6 Penyebab Terjadinya Kekeringan dan Dampaknya bagi Kehidupan

Oleh Fakhriyan Ardyanto pada 09 Jun 2020, 12:40 WIB
Diperbarui 09 Jun 2020, 12:40 WIB
Wajah Bencana Kekeringan di Waduk Spanyol
Perbesar
Tanah kering yang terlihat di sekitar waduk Vinuela saat gelombang panas melanda wilayah La Vinuela di Spanyol selatan, Rabu (9/8). Eropa tengah dilanda gelombang panas Lucifer yang suhunya mencapai di atas 40 derajat Celsius. (JORGE GUERRERO / AFP)

Liputan6.com, Jakarta Penyebab terjadinya kekeringan cukup beragam dan berbeda di tiap daerahnya. Penyebab terjadinya kekeringan biasanya melalui proses alami, namun sayang semakin tahun semakin diperparah dengan kebiasaan buruk di tengah masyarakat.

Tentu saja kekeringan bisa terjadi karena adanya kebiasaan buruk tersebut, salah satunya kebiasaan membuang air bersih yang tidak terpakai. Mungkin hal tersebut disebabkan karena rasa aman dengan lingkungan tempat tinggal, yang bisa saja dirasa memiliki sumber air yang berlimpah.

Namun, sebenarnya berlimpahnya air di masa sekarang bukan berarti cadangan air tersebut tidak akan habis untuk masa yang akan datang. Mengingat, kondisi iklim di bumi juga sudah tidak menentu akibat dari Global Warming. Hal tersebut juga akan menjadi penyebab terjadinya kekeringan di lingkungan.

Kenapa? Dengan iklim yang tidak menentu, biasanya curah hujan juga akan terpengaruh, dan bisa saja dalam satu wilayah justru sama sekali tidak mendapatkan curah hujan yang cukup. Air hujan yang jatuh kebumi akan di serap oleh tanah. Air tersebut akan disaring dimana pada akhirnya akan menjadi sumber air baru bagi manusia.

Mungkin beberapa penyebab terjadinya kekeringan belum sepenuhnya Anda pahami, namun di bawah ini Liputan6.com telah merangkum apa saja sebenarnya penyebab terjadinya kekeringan yang patut diperhatikan, agar generasi yang akan datang dapat menikmati sumber air tersebut, Selasa (9/6/2020).

2 dari 8 halaman

1. Letak Geografis

Musim Kemarau, Tanah di Bantaran Kanal Barat Retak
Perbesar
Warga beraktivitas di sekitar Kanal Banjir Barat (KBB) yang mengalami kekeringan di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Jumat (12/7/2019). Musim kemarau yang terjadi di Ibu Kota menyebabkan debit air di KBB berkurang sehingga menimbulkan keretakan tanah di sekitarnya. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Indonesia berada tepat di garis khatulistiwa. Letak dari negara ini diapit 2 benua dan 2 samudera. Indonesia secara geografis juga terletak di daerah “monsoon” yang merupakan fenomena alam di mana sangat sering terjadi perubahan iklim secara ekstrem disebabkan perubahan tekanan udara dari daratan.

Perubahan tersebut menyebabkan “jet steam effect” dari lautan yang menghempas daratan dengan hawa panas. Hawa panas dan angin tersebut membuat banyak daerah yang awalnya memiliki kandungan air, menjadi kering. Hal tersebut diperparah apabila musim kemarau tiba.

3 dari 8 halaman

2. Minim Daerah Resapan

Wajah Bencana Kekeringan di Waduk Spanyol
Perbesar
Tanah di dasar waduk Guadalteba mengalami retak-retak akibat kekeringan saat gelombang panas melanda wilayah Los Campillos di Spanyol, Rabu (9/8). Eropa tengah dilanda gelombang panas Lucifer yang suhunya mencapai 40 derajat Celsius (JORGE GUERRERO / AFP)

Alih fungsi lahan terbuka hijau yang digunakan sebagai bangunan tempat tinggal mempengaruhi kondisi dari cadangan air di tanah. Wajar saja, ketika tanah yang mampu menyerap air hujan harus tertutup oleh beton yang mengakibatkan air tidak dapat meresap ke dalam tanah. Semakin sedikitnya cadangan air dalam tanah akan memberi dampak buruk berupa bencana kekeringan.

4 dari 8 halaman

3. Boros Air

Bendungan di Tunisia yang Kering
Perbesar
Tanah di dasar bendungan El-Haouareb mengalami retak-retak akibat kekeringan di dekat Kairouan, sekitar 160 km selatan Tunis, Tunisia, 13 Juli 2017. Wilayah ini mengalami kekeringan parah yang disebabkan oleh kemarau berkepanjangan. (FETHI BELAID/AFP)

Boros dalam penggunaan air tanah ternyata berimbas pada kekeringan di beberapa daerah. Dampak boros air tersebut semakin parah ketika kemarau tiba. Biasanya, penggunaan air berlebihan ini bisa disebabkan kebiasaan menggunakan air untuk rumah tangga yang berlebihan atau penggunaan air dalam jumlah besar oleh para petani untuk mengairi sawah. Jika dilakukan terus menerus akan berdampak pada habisnya cadangan air.

5 dari 8 halaman

4. Curah Hujan Rendah

Bendungan di Tunisia yang Kering
Perbesar
Tanah di dasar bendungan El-Haouareb mengalami retak-retak akibat kekeringan di dekat Kairouan, sekitar 160 km selatan Tunis, Tunisia, 13 Juli 2017. Wilayah ini mengalami kekeringan parah yang disebabkan oleh kemarau berkepanjangan. (FETHI BELAID/AFP)

Salah satu penyebab terjadinya kekeringan yang umum terjadi di Indonesia disebabkan oleh perubahan iklim yang membuat hujan menjadi jarang turun. Rendahnya curah hujan tersebut diakibatkan rendahnya tingkat produksi uap air dan awan. Apabila sangat hujan yang turun sangat sedikit, maka musim kemarau akan menjadi semakin lama dan kekeringan akan melanda.

6 dari 8 halaman

5. Kerusakan Hidrologis

Musim Kemarau, Tanah di Bantaran Kanal Barat Retak
Perbesar
Warga bersiap memancing di sekitar Kanal Banjir Barat (KBB) yang mengalami kekeringan di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Jumat (12/7/2019). Musim kemarau yang terjadi di Ibu Kota menyebabkan debit air di KBB berkurang sehingga menimbulkan keretakan tanah di sekitarnya. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Kerusakan hidrologis yaitu kerusakan fungsi dari wilayah hulu sungai karena waduk dan pada bagian saluran irigasinya terisi sedimen dalam jumlah yang sangat besar. Akibatnya, kapasitas dan daya tampung air akan berkurang sangat drastis dan hal tersebut akan memicu timbulnya kekeringan saat datangnya musim kemarau.

7 dari 8 halaman

6. Global Warming

ilustrasi kemarau dan kekeringan
Perbesar
(Foto: Tama66/Pixabay) Ilustrasi kemarau dna kekeringan.

Global warming atau yang berarti pemanasan secara global, memang telah menjadi penyebab terjadinya kekeringan terbesar tidak hanya di Indonesia, namun hampir di seluruh dunia. Memang, penyebab dari timbulnya Global Warming sangat beragam, mulai dari polusi kendaraan dan pabrik, hingga penggunaan berbagai zat kimia berbahaya.

8 dari 8 halaman

Dampak Terjadinya Kekeringan

Kemarau, Ratusan Kuda dan Kerbau di Bima Mati Mengenaskan
Perbesar
(Hans Bahanan/Liputan6.com)

Sudah pasti, selama ada penyebab pasti akan ada dampak yang ditimbulkan. Banyak sekali dampak yang mungkin ditimbulkan apabila tidak segera mengatasinya. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Sumber Air Bersih Berkurang

Apabila sumber air bersih berkurang, maka kaan berdampak pada berkurangnya konsumsi air minum yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dan ketika hal tersebu terjadi, maka akan menyebabkan dehidrasi. Kondisi tubuh yang dehidrasi sangat berbahaya jika terus-menerus dibiarkan. Salah satunya dapat menyebabkan kematian, mengingat air memang menjadi kandungan yang penting bagi tubuh untuk bertahan hidup.

Selain itu, kegiatan seperti mencuci, mandi, dan lain sebagainya juga akan berkurang dan membuat kegiatan sehari-hari terganggu. Akan ada efek domino yang timbul ketika kekeringan. Maka dari itu ada baiknya untuk selalu menjaga cadangan air yang ada di Bumi.

 

2. Banyak Tanaman Mati

Tanaman merupakan salah satu sumber kehidupan bagi manusia. Ketika musim kemarau datang, maka akan banyak tanaman mati karena tanaman tidak bisa mendapatkan sumber air untuk hidup. Hanya ada beberapa tanaman saja yang bisa bertahan hidup, seperti pohon jati dan kaktus.

 

3. Meningkatnya Polusi

Dampak selanjutnya ketika tanaman mati, maka polusii udara akan semakin merajalela. Hal tersebut disebabkan tidak ada tanaman yang berfungsi sebagai agen yang memproses gas karbondioksida untuk dijadikan oksigen bagi kehidupan manusia. Maka dari itu, mari bersama-sama mencegah berbagai penyebab terjadinya kekeringan tersebut, agar kehidupan dapat terus berjalan dan terhindar dari berbagai bencana.

Lanjutkan Membaca ↓