juga banyak makan tokoh penyebar agama Islam ternama. Seperti makan Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kedu, Syekh Syadzali dan Kyai Telingsing. Kemasyhuran Kudus sebagai pusat ajaran Islam di Pantai Utara Jawa juga dibuktikan dengan banyaknya wisata religi yang tersebar di kota tersebut, tentunya menarik dan kaya akan sejarah.

Berikut penjelasan mengenai wisata religi di Kudus yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berabagai sumber, Kamis (6/5/2021).

2 dari 6 halaman

Wisata Religi di Masjid Agung Demak dan Masjid Menara Kudus

STOK A 10 Wisata Religi di Kudus yang Wajib Dikunjungi, Tapak Tilas Walisongo Berbalut Budaya
Perbesar
Menara Kudus. (Liputan6.com/Rita Ayuningtyas)

1. Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak sebenarnya berlokasi di Kampung Kauman, Kabupaten Demak. Masjid yang didirikan oleh Raden Patah, raja pertama Kesultanan Demak, pada 1479 Masehi ini dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para sunan yang tergabung dalam Wali Songo. Bangunan utama masjid ini berupa sebuah beranda luas dengan atap berbentuk limas bertumpang susun tiga yang menggambarkan iman, Islam, dan ihsan (kesempurnaan). Atap ditopang oleh empat pilar besar yang disebut Soko Guru. Uniknya pilar-pilar tersebut tidak terbuat dari kayu utuh, tetapi bisa tetap kokoh berdiri hingga saat ini. Masjid Agung Demak juga merupakan bukti nyata akulturasi budaya dan penyebaran agama Islam yang bertoleransi terhadap budaya setempat. Atap bersusun tiga dirancang dengan inspirasi  atap bangunan pura yang merupakan tempat ibadah umat Hindu.  Agama yang banyak dipeluk oleh masyarakat di nusantara masa itu.

2. Masjid Menara Kudus

Masjid yang memiliki nama resmi Al Aqsa Manarat Qudus ini merupakan masjid kuno yang didirikan oleh Sunan Kudus pada 1549 Masehi. Batu pertama yang diletakkan untuk membangun masjid ini dibawa secara khusus oleh Sunan Kudus dari Baitul Maqdis di Palestina. Masjid ini memiliki keunikan arsitektur yang akan membuatmu berdecak kagum. Menaranya menyerupai bangunan candi. Secara keseluruhan arsitektur masjid ini pun merupakan perpaduan antara arsitektur khas bangunan Hindu-Buddha dengan budaya Islam.  Jika berkunjung ke Kudus tepat sebelum Ramadan Anda bisa sekalian mengikuti Festival Dhandhangan yang berpusat di masjid ini.

3 dari 6 halaman

Wisata Religi di Makam Sunan Kudus dan Sunan Muria

STOK A 10 Wisata Religi di Kudus yang Wajib Dikunjungi, Tapak Tilas Walisongo Berbalut Budaya
Perbesar
Makam Sunan Muria (Sumber: visitjawatengah.jatengprov.go.id)

3. Makam Sunan Kudus

Berkunjung ke Masjid Menara Kudus Anda bisa sekalian berziarah ke makam Sunan Kudus. Salah satu anggota Wali Songo yang menyebarkan ajaran Islam melalui seni dan budaya. Salah satu peninggalannya adalah tembang Asmaradahana. Anda bisa menemukan makam Sunan Kudus tepat di belakang bangunan limas Masjid Menara Kudus. Kompleks makam ini biasanya ramai dikunjungi peziarah pada saat menjelang Ramadan dan pada saat libur Lebaran.

4. Makam Sunan Muria

Kompleks makam yang terletak di Desa Colo yang berada di kaki Gunung Muria ini dulunya adalah tempat tinggal Sunan Muria. Anggota Wali Songo yang terkenal dengan cara berdkwahnya yang unik. Ia melakukan dakwah melalui kesenian. Ia meninggalkan dua warisan kesenian yang masih lestari hingga kini di yaitu tembang macapat Sinom dan Kinanti yang diciptakannya. Selain  dapat berziarah ke makam Sunan Muria, di sini Anda juga dapat berkunjung ke masjid yang didirikan sendiri oleh Sunan Muria.

4 dari 6 halaman

Wisata Religi di Makam Syekh Syadzali dan Air Tiga Rasa Syekh Syadzali

STOK A 10 Wisata Religi di Kudus yang Wajib Dikunjungi, Tapak Tilas Walisongo Berbalut Budaya
Perbesar
Makam Syekh Syadzali. (Liputan6.com/Isna Setyanova)

5. Makam Syekh Syadzali

Syaikh Maulana Hasan Asy Syadzali atau yang dikenal sebagai Syekh Syadzali. Ia merupakan tokoh penyebar agama Islam di Desa Japan, Kecamatan Dawe. Menurut pitutur masyarakat setempat, Syekh Syadzali merupakan murid dari Sunan Muria. Ia di makamkan di Rejenu, yang berlokasi di pegunungan Argo Jambangan atau sekitar tiga kilometer dari Pesanggrahan Gunung Muria.

6. Air Tiga Rasa Syekh Syadzali

Di kawasan makam Syekh Syadzili terdapat objek wisata air tiga rasa. Seperti namanya air memiliki tiga rasa yang berbeda. Ada air tawar, payau dan sedikit asin. Kendati ukuran sumber air tiga rasa tidak besar yaotu menyerupai sumur kecil. Sumber mata air ini dipercaya masyarakat sekitar dimanfaatkan oleh Syekh Syadzili dan para santrinya untuk berwudhu. Air tiga rasa ini menjadi objek wisata religi yang digandrungi masyarakat Kudus dan sekitarnya.

5 dari 6 halaman

Wisata Religi di Langgar Bubrah dan Gusjigang C-Building Museum Jenang

7. Langgar Bubrah

Langgar bubrah merupakan salah satu benda cagar budaya di Kudus. Bangunan yang terdiri dari tumpukan batu bata ini terletak di RT 2RW 4 Desa Demangan, Kecamatan Kota. Langar bubrah terdiri dari dua kata, yakni langgat dan bubrah. Masyarakat sekitar mengartikan langgar sebagai suarau atau musala. Sedangkan kata "bubrah" dimaknai sebagai "rusak" atau "berantakan". Jika digabungkan langgar bubrah memiliki makna sebagai musala atau surau yang rusak berantakan.

Penyebutan ini diberikan masyarakat sebab bangunan tersebut memiliki usia lebih tua dari Masjid Menara Kudus itu, nampak seperti surau atau musala yang belum jadi. Langar Bubrah mengindikasikan akulturasi budaya Hindu-Islam. Sebagai benda cagar budaya, sudah seharusnya benda ini dijaga kelestariannya.

8. Gusjigang C-Building Museum Jenang

Gusjigang, yang digunakan sebagai nama museum ini merupakan salah satu warisan ajaran Sunan Kudus yang menjadi falsafah hidup masyarakat Kudus. Gusjigang merupakan akronim kata bagus akhlaknya (spiritual), pintar mengaji (intelektual) dan pandai berdagang (enterpreneurship).

Museum milik Muhammad Helmy, yang terletak di Jalan Sunan Muria Nomor 33 Kudus ini bisa dibilang sebagai rekaman sejarah panjang Kota Kudus. Tak hanya soal industri jenang dan rokonya. Tetapi juga merangkum sejarah Kabupaten Kudus hingga ajaran Sunan Kudus.

Ada beberapa konten yang disajikan di Gusjigang X-Building Museum Jenang. Di antaranya literasi mengenai falsafah gusjigang, mulai dari sejarah singkat Sunan Kudus, Sunan Muria hingga karya sastra puisi tentang gusjigang.

Selanjutnya, ada relif tari gusjigang, pena dunia dan lukisan dekoratif tentang karakter orang Kudus. Berbagai kearifan lokal masyarakat Kudus, seperti terbang papat dan karya kaligrafi dari kaligrafer internasional juga ada di sana.

Selain menjadi wisata edukasi bagi masyarakat. Museum ini juga menyajikan banyak spot foto ciamik bagi pengunjung. Tak heran, jika kegiatan swafoto ria menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan wisatawan saat berkunjung ke museum ini.

6 dari 6 halaman

Wisata Religi di Air Tiga rasa Rejenu dan Klenteng Hok Tik Bio

9. Air Tiga rasa Rejenu

Air Tiga Rasa tepatnya berada di atas Air Terjun Monthel, di sebelah utara makam Sunan Muria. Air Tiga Rasa diyakini memiliki beberapa khasiat yang dipercayai oleh masyarakat. Dinamakan Air Tiga Rasa, karena masing-masing air memiliki rasa yang berbeda-beda. Sumber air yang pertama memiliki rasa tawar dengan sedikit rasa masam. Sumber mata air yang kedua mempunyai rasa seperti minuman bersoda, dan mata air yang ketiga memiliki rasa yang mirip seperti tuak.

10. Klenteng Hok Tik Bio

Kelenteng Hok Tik Bio atau Klenteng Tanjung Karang ini dibangun pada tahun 1741. Kelenteng ini adalah saksi sejarah orang tionghoa yang selamat dari pembantaian VOC di Batavia, lalu mereka membangun Klenteng ini bersama-sama.

Lanjutkan Membaca ↓